KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant

“Hack Yourself!”, Cara Mengubah Diri Menjadi Lebih Baik

Kompas.com - 27/03/2021, 08:03 WIB
Ilustrasi perubahan diri sendiri. Dok. ShutterstockIlustrasi perubahan diri sendiri.

KITA banyak mengenal istilah hacking yang berarti membobol jaringan, merusak, bahkan merampok. Dalam dunia sistem keamanan, banyak lembaga menyewa hackers untuk mencoba kekebalan sistem yang dibangun terhadap tindak pembobolan.

Kita memang yakin bahwa dengan perkembangan artificial intelligence, sistem pengamanan komputer semakin lama menjadi semakin canggih. Namun, para hacker pun tidak ketinggalan juga berkembang menjadi lebih canggih.

Sadar atau tidak, kita sebenarnya juga memiliki sistem perangkat lunak dan keras layaknya komputer yang mengatur reaksi-reaksi, emosi, dan alam pikiran kita. Bahkan, sistem yang ada di dalam diri kita merupakan sistem tercanggih dan belum dapat ditiru oleh artificial intelligence tercanggih di dunia sekalipun.

Kemampuan kita untuk bisa kreatif, berinovasi, dan mendapatkan ide out of the box adalah hasil kerja sistem yang ada di dalam otak kita. Demikian pula kekeraskepalaan atau ketidakinginan kita untuk berubah.

Kehidupan kita adalah alur-alur neurologis yang sudah berkarat di dalam sistem setiap individu sehingga membentuk kebiasaan-kebiasaan berpikir maupun bertindak.

Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa disadari kita kerap menjalankan fungsi autopilot dalam otak. Contoh yang konkret adalah kegiatan menyetir.

Kita sudah tidak memerintahkan tangan dan kaki untuk melakukan oper gigi, menyeimbangkan antara pedal gas dan rem pada sistem mobil manual, sampai mengerem ketika ada lampu merah. Semua bergerak otomatis. Kemampuan ini didapat dari kerja keras otak dan koordinasi motorik saat baru mencoba belajar menyetir.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Contoh menarik lainnya, kita bisa mengamati kebiasaan merokok orang. Kebanyakan orang tidak menyadari bagaimana ia belajar merokok, mulai dari jari mana yang digunakan untuk memegang rokok sampai bagaimana mengisap asapnya.

Tingkah laku tersebut dibentuk dari mengobservasi kebiasaan orang lain yang dilakukan terus-menerus. Sampai akhirnya, kebiasaan itu masuk ke alam bawah sadar dan membentuk perilaku merokok sendiri.

Old habits die hard

Rupanya, sistem saraf kita juga mengikuti paham Mick Jagger dalam lagunya “Old Habits Die Hard!”. Artinya, apa yang sudah berkarat dalam pikiran kita akan sulit untuk dihapus. Hal ini sering melatarbelakangi gejala yoyo effect pada orang yang ingin menurunkan berat badan.

Ada kalanya seseorang begitu bersemangat melakukan diet sehingga berat badan turun drastis. Kemudian, berat badan akan kembali naik. Pasalnya, pantangan makan yang dilakukan selama diet belum diterima sebagai gaya hidup baru yang akan dijalani sepanjang hidup. Pola makan baru ini hanya dianggap sebagai “keterpaksaan” dan hanya dijalani dalam kurun waktu tertentu.

Hal yang sama juga terjadi saat penerapan bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Pada awal masa pandemi, banyak pekerja menyambut gembira penerapan WFH karena mengira sistem ini hanyalah selingan sementara.

Namun, seiring waktu berjalan, sebagian besar pekerja merasa kelelahan dan stres karena ternyata banyak penyesuaian yang harus dilakukan. Banyak orang menanti-nantikan konsep "bekerja di kantor" segera terealisasi kembali.

Mindset itu bisa jadi menghambat semangat mereka untuk bekerja secara remote dan berkoordinasi melalui Zoom secara optimal. Kita juga menemui gejala yang sama pada orang-orang yang kurang latihan, kurang olahraga, dan selalu menemukan alasan untuk tidak melakukannya.

Yoyo effect bisa terjadi karena kita sudah terlalu nyaman dengan segala hal yang kita lakukan bertahun-tahun, seperti pola pikir dan pola makan. Kita pun membiarkan pola-pola ini bertahan terus dan tidak mempertimbangkan pola hidup lain yang mungkin terasa sulit untuk dimulai.

Eileen Rachman.Dok. EXPERD Eileen Rachman.

Sebagai contoh, kita sering mendengar kata-kata, seperti “saya tidak bisa bangun pagi”, “saya tidak bisa berhenti merokok”, “saya sudah terlalu tua untuk menggunakan komputer”, dan “sekarang saya tidak mengerti kehidupan digital”.

Mengapa kita sulit berubah? Fenomena ini ternyata bisa diterangkan secara fisiologis.

Bila kita sudah memiliki pola tertentu yang membuat nyaman, pola atau algoritma tersebut akan dipertahankan oleh bagian otak kita yang bernama basal ganglia. Bagian otak ini akan mengingat alur yang pernah kita buat. Semakin sering alur tersebut digunakan, basal ganglia akan semakin kuat.

Ketika kita mengganti perilaku, saraf otak berusaha membuat algoritma baru. Namun, basal ganglia akan berusaha mengembalikan pola yang lama agar kita merasa nyaman kembali.

Hal itu terjadi pada pola tingkah laku baik maupun buruk. Karena itulah, mengubah diri atau perilaku tidak semudah seperti membalik tangan saja. Sebab, pola lama akan bertahan dan tidak mau mengalah ketika otak ingin membentuk jalan baru.

Meretas sistem yang sudah terpola

Lantas, bagaimana cara meng-hack sistem yang sudah terpola?

Kita perlu mempersiapkan support system, baik secara material maupun sosial. Kita perlu memiliki sistem peringatan bila ada indikasi kembali pada pola yang lama.

Kita juga secara pribadi perlu memiliki hal yang menguatkan diri secara rasional. Misalnya, melakukan self-talk untuk meyakinkan diri bahwa perubahan akan membawa hal-hal yang lebih positif daripada pola lama yang kita anut.

Sebagai contoh, dalam berdiet, kita tidak sekadar melakukan pantang pada makanan tertentu, tetapi juga mempelajari mengenai pola makan sehat, nutrisi setiap makanan, sampai kepada cara pengolahannya. Oleh karena itu, ketika basal ganglia berusaha mengarahkan kita kembali ke pola lama, self-talk akan bekerja untuk melawannya.

Tidak ada perubahan yang bisa terjadi tanpa langkah pertama. Jadi, kuatkan mental dan yakinkan pentingnya kita untuk membenahi diri.

Tidak ada orang lain yang lebih bertanggung jawab terhadap perubahan kita, kecuali diri kita sendiri. Oleh karena itu, kitalah yang perlu menjaga betul pembentukan pola pikir dan perilaku yang sedang ingin kita bangun.

Kita juga tidak boleh ambisius dan mengharapkan perubahan drastis. Perubahan drastis akan mengejutkan keseluruhan sistem yang sudah berjalan dan malah menciptakan konflik yang menguras energi kita.

Target perubahan sebaiknya dirancang spesifik dan realistis sesuai dengan situasi yang kita miliki. Dengan begitu, target akan mudah diukur serta dijaga konsistensinya sehingga kebiasaan yang baru terbentuk kuat.


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya