Soal Impor Jahe Campur Tanah, Ini Alasan Pengusaha

Kompas.com - 31/03/2021, 19:36 WIB
Pembukaan segel pada kontainer yang memuat jahe impor tak memenuhi syarat karantina lantaran bertanah. Jahe sebanyak 108 ton dari Mnyanmar dan Vietnam ini dimusnahkan di PT Triguna Pratama Abadi, Karawang, Senin (22/3/2021). KOMPAS.COM/FARIDAPembukaan segel pada kontainer yang memuat jahe impor tak memenuhi syarat karantina lantaran bertanah. Jahe sebanyak 108 ton dari Mnyanmar dan Vietnam ini dimusnahkan di PT Triguna Pratama Abadi, Karawang, Senin (22/3/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi IV DPR RI mengungkapkan sebanyak 15 kontainer jahe impor bercampur tanah masuk ke Indonesia. Hal itu tak memenuhi ketentuan yang berlaku di Indonesia.

Alhasil, jahe-jahe yang sudah melewati batas waktu untuk dikembalikan ke negara asalnya itu, harus dimusnahkan.

Berdasarkan data Badan Karantina Pertanian (BKP) Kementan sebanyak 4 kontainer yang berisi 108 ton jahe impor asal Myanmar dan Vietnam yang masuk lewat Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dimusnahkan pada Senin (22/3/2021) lalu.

Baca juga: Produk Buah Segar Indonesia Kena Tarif Tinggi, Ini Upaya Kemenkop UKM

Sementara, sebanyak 11 kontainer berisi 287,7 ton jahe impor asal India dan Myanmar yang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dimusnahkan pada Jumat (26/3/2021) lalu.

Salah satu perusahaan importir tersebut adalah PT Mahan Indo Global, yang mengimpor sebanyak 1 kontainer dengan volume berkisar 26 ton jahe asal India.

Direktur Utama Mahan Indo Global Jaiprakash Soni mengaku rugi akibat pemusnahan jahe bercampur tanah itu. Sebab, biaya permusnahan seluruhnya ditanggung oleh pengusaha.

"Kemarin kami sudah kontrak dengan perusahaan yang memusnahkan, kami bayar mereka Rp 1.300 per kilogram," ujar dia dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI, Rabu (31/3/2021).

Ia menjelaskan, pada dasarnya perusahaannya adalah eksportir jahe selama 12 tahun dengan pasar ke Bangladesh. Namun, lantaran saat ini pasokan jahe dalam negeri kurang maka ia beralih ke impor.

Hal itu dilakukannya karena memang ada permintaan dari pasar untuk impor jahe. Jaiprakash bilang, kliennya ingin jahe yang masih bercampur tanah sebab dinilai lebih tahan lama.

"Informasi dari (klien di) Probolinggo kalau jahe di cuci itu tidak laku atau cepat rusak, dan bisa cek kalau di setiap rumah, jahe yang di cuci lalu taruh kulkas itu beberapa hari atau minggu pasti berjamur atau rusak," jelas dia.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X