Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Teknologi Bisa Tingkatkan Ekspor UMKM, Bagaimana Caranya?

Kompas.com - 04/04/2021, 08:09 WIB
Kiki Safitri,
Ambaranie Nadia Kemala Movanita

Tim Redaksi

BANDUNG, KOMPAS.com – Masalah-masalah klasik pada bidang manajemen, organisasi, teknologi, permodalan, operasional, dan teknis di lapangan, terbatasnya akses pasar, kendala perizinan, serta biaya-biaya nonteknis di lapangan yang cenderung sulit menjadi satu hal yang menghambat ekspor UMKM.

Deputi Bidang UKM KemenkopUKM Hanung Harimba Rachman mengatakan, jika diidentifikasi lebih dalam, beberapa permasalahan dan kesulitan usaha yang dihadapi, seperti permodalan 51,09 persen, pemasaran 34,72 persen, Bahan Baku 8,59 persen, Ketenagakerjaan 1,09 persen, distribusi transportasi 0,22 persen, dan masalah lain 3,93 persen.

Baca juga: 1.500 Pelaku UKM Akan Divaksinasi

"Dua target besar Kementerian Koperasi dan UKM terhadap KUMKM adalah peningkatkan ekspor yang signifikan dan masuk dalam rantai pasok nasional, regional dan global," kata Hanung dalam pembukaan Pelatihan Ekspor Bagi UKM/Start Up di Bandung, akhir pekan ini.

Pemasaran menjadi hal terpentung menurut Hanung, sebab UMKM di masa depan harus bisa merespon pasar, dengan memiliki kecakapan di bidang teknologi, kreasi, inovasi, unruk menjawab kebutuhan pasar.

"Dari pengalaman, UMKM mampu bertahan adalah yang terhubung dengan ekosistem digital, dengan memanfaatkan platform e-commerce, marketplace. Sudah saatnya UMKM bertransformasi ke digital. Penetrasi digitalisasi, bagi UMKM akan mendapatkan margin lebih dan memangkas mata rantai penjualan,'' tegas Hanung.

Tantangan lainnya, keterbatasan skala kapasitas usaha dan standarisasi produk, tingginya biaya transaksi, kontrak, dan rendahnya akses pembiayaan dimana hanya 19,41 persen yang terakses dengan lembaga pembiayaan dan tingginya biaya logistik.

Baca juga: KoinWorks Genjot Penyaluran Pembiayaan UKM Jelang Ramadhan

Hanung mengatakan, dengan membeli, dan menggunakan produk UKM akan menunmbuhkan tekad dalam meningkatkan ekspor UKM di Indonesia.

Ia menambahkan, dengan pelatihan ekspor bagi UKM atau Start Up, akan lebih mudah mewujudkan 500.000 eksportir hingga tahun 2030.

Menurut Hanung, rendahnya kinerja ekspor UMKM Indonesia dilatarbelakangi oleh beberapa tantangan. 

Tantangan tersebut antara lain akses terhadap informasi pasar sangat rendah, serta baru 16 persen UMKM yang terhubung dengan ekosistem digital.

Baca juga: Menkop UKM Ajak IMA Bersinergi Dukung UMKM Masuk E-commerce

Sejauh ini, jumlah UMKM yang lebih dari 64 juta unit usaha, hanya mampu berkontribusi terhadap ekspor sebesar 14,37 persen dibandingkan dengan usaha besar yang berjumlah 5.550 unit usaha, dengan kontribusi terhadap ekspor sebesar 85,63 persen.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

[POPULER MONEY] Kominfo Bantah Beri Karpet Merah ke Starlink | Ditransfer Uang Pinjol Ilegal, Ini yang Harus Dilakukan

[POPULER MONEY] Kominfo Bantah Beri Karpet Merah ke Starlink | Ditransfer Uang Pinjol Ilegal, Ini yang Harus Dilakukan

Whats New
Diperintah Jokowi Akusisi Perusahaan Kamboja, Dirut Bulog: Pembicaraan Sudah Dilakukan

Diperintah Jokowi Akusisi Perusahaan Kamboja, Dirut Bulog: Pembicaraan Sudah Dilakukan

Whats New
OJK: Kredit Macet 15 'Fintech Lending' di Atas 5 Persen

OJK: Kredit Macet 15 "Fintech Lending" di Atas 5 Persen

Whats New
Semakin Banyak Negara Adopsi ETF, Minat Aset Kripto Bakal Kembali Meningkat

Semakin Banyak Negara Adopsi ETF, Minat Aset Kripto Bakal Kembali Meningkat

Whats New
Penyeludupan Benih Lobster, Menteri KKP: Triliunan Rupiah Harta Bangsa Ini Melayang...

Penyeludupan Benih Lobster, Menteri KKP: Triliunan Rupiah Harta Bangsa Ini Melayang...

Whats New
Izin Usaha Dicabut, TaniFund Belum Punya Tim Likuidasi

Izin Usaha Dicabut, TaniFund Belum Punya Tim Likuidasi

Whats New
Perkuat Ekosistem Perhajian, BPKH Akan Bentuk 'Subholding Company' Anak Usaha

Perkuat Ekosistem Perhajian, BPKH Akan Bentuk "Subholding Company" Anak Usaha

Whats New
Jadi Salah Satu Pengawas BP Tapera, Ini yang Bakal Dilakukan OJK

Jadi Salah Satu Pengawas BP Tapera, Ini yang Bakal Dilakukan OJK

Whats New
Bidik Pendanaan Rp 1 Triliun, CIMB Niaga Finance Tawarkan Sukuk Wakalah Bi Al-Istitsmar

Bidik Pendanaan Rp 1 Triliun, CIMB Niaga Finance Tawarkan Sukuk Wakalah Bi Al-Istitsmar

Whats New
Integrasi Infrastruktur Pipa Perlancar Penyaluran Gas ke Industri dan Komersial di Jateng

Integrasi Infrastruktur Pipa Perlancar Penyaluran Gas ke Industri dan Komersial di Jateng

Whats New
Soal Komisaris Pertamina, Stafsus Erick: Jangan Curiga-curiga Dulu Lah...

Soal Komisaris Pertamina, Stafsus Erick: Jangan Curiga-curiga Dulu Lah...

Whats New
80 Juta Pekerjaan Akan Hilang Imbas AI, Kemenko Perekonomian: Pekerjaan di Sektor Administrasi Rentan

80 Juta Pekerjaan Akan Hilang Imbas AI, Kemenko Perekonomian: Pekerjaan di Sektor Administrasi Rentan

Whats New
Kecepatan Internet RI Peringkat Bawah di ASEAN, Bisa Hambat Pengembangan Ekonomi Digital

Kecepatan Internet RI Peringkat Bawah di ASEAN, Bisa Hambat Pengembangan Ekonomi Digital

Whats New
Politisi Gerindra Siti Nurizka Jadi Komut Pusri, Stafsus Erick Thohir: Sudah Mundur dari Anggota DPR

Politisi Gerindra Siti Nurizka Jadi Komut Pusri, Stafsus Erick Thohir: Sudah Mundur dari Anggota DPR

Whats New
Lesu, Boeing Cuma Dapat Pesanan 4 Pesawat Baru pada Mei 2024

Lesu, Boeing Cuma Dapat Pesanan 4 Pesawat Baru pada Mei 2024

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com