Menperin: PMI Manufaktur Indonesia Berada di Titik Agresif

Kompas.com - 06/04/2021, 12:16 WIB
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengunjungi PT Krakatau Steel di Cilegon, Banten, Kamis (25/3/2021). Dokumentasi Humas Kementerian PerindustrianMenteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengunjungi PT Krakatau Steel di Cilegon, Banten, Kamis (25/3/2021).
|

JAKARTA, KOMPAS - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, nilai Purchasing Managers Indeks (PMI) Manufaktur Indonesia pada bulan Maret 2021 kemarin menjadi nilai yang paling tinggi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Dia menyebutkan PMI Manufaktur Indonesia pada Maret 2021 berada di angka 53,2 poin.

"Angka ini telah meningkat sebesar 2,3 poin dari bulan Februari 2021 kemarin dan peningkatan PMI di Maret menjadi titik tertinggi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. PMI manufaktur kita berada di titik agresif yaitu titik ekspansif," ujarnya dalam Hannover Messe 2021 Agro-based Industry yang disiarkan secara virtual, Selasa (6/4/2021).

Baca juga: Lowongan Kerja BTN April 2021, Cek Syaratnya

Tak hanya itu, Agus menyebutkan dari sisi nilai penanaman modal, berdasarkan data dari BKPM, sektor industri berhasil merealisasikan penananaman modal sepanjang Januari-Desember 2020 sebesar Rp 272,9 triliun, atau menyumbang 33 persen dari total nilai investasi nasional yang mencapai Rp 826,3 triliun.

Realisasi investasi ini pun, kata Agus, telah berhasil tumbuh sebesar 26 persen dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 216 triliun.

Agus menilai peningkatan yang terjadi pada penanaman modal dan PMI menunjukkan adanya pemulihan ekonomi Indonesia yang semakin cepat dan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi pada 2021.

Pemerintah menargetkan Indonesia bisa masuk dalam daftar 10 negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada 2030.

Salah satu cara untuk menggenjot pertumbhan ekonomi yakni dengan menerapkan peta jalan making Indonesia 4.0 atau revolusi industri 4.0.

Baca juga: Menkes Pastikan Vaksinasi Kembali Masif di Bulan Mei Usai India Embargo Vaksin

Menurut Agus, revolusi 4.0 ini merupakan salah satu transformasi menuju perbaikan dengan mengintegrasikan internet dengan produksi di sektor industri.

"Di mana semua proses industri bisa berjalan dengan internet sebagai penopang utamanya," ucapnya.

Penerapan industri 4.0 juga diharapkan bisa meningkatkan produktivitas dan inovasi, mengurangi biaya produksi dan meningkatkan ekspor dalam negeri yang pada intinya bisa meningatkan daya saing produk sendiri.

Baca juga: 2 Hari Lagi Hangus, Peserta Kartu Prakerja Gelombang ke-13 Segera Ambil Pelatihan!



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X