[KURASI KOMPASIANA] Potret Pendidikan Perempuan terhadap Kepemimpinan Perempuan | Masih Banyak Perempuan Belum Merdeka

Kompas.com - 06/04/2021, 13:23 WIB
Guru membagikan buku pelajaran kepada pelajar pada hari pertama sekolah tatap muka di SD Negeri 42, Banda Aceh, Aceh, Senin (4/1/2021). Mayoritas lembaga pendidikan tingkat SD, SMP dan SMA di provinsi Aceh mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan sistim bergiliran dan menerapkan protokol kesehatan secara ketat untuk mencegah penularan Covid-19. ANTARA FOTO/IRWANSYAH PUTRAGuru membagikan buku pelajaran kepada pelajar pada hari pertama sekolah tatap muka di SD Negeri 42, Banda Aceh, Aceh, Senin (4/1/2021). Mayoritas lembaga pendidikan tingkat SD, SMP dan SMA di provinsi Aceh mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan sistim bergiliran dan menerapkan protokol kesehatan secara ketat untuk mencegah penularan Covid-19.

KOMPASIANA---Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) pada 2016 mengeluarkan survei mengenai pendidikan perempuan.

Hasilnya, rata-rata perempuan hanya mendapat pendidikan sampai kelas 2 sekolah menengah pertama (SMP) saja.

Selain itu, dari data Badan Pusat Statistik (BPS) 2019 menunjukkan, angka melek huruf pada perempuan lebih rendah dari laki-laki dengan berada di angka 94,33 persen, sedangkan laki-laki 97,48 persen.

Berkaca dari data tersebut, kesadaran untuk untuk memperluas kesempatan pendidikan bagi perempuan perlu ditingkatkan.

Sebab, hal itu memiliki dampak positif yang cukup signifikan, seperti mengurangi kesenjangan hingga mengakhiri kemiskinan, bagi masyarakat dan bangsa Indonesia sendiri.

Pembahasan mengenai pendidikan perempuan menjadi salah topik populer di Kompasiana. Berikut konten-kontennya:

1. Potret Pendidikan Anak Perempuan terhadap Kepemimpinan Perempuan

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kompasianer Bayu Samudra mengatakan, sebagian kecil masyarakat masih menganggap perempuan tidak layak berpendidikan.

Bahkan, menurutnya, perempuan tak mendapat sambutan hangat ketika memilih menuntaskan pendidikan wajib belajar dua belas tahun.

Dikatakannya, pendidikan anak perempuan harus sejajar, sama rata dengan pendidikan anak laki-laki. Pendidikan tidak mengenal jenis kelamin.

Pendidikan itu universal. Menurutnya pendidikan diperuntukkan untuk siapa saja, diberikan kepada semua orang tanpa melihat jenis kelamin, suku, agama, bangsa, dan negara.

"Kenyataan di lapangan, perempuan kadang diperlakukan tidak sama dengan laki-laki," tulisnya. (Baca selengkapnya)

2. Masih Banyak Perempuan Belum Merdeka

Kompasianer Redemptus Ukat mengatakan, di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Kabupaten Belu, akan dengan mudah ditemui ibu-ibu yang buta huruf atau yang tidak sekolah sama sekali.

Mereka ini, menurutnya, adalah ibu-ibu rumah tangga yang sibuk mengurus anak-anak dan aktivitas rumah tangga lainnya.

Selain itu, dikatakannya, di sana sangat mudah menemukan ibu-ibu yang hanya mengenal angka dan uang.

Umumnya ibu-ibu ini adalah yang setiap hari berjuang dengan barang dagangannya atau hasil tenunannya di pasar.

"Melihat kenyataan ini saya menemukan 2 faktor utama yang menyebabkan perempuan di NTT terlambat menyadari kesamaan hak mereka dengan laki - laki," katanya. (Baca selengkapnya)

3. Ketika Stereotip (Masih) Menjadi Penghalang bagi Pendidikan Perempuan

Percaya atau tidak stereotip itu masih melekat di pedesaan.

Selain itu, ada mitos jika perempuan menolak lelaki yang datang untuk melamar maka ia akan kesulitan menemukan jodoh ke depannya.

Stereotip yang melekat ini faktanya menghambat banyak anak perempuan untuk bersekolah hingga ke jenjang sarjana.

Data Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama mencatat 34 ribu permohonan dispensasi kawin (menikah di bawah umur 19 tahun) dari bulan Januari-Juni 2020.

Dari jumlah tersebut, 97% dikabulkan dan 60% yang mengajukan adalah anak di bawah 18 tahun. (Baca selengkapnya)



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.