[POPULER DI KOMPASIANA] Royalti Memutar Lagu | Kena Ghosting Rekruter | Patah Hati dan Lagu "Hey Jude"

Kompas.com - 10/04/2021, 16:16 WIB
Ilustrasi musik shutterstockIlustrasi musik

KOMPASIANA---Pada pekan ini warganet aktif sekali membahas aturan Pemerintah yang telah meresmikan pembayaran royalti musik dan lagu kepada setiap orang yang menggunakannya untuk kepentingan komersial.

Hal tersebut karena Presiden Joko Widodo sudah menandatangani aturan terkait pengelolaan royalti hak cipta lagu atau musik.

Untuk sekadar diketahui, royalti tersebut akan diberikan kepada pencipta, pemegang hak cipta, pemilik hak yang lagu atau musiknya digunakan komersial.

Oleh karena itu, karena telah adanya aturan tersebut maka kafe, diskotek hingga bazar yang memutarkan musik untuk keperluan komersial akan dikenakan tarif royalti lagu atau musik.

Lantas, bagaimana dengan usaha/layanan publik lain yang juga menggunakan lagu maupun musik sebagai bagian dari bisnisnya, radio misalnya?

1. Royalti Memutar Lagu dan Posisi Tawar Radio

Royalti memutar lagu di stasiun radio itu, menurut Kompasianer Hony Irawan sebenarnya bukan aturan baru.

Hanya saja, lanjutnya, belum ditegakkan juga ada semacam saling pengertian antara pencipta, penyanyi, aranger dan produser dengan pengelola radio.

Sehingga dengan adanya aturan royalti musik ini tidak seperti pada stasiun televisi, radio, dan sebagainya yang secara rutin telah dikenakan aturan tersebut.

Karena pengaruh radio yang sebelumnya cukup besar dalam promosi, justru jadi "media berbayar" untuk memasarkan album atau single lagu/musik tersebut.

Akan tetapi jika melihat kondisi saat ini menurut Kompasianer Hony Irawan stasiun radio daerah yang kue iklannya sangat kecil, yang di kota besar seperti Jabotabek saja sedang menghadapi kebingungan.

"Padahal memutar rangkaian lagu nonstop dengan sedikit ocehan penyiar sudah jadi menu yang belakangan jadi andalan radio dalam mempertahankan pendengar sekaligus izin siar," tulisnya. (Baca selengkapnya)

2. Sering Kena Ghosting Rekruter, Bisa Jadi Kamu "Overqualified"

Pernah merasa punya kualifiasi yang dibutuhkan oleh sebuah perusahaan, tapi masih belum mendapat kerja juga?

Jika ada yang merasa hal tersebut, menurut Kompasianer Sigit Eka Pribadi bahwa seorang calon karyawan masuk dalam kategori overqualified.

"Umumnya kenapa suatu kantor ataupun perusahaan menolak kandidat karyawan yang overqualified ini, yaitu karena tidak mampu memenuhi ekpektasi terhadap kepantasan pekerjaan ke depannya," tulis Kompasianer Sigit Eka Pribadi.

Sehingga suatu kantor ataupun perusahaan jadi agak ragu: apakah dengan pekerjaan yang diberikan dan besaran gaji ataupun penghasilan yang nanti diberikan ini? (Baca selengkapnya)

3. Ini Cara Saya Mendidik Anak Perempuan

Sebelum dikaruniai 2 anak perempuan, Kompasianer Trian Ferianto sudah terlebih dulu belajar hingga sekarang untuk tahu bagaimana mesti mendidiknya ke depan

Jadi, sebagai orangtua terus menuntutnya untuk terus belajar seperti berdiskusi, menghadiri pertemuan, mendengar, dan membaca.

Ada 3 hal yang bisa dipelajari dalam mendidik, yaitu akal, rasa, dan karsa.

"Ketiganya adalah elemen yang saling terkait dan tak bisa dipisah. Olah akal, olah rasa, dan olah karsa menopang satu sama lain," tulis Kompasianer Trian Ferianto. (Baca selengkapnya)

4. Kisah Mendebarkan: Menuju Wisma Atlet Kemayoran

Kompasianer Bamby Cahyadi menceritakan bagaimana proses setelah dinyatakan positif untuk melakukan isolasi di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta.

Sambil menunggu kabar hasil test swab, Kompasianer Bamby Cahyadi menghubungi beberapa orang yang berkaitan dengannya di kantor.

Untunglah atasannya tidak hanya memotivasinya untuk tidak perlu panik, tapi juga memberitahu prosedur untuk isolasi mandiri di Wisma Atlet.

"Sambil beliau menambahkan, Wisma Atlet adalah tempat yang sangat layak untuk isolasi mandiri dan melakukan perawatan, karena di sana fasilitasnya lengkap dan gratis," tulis Kompasianer Bamby Cahyadi, mengingat pesan dari atasannya tadi.

Di ruang khusus yang disediakan oleh pihak puskesmas tampak ada 15 orang yang menunggu. Mereka adalah orang-orang positif Covid yang akan diantar ke Wisma Atlet. (Baca selengkapnya)

5. Di Balik Lagu "Hey Jude", Ayo Move On Julian Lennon!

Dari beberapa lagu yang hits dari The Beatles, ada lagu yang dibuat Paul McCartney khusus untuk Julian Lennon untuk move on, judulnya: Hey Jude.

Pasalnya, sebagaimana ditulis Kompasiaener Tonny Syiariel, Julian tengah patah hati menghadapi kenyataan pahit akibat perceraian Ayah-Ibunya, John Lennon dan Cynthia Powell.

Patah hati memang tidak monopoli pasangan yang putus cinta. Perasaan merana ini juga bisa menimpa siapa saja. Baik di dalam lingkungan pekerjaan, maupun di dalam keluarga yang tidak lagi harmonis.

"Lagu "Hey Jude" sejatinya ditujukan untuk menghibur Julian Lennon. Sebagai seorang paman yang baik, McCartney ingin menasehati Julian agar mau menerima kenyataan ini, meskipun pahit," tulis Kompasiaener Tonny Syiariel. (Baca selengkapnya)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.