Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Teten Masduki: Inovasi Gula Cair Bisa Atasi Defisit Gula 3 Juta Ton

Kompas.com - 12/04/2021, 11:31 WIB
Kiki Safitri,
Erlangga Djumena

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mendukung inovasi gula cair guna mengatasi persoalan defisit gula sekitar 3 juta ton di Indonesia. Hal ini mengingat rata-rata konsumsi gula nasional sebesar 5,1 juta ton sementara produksi gula nasional hanya 2,1 juta ton sehingga Indonesia saat ini menjadi negara pengimpor gula terbesar di dunia.

Dalam kunjuangannya ke pusat produksi gula cair PT Gula Energi Nusantara (GEN) di Klaten, Jawa Tengah, Teten mengatakan bahwa dengan mengubah gula kristal menjadi cair, kapasitas produksi gula menjadi naik berkali lipat.

“Jadi saya kira dengan keterbatasan lahan tebu sekarang maka teknologi pengolahan gula cair yang ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk mencapai kita swasembada gula. Oleh karena itu, ini satu hal yang luar biasa dari usaha kecil menengah yang bisa kita kembangkan kapasitas produksinya,” ujar Teten dalam siaran pers, dikutip Senin (12/4/2021).

Baca juga: Faisal Basri Ungkap Ironi Negeri Subur Pengimpor Gula Terbesar Sejagat

Teten mengatakan, jika gula kristal atau gula pasir selama ini hanya memanfaatkan kandungan sukrosa dari perasan tebu, gula cair memanfaatkan semua bagian yang sebelumnya dianggap limbah.

Gula cair yang diproduksi juga lebih sehat karena kadar gula rendah atau low glychemic index (LGI) dan kandungan antisoksidan tinggi.

Menurut Teten, Direktur UKM PT GEN Joko Budi Wiryono menghabiskan riset hingga 10 tahun untuk menemukan inovasi gula cair yang disebut dengan teknologi Gulanas.  Dia bekerja sama dengan peneliti IPB dan kalangan medis untuk mendapatkan paten dari Kementerian Hukum dan HAM.

“Ide besar yaitu mengembangkan gula nasional dengan mengurangi impor dengan hanya mengalihfungsi dari gula pasir ke gula cair. Pak Joko mengembangkan prototipe pengolahan dan mengembangkan teknologi produksinya. Temuan Joko bisa menjadi solusi untuk kebutuhan gula nasional bahkan dunia,” ujar Teten.

Baca juga: Impor Gula 75.000 Ton, RNI Amankan Stok Jelang Puasa dan Lebaran

Teten bilang, pengembangan kapasitas produksi gula cair oleh PT GEN bisa menambah suplai bagi kebutuhan dalam negeri, sekaligus untuk mengurangi impor. Pengembangan kapasitas produksi gula ini dapat didukung dalam bentuk investasi, maupun pembiayaan pemerintah melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta pendampingan yang melibatkan stakeholders terkait.

“Dengan KUR bisa sampai Rp 20 miliar, dengan grace period yang cukup panjang, dengan bunga yang sangat kompetitif juga saya kira bisa dibiayai dari perbankan. Nanti mungkin dilakukan adalah pendampingan dari kami dan mungkin kami juga akan mengajak Kementerian BUMN dan Perindustrian untuk bersama-sama mengembangkan prototipe pabrik yang dikembangkan oleh Pak Joko,” katanya.

PT GEN mengembangkan prototipe R&D teknologi proses pengolahan gula cair tebu. Dengan campur tangan berbagai pihak, perusahaan ini berpotensi memproduksi 8,4 juta ton gula. Dengan demikian, Indonesia yang tadinya mengalami defisit 3 juta ton diyakini bisa swasembada, sehingga dengan sendirinya akan mengurangi ketergantungan impor.

“Kita bisa swasembada kalau dengan ide besar Pak Joko, saya dukung supaya betul-betul kita bisa swasembada gula dengan mengolah lahan tebu yang eksisting saat ini, tapi nanti kita perluas,” tambah Teten.

Baca juga: RI Rajin Impor Gula, Importir Pemburu Rente Dapat Untung Berapa?

Kondisi ini menurut Teten berbanding terbalik ketika tahun 1934 silam. Saat itu, justru Indonesia mengalami surplus gula bahkan Indonesia tercatat sebagai negara eksportir gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba. Pada zaman VOC hingga kolonial Belanda pada abad ke-17 hingga ke-18, ada 400-an pabrik gula. Namun, saat ini hanya tersisa 40-an unit dengan kapasitas produksi menengah hingga besar.

Sementara Joko menjelaskan pengembangan bahwa produksi gula cair ini untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional, melalui pengembangan produk hasil olahan tebu dan palm beserta turunannya.

“Ada tren produksi gula di Indonesia terus menurun. Sedang tren impor gula terus naik. Kalau tren ini diteruskan, maka Indonesia tidak akan pernah swasembada gula dalam waktu 50 tahun sampai 100 tahun ke depan,” kata Joko.

Baca juga: Tidak Dapat Pasokan Gula Rafinasi, Sejumlah Industri Mamin Tutup Operasi

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com