Menko Luhut Targetkan Emisi Gas Rumah Kaca Turun 314 Juta Ton di 2030

Kompas.com - 16/04/2021, 21:43 WIB
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meninjau proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Senin (12/4/2021). Humas Kemenko Bidang Kemaritiman dan InvestasiMenteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meninjau proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Senin (12/4/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memastikan, pemerintah berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) melalui energi terbarukan.

Hal itu diungkapkannya dalam Dialog Iklim Tingkat Tinggi Tri Hita Karana yang bertajuk Transisi Energi Bersih Indonesia dan Ambisi Iklim untuk Emisi Nol Bersih secara virtual pada Kamis (15/4/2021).

Luhut mengatakan, pemerintah saat ini tengah mengupayakan terwujudnya pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan serta mewujudkan emisi nol bersih.

Baca juga: Luhut Minta KPK Pelototi Setiap Mega Proyek Pemerintah

"Sampai saat ini gugus tugas lintas kementerian sedang menyiapkan peta jalan NDC (Nationally Determined Contributions atau kontribusi yang ditentukan secara nasional) untuk Presiden,” ujar Luhut dikutip dari keterangan tertulisnya, Jumat (16/4/2021).

Ia menjelaskan, Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen dengan menggunakan sumber daya dalam negeri, serta hingga 41 persen dengan bantuan internasional pada tahun 2030.

Bantuan ini baik berupa keuangan, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas dengan skenario bisnis seperti biasa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Kami berencana mengurangi (gas rumah kaca) 198,27 juta ton pada tahun 2025 dan hingga 314 juta ton pada tahun 2030,” ungkapnya.

Luhut mengatakan, sektor energi sendiri menyumbang 11 persen dari 29 persen dalam NDC untuk berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca.

Sektor ini berkomitmen mengurangi emisi sekitar 314-398 juta ton CO2 atau sekitar 38 persen pada tahun 2030 melalui energi terbarukan pengembangan, efisiensi energi, dan konservasi energi.

Menurutnya, saat ini pemerintah tengah merancang bauran energi nasional untuk dapat mencapai 23 persen dari Energi Baru dan Terbarukan (EBT) pada tahun 2025 dan 31 persen pada tahun 2050.

Baca juga: Luhut: Rare Earth Banyak Diekspor Secara Ilegal

Strategi energi terbarukan itu meliputi panas bumi, tenaga air, solar PV, bioenergi, dan angin.

Ia bilang, pemerintah akan melakukan segala upaya untuk mempercepat kemajuan, termasuk menjajaki kemungkinan mencapai emisi nol bersih lebih awal dari yang direncanakan.

Luhut pun menilai, Bali, Danau Toba dan kawasan ekonomi khusus lainnya dapat menjadi percontohan upaya percepatan tersebut.

"Kami berkomitmen untuk mempercepat pengembangan proyek energi terbarukan di Indonesia dan membuka calon investor untuk berpartisipasi dalam proyek energi terbarukan di masa depan,” pungkas Luhut.

Baca juga: Bangun Infrastruktur di Bengkulu, Luhut Minta Ada Studi Komprehensif



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X