Kompas.com - 18/04/2021, 20:02 WIB
Ilustrasi : Bursa Efek Indonesia KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGIlustrasi : Bursa Efek Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menyebutkan sejumlah sentimen yang akan mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pekan ketiga di bulan April 2021.

Salah satu sentimen berasal dari faktor pertumbuhan ekonomi China pada kuartal I-2021 yang akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia, seperti nilai ekspor.

"Kebangkitan ekonomi China pada kuartal I-2021 akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi China akan langsung terasa pada sisi ekspor, terutama dari sisi permintaan akan meningkat sehingga akan berdampak langsung terhadap ekspor Indonesia ke China. Ini merupakan sinyal positif bahwa pemulihan ekonomi di dalam negeri bisa dilakukan dengan cepat," ujarnya melalui keterangan tertulis diterima Kompas.com, Minggu (18/4/2021).

Sentimen positif lainnya berasal dari Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan akan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga rendah dan kemungkinan tidak berubah sampai akhir tahun ini.

Kebijakan tersebut dinilai akan mendukung pemulihan ekonomi, sambil menjaga stabilitas pasar keuangan.

BI diperkirakaan akan mempertahankan 7 days reverse repurchase rate (7DRRR) di level 3,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada pekan depan. Dengan demikian, IHSG berpeluang menguat pekan ini dengan support di level 6.029 sampai 5.883 dan resistance di level 6.115 sampai 6.230.

Baca juga: Ada Relokasi VMS, Jasa Marga Lakukan Buka Tutup Jalan Tol Jakarta-Cikampek

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara dari sisi eksternal, Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) melaporkan penjualan ritel periode Maret 2021, tumbuh 9,8 persen. Data ini melebihi konsensus Dow Jones yang memprediksi akan ada kenaikan penjualan ritel sebesar 6,1 persen.

Ini merupakan kenaikan terkuat sejak Mei 2020, akibat adanya stimulus fiskal tambahan dari pemerintah berupa bantuan tunai sebesar1.400 dollar AS sehingga membuat belanja konsumen melonjak.

Departemen Tenaga Kerja AS juga melaporkan jumlah klaim pengangguran baru mingguan untuk periode hingga 10 April tercatat hanya 576.000 orang, jauh lebih rendah dari konsensus Dow Jones sebesar 710.000. Klaim tunjangan pengangguran di AS, untuk pertama kali turun ke posisi terendah sejak Maret 2020. Data ekonomi AS yang baik menjadi katalis kenaikan pasar saham.

Wall Street turut mempengaruhi pergerakan IHSG, karena adanya laporan laba emiten-emiten blue chips yang dirilis serta data ekonomi AS yang membaik sebagai sinyal pemulihan ekonomi. Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun juga menurun di level 1,529 persen. Ini level terendah dalam 5 pekan terakhir dan jauh di bawah posisi tertinggi 14 bulan terakhir di level 1,766 persen yang terjadi pada akhir Maret 2021.

Penurunan yield ini didorong oleh pembelian Jepang seiring dimulainya tahun finansial baru. Selain itu, pelaku pasar masuk kembali membeli obligasi AS yang sudah terdiskon sejak awal tahun. Yield yang stabil dan cenderung turun menjadi katalis positif bagi saham-saham teknologi yang mengandalkan pertumbuhan dan cenderung mendorong pasar saham negara berkembang naik.

Baca juga: Tutup Bisnis Perbankan Ritel, Ini Nasib Nasabah dan Karyawan Citigroup



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.