KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant

Kekuatan Storytelling

Kompas.com - 24/04/2021, 08:40 WIB
Ilustrasi storytelling Dok. ShutterstockIlustrasi storytelling

SAYA memiliki teman seorang eksekutif yang sangat cemerlang serta memiliki wawasan dan pengetahuan yang sangat luas. Namun, ketika presentasi, materi yang ia sampaikan justru terasa dingin dan kaku.

Tidak ada pembicaraan yang bisa membuat presentasinya lebih berwarna dan hidup. Akibatnya, walaupun pendengar biasanya setuju dengan yang dikemukakan dalam presentasi, teman saya sulit menjadi sahabat atau diingat pendengarnya.

Mengapa bisa demikian? Alasannya sederhana. Presentasinya tidak diberi “bumbu” yang dapat memancing imajinasi audiens. Alhasil, mereka harus berkonsentrasi penuh untuk menyerap kata-kata, angka, dan data yang disajikan.

Kemampuan manusia dalam menyerap informasi berupa angka dan data memang tidak terlalu bagus. Berdasarkan studi Profesor Jennifer Aaker dari Universitas Stanford, hanya 5 persen dari mahasiswa yang ia teliti dapat mengingat angka-angka statistik. Sementara, 63 persen mahasiswa justru dapat mengingat cerita.

Beragam penelitian mengenai memori manusia juga membuktikan bahwa fakta-fakta kritis, data, dan analisis akan lebih menggugah emosi bila dikaitkan dengan cerita tertentu. Bahkan, penyajian materi dengan cara demikian dapat lebih menggerakkan orang untuk mengambil tindakan.

Data memang dapat memengaruhi orang, tetapi tidak bisa menginspirasi sampai membuat orang bertindak. Sementara itu, cerita dapat menembus area yang tidak sanggup digapai analisis kuantitatif, yaitu hati kita.

Sebuah cerita dapat membuat hati membara dan mengarahkan jiwa. Terlihat, betapa ampuhnya cerita dalam memengaruhi orang di segala bidang, mulai dari menjual produk, mengajar, hingga menyebarluaskan agama dan ideologi.

Storytelling merupakan keterampilan yang sudah ada sejak dahulu kala. Sebelum ada buku, surat kabar, telepon, dan telegram, apalagi internet, nenek moyang kita sudah menceritakan dongeng kepada anak cucunya.

Kita pasti senang dengan cerita yang bagus. Bila mendengarnya, kita akan menyimak, berimajinasi, dan mengingatnya. Bahkan, kita dapat menceritakannya kembali beberapa tahun kemudian bila cerita tersebut berkesan bagi kita.

Riset menunjukkan, cerita dapat menyentuh pusat-pusat sensori di dalam otak pendengar sehingga membuat mereka seolah-olah masuk dalam cerita tersebut dan mengalaminya sendiri.

Oleh karena itu, cerita yang bagus dapat mengaduk emosi, menarik perhatian, dan diingat terus. Konsep yang kompleks pun dapat dipahami dengan mudah bila dikemas dalam bentuk cerita.

Lantas, bagaimana penggunaan storytelling dalam dunia bisnis?

Menularkan nilai melalui storytelling

Howard Gardner berpendapat, “Leaders achieve their effectiveness largely through the stories they relate.” Cerita yang menarik biasanya menggunakan kata-kata, gambar, atau bayangan yang tepat sehingga dapat membangkitkan imajinasi dan membuat konsep menjadi hidup.

Dalam bisnis dan politik, kita dapat menggunakan cerita untuk menggambarkan pentingnya inisiatif tertentu, memperkuat nilai tambah suatu produk, atau menekankan alasan pentingnya sebuah organisasi untuk berubah. Metode yang kuno ini ternyata masih efektif untuk membangun kepercayaan dan menggugah orang untuk berubah.

Sebagai contoh, organisasi kerap mengalami kesusahan dalam menularkan pengalaman-pengalaman para senior kepada generasi yang lebih muda. Pengalaman ini tidak bisa hanya ditularkan melalui tulisan, prosedur-prosedur standar, maupun kelas pelatihan. Di sinilah, storytelling bisa menjadi metode yang efektif untuk menyebarkan tacit knowledge dengan adanya muatan emosi di dalamnya.

Tak heran, perusahaan global mengasah kemampuan storytelling para pekerjanya. Setiap eksekutif senior Nike, misalnya, wajib menguasai 13 langkah membuat cerita dan menceritakannya di depan publik.

P&G bahkan mendatangkan sutradara film Hollywood untuk melatih para eksekutifnya terampil melakukan storytelling. Motorola pun memiliki kegiatan-kegiatan drama untuk mengasah kemampuan storytelling jajaran manajemen mereka.

The power of narrative

Eileen Rachman.Dok. EXPERD Eileen Rachman.

A story describes what happened, a good story helps you see what happened, and a great story helps you feel what happened.

Menurut Steve Denning, setiap cerita yang baik harus mengandung tiga unsur.

Pertama, cerita perlu berfokus pada hal positif dengan akhir bahagia dan mengandung kisah sukses. Kedua, cerita perlu memiliki "pahlawan" yang menjadi fokus cerita. Ketiga, cerita perlu mengambil tema yang tidak biasa agar dapat menarik perhatian pendengarnya.

Meski demikian, membuat cerita memang tidak semudah membalikkan tangan. Kekurangan ide akan cerita menarik kerap menjadi hambatan utama dalam bercerita.

Oleh karena itu, kita memang perlu banyak membaca, mengobrol dengan berbagai macam orang, dan mencari contoh-contoh yang dapat kita gunakan.

Cara terbaik, kita dapat menceritakan cerita kita sendiri. Hal ini dilakukan oleh teman saya. Ketika memulai pelatihan presentation skills, teman saya selalu menceritakan kisah betapa ia dulu takut tampil di depan umum.

Ia bergulat dengan dirinya sendiri sampai akhirnya bisa menguasai panggung. Kisah ini menjadi inspirasi peserta pelatihan. Jika ia bisa melakukannya, anggapannya peserta pelatihan pun dapat melakukannya juga.

Selain memperhatikan teknik, seperti intonasi suara, phrasing, dan penggunaan bahasa tubuh dalam membawakan sebuah cerita, ada tujuh elemen yang perlu diingat dalam storytelling.

Pertama, tentukan konteks cerita sehingga pendengar mudah memahami big picture secara keseluruhan.

Kedua, gunakan metafora dan analogi agar pendengar mudah terpengaruh oleh isi ceritanya.

Ketiga, rangsang sebanyak mungkin emosi pendengar. Studi mengatakan bahwa banyak pengambilan keputusan individu didasarkan atas emosi.

Keempat, jaga agar cerita tetap konkret dan teraga. Cerita yang tidak realistis sulit dijangkau pendengar. Karenanya, cerita tidak akan terekam oleh ingatan.

Kelima, selipkan kejutan yang dapat membuat pendengar melepas adrenalinnya.

Keenam, sesuaikan narasi dengan lingkungan pendengar. Narasi dalam lingkungan bisnis sebaiknya lebih singkat dan padat.

Ketujuh, undang partisipasi pendengar untuk turut serta memberi komentar dalam cerita sehingga membuat mereka lebih memiliki cerita tersebut.

People will tell stories about you and your company whether you want them to or not. Fortunately, you can help choose which ones they tell. The way you do that? You tell them first.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Naik Rp 1.000, Simak Rincian Lengkap Harga Emas Antam Hari Ini

Naik Rp 1.000, Simak Rincian Lengkap Harga Emas Antam Hari Ini

Whats New
Guru TK Diteror Debt Collector, Pahami Risiko Pinjam Uang lewat Pinjol Ilegal

Guru TK Diteror Debt Collector, Pahami Risiko Pinjam Uang lewat Pinjol Ilegal

Whats New
Menaker Ida Nyatakan Posko THR 2021 Catat 1.860 Laporan

Menaker Ida Nyatakan Posko THR 2021 Catat 1.860 Laporan

Rilis
IHSG Diproyeksi Masih Menguat, Berikut Saham yang Perlu Dicermati

IHSG Diproyeksi Masih Menguat, Berikut Saham yang Perlu Dicermati

Earn Smart
Mau Beli Rumah? Ini Daftar Harga Rumah Subsidi 2021

Mau Beli Rumah? Ini Daftar Harga Rumah Subsidi 2021

Whats New
China Resmi Larang Perdagangan Mata Uang Kripto

China Resmi Larang Perdagangan Mata Uang Kripto

Whats New
Setelah Lebaran, Harga Daging Ayam Justru Naik di Beberapa Provinsi

Setelah Lebaran, Harga Daging Ayam Justru Naik di Beberapa Provinsi

Whats New
OJK Diminta Pidanakan Fintech yang Teror Guru TK di Malang

OJK Diminta Pidanakan Fintech yang Teror Guru TK di Malang

Whats New
BEI Kantongi 25 Calon Emiten, Termasuk GoTo?

BEI Kantongi 25 Calon Emiten, Termasuk GoTo?

Whats New
[KURASI KOMPASIANA] Tip Memilh Buku Bacaan yang Tepat untuk Anak hingga Cerita Silat Kho Ping Hoo, Sarana Belajar dan Bikin Kecanduan

[KURASI KOMPASIANA] Tip Memilh Buku Bacaan yang Tepat untuk Anak hingga Cerita Silat Kho Ping Hoo, Sarana Belajar dan Bikin Kecanduan

Rilis
Arus Balik Lebaran, Jasa Marga Catat 301.000 Kendaraan Kembali ke Jabodetabek

Arus Balik Lebaran, Jasa Marga Catat 301.000 Kendaraan Kembali ke Jabodetabek

Whats New
Kemenaker Baru Tindaklanjuti 444 Pengaduan terkait Pembayaran THR

Kemenaker Baru Tindaklanjuti 444 Pengaduan terkait Pembayaran THR

Whats New
3 Alasan Milenial Perlu Punya Asuransi

3 Alasan Milenial Perlu Punya Asuransi

Spend Smart
Jangan Lupa, Ini Persyaratan agar Simpanan Bank Dijamin LPS

Jangan Lupa, Ini Persyaratan agar Simpanan Bank Dijamin LPS

Whats New
[TREN LYFE KOMPASIANA] Ingin Menikah Muda, Paling Tidak Persiapkan 3 Hal Ini | Mengatasi Tiga Masalah dalam Krisis Usia 25 Tahun | 'Mindfulness' dan Kesediaan Kita Melambat dalam Hening

[TREN LYFE KOMPASIANA] Ingin Menikah Muda, Paling Tidak Persiapkan 3 Hal Ini | Mengatasi Tiga Masalah dalam Krisis Usia 25 Tahun | "Mindfulness" dan Kesediaan Kita Melambat dalam Hening

Rilis
komentar di artikel lainnya