Mengenal Inflasi Gaya Hidup dan Kiat Mengatasinya

Kompas.com - 26/04/2021, 13:03 WIB
Ilustrasi uang/ upah minimum UMK UMP / UMR Jakarta 2021 KOMPAS.com/NURWAHIDAHIlustrasi uang/ upah minimum UMK UMP / UMR Jakarta 2021

Pernahkah Anda merasa, dengan gaji pertama kali waktu anda bekerja, uang yang bisa ditabung baik secara nominal dan atau persentase lebih besar dibandingkan gaji anda saat ini?

Jika tidak, selamat!! Anda adalah individu luar biasa yang mampu mengendalikan kebutuhan dan keinginan serta mampu melakukan pengelolaan keuangan dengan baik.

Jika iya, tidak masalah juga karena Anda tidak sendiri. Fenomena ini dikenal juga dengan istilah Inflasi Gaya Hidup. Banyak terjadi pada masyarakat terutama kaum pekerja milenial yang hidup di kota besar.

Baca juga: Hindari "Titik Buta" Ini Ketika Mengelola Keuangan

Inflasi Gaya Hidup (Lifestyle Inflation) adalah kenaikan pengeluaran ketika pendapatan meningkat.

Ada pengeluaran yang sifatnya mungkin hanya sekali saja, seperti pesta untuk merayakan diterima kerja, promosi pekerjaan, atau kenaikan gaji yang signifikan.

Ada juga pengeluaran yang sifatnya bisa terus menerus, seperti menggunakan merek pakaian yang lebih mahal, menggunakan perhiasan dan skincare yang lebih baik, ganti dari motor menjadi mobil, mulai mencicil rumah / apartemen, dan atau mulai punya hobi unik yang butuh modal tidak sedikit.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal ini sebetulnya cukup wajar. Menikmati hidup juga bagian dari menjalani proses kehidupan. Hanya saja yang namanya Inflasi Gaya Hidup ini harus dikendalikan.

Jika tidak, bukannya ada kelebihan dana, yang ada malah habis bulan habis gaji, atau lebih parahnya terlilit hutang kartu kredit, KTA, atau pinjaman online dengan minimum payment setiap bulannya.

Bagaimana kiat untuk mengendalikan Inflasi Gaya Hidup ini?

Pertama, membedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Godaan untuk konsumtif memang sangat kuat, apalagi didukung dengan perkembangan teknologi.

Para penjual biasanya membuat kampanye / iklan yang sangat bagus sehingga konsumen tertarik, kemudian kemudian kemudahan melakukan pembelian melalui e-commerce yang sering ditambah dengan promo potongan harga dan gratis ongkos kirim.

Baca juga: Catat, Ini Tips Mengelola Keuangan Saat Resesi

 

Belum lagi peranan influencer/idola kita di sosial media yang memberikan ulasan sehingga kita tertarik.

Tidak ada salahnya untuk tertarik atau memiliki produk atau jasa yang sebelumnya tidak kita miliki. Namun perlu dibatasi, mana yang kebutuhan dan mana yang keinginan.

Jika memang bersifat kebutuhan, seperti kendaraan untuk tranportasi, Smartphone untuk telekomunikasi, makan di restoran untuk pendekatan bisnis/relasi, maka masih bisa dipertimbangkan.

Namun jika kendaraan, smartphone, baju branded, atau foto makan di restoran hanya untuk PAMER di sosial media, maka sebetulnya itu adalah keinginan.

Sebenarnya bukan tidak boleh juga, karena hal tersebut mungkin salah satu bentuk aktualisasi diri. Tapi usahakan untuk tidak lebih dari 10 persen penghasilan anda.

Rasa senang dengan cara seperti ini biasanya hanya sementara. Lebih baik mencari rasa senang dari aktif melakukan kegiatan amal, berbakti kepada orang tua, dan atau kegiatan yang menghasilkan perbuatan baik.

Kedua, pertahankan anggaran investasi. Jika sebelum kenaikan gaji, kita bisa menabung 10-20 persen dari penghasilan, maka ketika ada kenaikan penghasilan, rasio itu juga seharusnya sama. Kecuali memang anda melakukan pembelian aset baru untuk menunjang pekerjaan / keluarga seperti kendaraan dan tempat tinggal.

Baca juga: Suami Pelit? Begini Seharusnya Istri Mengelola Keuangan

Ketiga, perhitungkan faktor pajak. Yang namanya tarif pajak di Indonesia dan juga seluruh dunia bersifat progresif. Artinya semakin besar penghasilan anda, semakin besar potongan pajaknya. Untuk di Indonesia, tarif pajak dimulai dari 5 persen hingga maksimal 30 persen untuk perorangan dengan penghasilan di atas Rp 500 juta per tahun.

Mungkin saja, atasan Anda memberitahukan ada kenaikan gaji misalkan sebesar Rp 4 juta per bulan, namun yang anda terima di bawah itu karena adanya potongan pajak dan BPJS.

Jadi sebaiknya menunggu gaji sudah masuk ke rekening anda dulu dan cek slip gaji sebelum tahu berapa sebenarnya kenaikan gaji anda.

Keempat, rayakan secara sederhana dan naik tingkat secara bertahap. Yang namanya kenaikan tentu pantas untuk dirayakan. Namun lakukan dengan keluarga dan atau teman terdekat anda yang memang mendukung sejak awal. Dan juga bisa dilakukan secara sederhana.

Jika sanggup untuk melakukan DP dan membayar cicilannya, keinginan untuk memiliki smartphone yang lebih canggih, upgrade dari motor ke mobil, dan pindah ke kontrakan yang lebih besar memang akan semakin kuat.

Tapi ingat, 2 Smartphone berarti ada 2 nomor yang anda harus isi pulsanya setiap bulan, kendaraan dan tempat tinggal yang lebih baik akan diikuti juga dengan biaya perawatan dan pajak yang lebih tinggi. Belum lagi kalau rusak, biaya perbaikannya juga tidak murah.

Untuk itu, rayakanlah kenaikan gaji anda dengan sederhana dan bertahap. Jangan sekaligus, tapi lakukan secara perlahan. Misalkan jika anda ingin menyicil mobil, bukan berarti ketika gaji dan tabungan anda sudah cukup untuk DP dan cicilan, tapi ditambah lagi cadangan dana untuk bayar cicilan hingga 6 bulan ke depan jika ada kejadian di luar dugaan. Jika belum ada, ya ditahan dulu.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat.

Baca juga: Simak Tips Mengelola Keuangan agar Bisa Bertahan di Tengah Pandemi

 



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.