KILAS

87 Hektar Sawah di Sungai Penuh Gagal Panen, Petani Diminta Gunakan Asuransi

Kompas.com - 27/04/2021, 21:10 WIB
Petani saat memanen padi di area sawah yang terendam banjir di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Karawang, Jawa Barat, Rabu (10/2/2021). Selain curah hujan yang tinggi, luapan Sungai Citarum dan Sungai Cibeet yang merendam areal persawahan sejak Minggu (7/2/2021) tersebut mengakibatkan sebagian besar tanaman padi siap panen rusak dan terancam gagal panen. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetani saat memanen padi di area sawah yang terendam banjir di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Karawang, Jawa Barat, Rabu (10/2/2021). Selain curah hujan yang tinggi, luapan Sungai Citarum dan Sungai Cibeet yang merendam areal persawahan sejak Minggu (7/2/2021) tersebut mengakibatkan sebagian besar tanaman padi siap panen rusak dan terancam gagal panen.

KOMPAS.com – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kota Sungai Penuh mencatat, terdapat sekitar 87 hektar (ha) sawah yang mengalami puso atau gagal panen.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Maipendri mengatakan, Kota Sungai Penuh di Jambi memiliki luas sawah yang dapat dijadikan sebagai sasaran tanam sebanyak 8.600 ha.

Jumlah itu ditambah dengan potensi panen yang diperkirakan mencapai 95 persen atau seluas 8.150 ha.

“Ini terjadi akibat banjir awal tahun yang berpengaruh terhadap jumlah produksi padi yang dihasilkan,” ujar Maipendri dalam keterangan tertulisnya, Selasa (27/4/2021).

Baca juga: IFAD Kagumi Teknologi AWR Kementan

Namun, meski banyak sawah mengalami puso, Maipendri mengaku bahwa pihaknya tetap optimistis terhadap produksi padi pada 2021.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Pemerintah Kota (Pemkot) Sungai Penuh pada 2021 menargetkan produksi padi sebesar 49.715 ton,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) mengajak para petani di Kota Sungai Penuh untuk memanfaatkan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, asuransi merupakan bentuk antisipasi petani dalam menghadapi gangguan lahan pertanian.

Baca juga: Dorong Permodalan Petani, Kementan Alokasikan Dana KUR Rp 70 Triliun

Menurutnya, tuntutan terhadap petani adalah menjaga lahan pertanian agar tidak terjadi gagal panen. Sebab, kondisi itu akan menimbulkan kerugian dan menurunkan produktivitas pertanian.

“Untuk itu, kami mengajak para petani untuk menjaga lahan menggunakan asuransi,” ajaknya.

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Prasarana dan Sarana (PSP) Kementan Sarwo Edhy menjelaskan, asuransi pertanian merupakan bagian dari mitigasi bencana.

Sesuai dengan namanya, AUTP itu akan menjaga tanaman padi dari gagal panen akibat perubahan iklim, cuaca ekstrem, bencana alam, serta serangan organisme pengganggu tanaman dan hama.

Baca juga: Kementan: Industri Cokelat Akan Meningkat Pesat

Selain itu, sebut dia, untuk mendukung program, pihak asuransi akan mengeluarkan klaim sebesar Rp 6 juta per ha untuk lahan pertanian gagal panen yang telah diasuransikan.

“Dengan klaim itu, petani tidak akan merugi. Mereka justru memiliki modal untuk menanam kembali. Untuk itu, kita dorong para petani untuk memanfaatkan asuransi,” kata dia.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.