Survei IDEAS: 97,9 Persen Responden Keluarga Miskin Terdampak Pandemi Secara Ekonomi

Kompas.com - 30/04/2021, 12:45 WIB
Tukang rongsokan tengah istirahat di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (22/4/2020). Di tengah pandemi Covid-19, terjadi peningkatan jumlah angka kemiskinan. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOTukang rongsokan tengah istirahat di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (22/4/2020). Di tengah pandemi Covid-19, terjadi peningkatan jumlah angka kemiskinan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) memotret bagaimana pengaruh Covid-19 terhadap perekenomian para keluarga miskin.

Direktur IDEAS Yusuf Wibisono mengatakan, berdasarkan hasil penelitiannya, sebanyak 97,9 persen responden dari keluarga miskin mengaku ekonominya sangat terdampak pandemi.

"97,9 persen yang mengaku ekonominya terdampak merasakan berbagai masalah ekonomi yang mereka hadapi mulai dari turunnya penghasilan keluarga, kehilangan pekerjaan hingga pendidikan anak mereka terlantar," ujar Yusuf dalam pemaparan hasil riset secara virtual, Jumat (30/4/2021).

Baca juga: Survei IDEAS: 97,6 Persen Keluarga Miskin Patuh Protokol Kesehatan Selama Pandemi

Yusuf memaparkan, sebanyak 77,2 persen mengaku turunnya penghasilan keluarga, 76,9 persen mengaku kebutuhan pangan keluarga mereka terganggu, dan 32,6 persen kehilangan pekerjaan.

"Yang paling nahasnya lagi, ada sebanyak 11,8 persen mereka yang mengaku bahwa pendidikan anak mereka terlantar. Bahkan ada juga yang mengaku bahwa mereka juga sangat sulit mendapatkan atau memenuhi kebutuhan pangan mereka," kata dia.

Tercatat, ada sebanyak 80,8 persen keluarga miskin yang mengaku bahwa mereka sulit mendapatkan kebutuhan pangan seperti tidak mampu membeli daging, membeli ikan, membeli susu, hingga membeli telur.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Untuk membeli beras atau makanan pokok saja mereka mengaku sulit, ada sebanyak 51,8 persen yang mengaku bahwa mereka sulit membeli beras," ungkap Yusuf.

Yusuf membeberkan beragam dampak yang dirasakan oleh keluarga miskin untuk pendidikan anak selama pandemi.

Baca juga: BI: Ekonomi Syariah Perkecil Kesenjangan Si Kaya dengan Si Miskin

Tercatat, ada sebanyak 26,7 persen yang mengaku mereka tidak memiliki kuota internet sehingga proses belajar anaknya terbengkalai, 15,1 persen tidak memiliki gadget, dan 7,6 persen yang mengaku tidak mampu membayar biaya pendidikan sekolah alias SPP.

"Sementara ada sebanyak 1,9 persen keluarga miskin yang mengaku bahwa mereka harus memberhentikan sekolah anaknya lantaran sulitnya ekonomi dikarenakan pandemi," ungkap dia.

Riset yang dilakukan sepanjang 7 Januari-11 Februari 2021 ini melibatkan 1.013 kepala keluarga miskin yang berasal dari kota Jakarta Raya (Jabodetabek), Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar.

Metode yang digunakan dalam survei ini adalah wawancara tatap muka dengan kuesioner semi terbuka untuk mendapatkan data dari responden.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.