Pandemi yang Mengubah Arah Industri Penerbangan Global

Kompas.com - 03/05/2021, 07:07 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

SEJAK Wright Brothers berhasil menerbangkan pesawat terbangnya untuk pertama kali di Kill Devil Hill North Carolina pada tahun 1903, moda transportasi udara bergerak maju dengan cepat.

Sejak usainya perang dunia ke 2, penerbangan sipil komersial bergerak pesat merajut jejaring rute penerbangan internasional antara lain dibawah koordinasi ICAO, International Civil Aviation Organization dan IATA, International Air Transport Association.

Industri penerbangan berkembang dengan laju percepatan yang sangat mengagumkan dan pabrik pesawat terbang bersaing ketat dalam memperebutkan pasar angkutan udara. Karena membutuhkan modal besar dan tenaga ahli spesialis di bidang penerbangan serta sangat memerlukan perencanaan strategis jangka panjang, maka tidak banyak pabrik pesawat terbang yang dapat meraih sukses.

Di permukaan terlihat dua pabrik pesawat terbang raksasa yang berlomba dari waktu ke waktu dalam memperebutkan pasar angkutan udara antar bangsa. Boeing yang mewakili Amerika Serikat dan Airbus yang merupakan representasi benua Eropa bersaing dalam kompetisi yang penuh romantika.

Baca juga: Penerbangan Reguler dari India ke Indonesia Dihentikan

Persaingan kedua pabrik pesawat terbang ini masuk dalam kurva yang terus menanjak seolah tanpa jeda sampai pada titik kedatangan pandemic yang seolah menghentikannya secara paksa, setidaknya untuk sementara.

Bermula pada tahun 1957 yang berarti hanya selang 54 tahun saja sejak pesawat terbang pertama berhasil diterbangkan, Boeing telah berhasil memproduksi pesawat terbang sipil komersial B-707 yang terkenal itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pesawat yang mampu membawa penumpang sekitar 140 orang tersebut telah sukses memasuki pasar dunia yang ditandai dengan Boeing memproduksi lebih dari 1.000 pesawat untuk melayani permintaan dari segenap penjuru dunia.

Pabrik Boeing menghentikan produksinya pada tahun 1979 setelah menurun drastisnya permintaan pasar terhadap B-707.

Terbang pertama kalinya di tahun 1969, Boeing meluncurkan pesawat barunya yang segera saja merajai angkasa. B-747 yang bergelar Jumbo karena kemampuannya yang dapat membawa penumpang hingga 600 orang. Pesawat terbang raksasa ini bermesin jet 4 buah dengan kabin bertingkat telah menjadi simbol status “kebanggaan” dari semua Maskapai Penerbangan.

Walaupun harus mengakhiri laju produksinya pada tahun 2020 nanti, B-747 telah sukses menembus angka lebih dari 1500 pesawat terbang yang dihasilkan untuk memenuhi permintaan pasar dunia. B-747 tidak saja dikenal sebagai “Jumbo Jet” akan tetapi juga di juluki “Queen of the Skies”, karena bentuknya yang cantik. B-747 dengan berbagai varian nya telah menjadi legenda dunia penerbangan dengan kemampuan bertahan di pasar global selama lebih dari 50 tahun.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.