[TREN KESEHATAN KOMPASIANA] Belajar dari "Second Wave of Pandemic" India | Impfpass, Buku Vaksin di Jerman | Mengenal Penggolongan Obat

Kompas.com - 04/05/2021, 15:15 WIB
Kerabat pasien meninggal Covid-19 tak kuasa menahan kesedihannya di luar rumah sakit Lok Nayak Jaiprakash Narayan, New Delhi, India, pada Rabu (21/4/2021). India mencatatkan penambahan kasus harian tertinggi yaitu 314.000 pada Kamis (22/4/2021). AP PHOTOKerabat pasien meninggal Covid-19 tak kuasa menahan kesedihannya di luar rumah sakit Lok Nayak Jaiprakash Narayan, New Delhi, India, pada Rabu (21/4/2021). India mencatatkan penambahan kasus harian tertinggi yaitu 314.000 pada Kamis (22/4/2021).

2. Impfpass, Buku Vaksin Wajib Dimiliki Semua Warga Jerman

Walaupun lazimnya semua warga Jerman tahu untuk membawa buku vaksin jika akan melakukan vaksinasi, tetapi petugas dari praktik dokter tidak jarang untuk mengingatkan.

Impfpass, nama buku tersebut seperti dituliskan Kompasianer Hennie Triana.

"Impfpass adalah buku mini berwarna kuning yang berlaku internasional, menyimpan catatan jenis vaksin yang telah diterima seseorang sejak lahir hingga dewasa," lanjutnya.

Jadi, Dokter di Jerman wajib menyimpan rekam medis pasiennya selama sepuluh tahun. Buku vaksin tersebut juga langsung didapatkan Kompasianer Hennie Triana saat baru pindah ke Jerman. (Baca selengkapnya)

3. Mengenal Penggolongan Obat Itu Penting Lho!

Kompasianer Irmina Gultom yang berprofesi sebagai apoteker kerap mendapat pertanyaan dari temannya tentang obat-obatan yang sulit didapat di apotek.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal tersebut wajar saja, karena tidak sembarang apotek bisa memberikan obat tanpa disertai resep dokter.

Dampaknya, ada risiko yang mungkin timbul jika penggunaan obat keras tidak sesuai diagnosis dari dokter.

"Pengetahuan mengenai penggolongan obat ini penting karena nyatanya masih banyak masyarakat awam yang tidak memahami mana obat yang harus disertai resep dokter dan mana yang tidak," tulis Kompasianer Irmina Gultom.

Jadi, lanjutnya, supaya masyarakat umum juga paham bagaimana cara memperoleh dan mengonsumsi obat yang aman dan benar. (Baca selengkapnya)

***

Simak beragam konten menarik lainnya di Kompasiana lewat subkategori Gaya Hidup: Kesehatan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X