Kompas.com - 04/05/2021, 16:04 WIB
Direktur Utama PT Indika Energy Tbk Arsjad Rasjid saat HUT Ke-18 Indika Energy di Jakarta, Kamis (25/10/2018) malam. KOMPAS.com/Putri Syifa NurfadilahDirektur Utama PT Indika Energy Tbk Arsjad Rasjid saat HUT Ke-18 Indika Energy di Jakarta, Kamis (25/10/2018) malam.

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Indika Energy Tbk (INDY) membukukan rugi bersih sebesar 9,36 juta dollar AS. atau setara Rp 135,7 miliar pada kuartal I-2021. Kinerja ini terbilang membaik ketimbang periode yang sama di 2020.

Kerugian emiten pertambangan batu bara ini menyusut drastis 55,48 persen dari kuartal I-2020 yang sebesar 21,02 juta dollar AS atau setara Rp 302,83 miliar.

Kerugian INDY tak lepas dari penurunan pendapatan beberapa anak perusahaan, sehingga membuat pendapatan perseroan turut turun sebesar 9,25 persen menjadi 582,2 juta dollar AS di kuartal I-2021 dari periode sama di tahun lalu.

Padahal harga batubara yang membaik sepanjang tiga bulan pertama 2021, telah meningkatkan harga jual rata-rata batubara Kideco, anak usaha INDY, sebesar 5,1 persen dari 43 dollar AS per ton menjadi 45,2 dollar AS per ton.

Baca juga: Hadapi Pandemi Covid-19, Singapore Airlines Dapat Tambahan Likuiditas Rp 21,6 Triliun

Kideco juga mencatat peningatan volume penjualan batubara sebesar 4,9 persen menjadi 9,2 juta ton dari periode sama di tahun lalu yang sebanyak 8,8 juta ton. Adapun 66 persen batubara di pasok kepada pasar ekspor dan 34 persen ke pasar domestik.

"Namun, tekanan akibat pandemi Covid-19 yang masih berelanjutan mengakibatkan beberapa anak perusahaan mencatat penurunan pendapatan sehingga pendapatan perseroan turun," ujar Direktur Utama Indika Energy Arsjad Rasjid dalam keterangan tertulis, Selasa (4/5/2021).

Kendati demikian, perseroan berhasil mencatat laba inti sebesar 12,5 juta dollar AS di tiga bulan pertama 2021, dibandingkan iaba inti kuartal I-2020 yang sebesar 0,8 juta dollar AS.

Sementara itu, realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex) INDY pada kuartal I-2021 tercatat sebesar 10,6 juta dollar AS. Terdiri dari 7,9 juta dollar AS untuk pemeliharaan dan penggantian alat berat di Petrosea dan 1,5 juta dollar AS untuk pemeliharaan armada Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS)

Baca juga: Masih Ngotot Mau Mudik? Simak Lagi 5 Alasan Ini Sebelum Pulang Kampung

Arsjad mengatakan, pihaknya saat ini berupaya melakukan diversifikasi usaha pada sektor non-batubara dan fokus pada keberlanjutan untuk mencapai target environmental, social, and governance (ESG) perseroan menuju netral emisi karbon pada tahun 2050.

Selain berupaya mengoptimalkan kinerja di sektor batubara, pada waktu yang bersamaan perseroan juga melakukan diversifikasi usaha, seperti di sektor pertambangan emas, energi baru dan terbarukan (EBT), serta mulai mengeksplorasi pengembangan kendaraan listrik roda dua dan energi biomassa.

"Selaras dengan strategi diversifikasi usaha yang dilakukandan penguatan kinerja ESG, kami menargetkan 50 persen pendapatan dari sektor non-batubara pada tahun 2025 dan berkomitmen untuk menuju netral emisi karbon pada tahun 2050," kata dia.

Baca juga: Mitra Bisnis DANA Bisa Bikin Promo Sendiri, Ini Caranya



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Harga Vaksin Gotong Royong Rp 321.660 Per Dosis, Pengusaha: Kami Bisa Menerimanya

Harga Vaksin Gotong Royong Rp 321.660 Per Dosis, Pengusaha: Kami Bisa Menerimanya

Whats New
Peredaran Uang Tunai Selama Lebaran Capai Rp 154,5 Triliun

Peredaran Uang Tunai Selama Lebaran Capai Rp 154,5 Triliun

Whats New
Profil Kimia Farma Diagnostik, Cucu BUMN yang Semua Direksinya Dipecat

Profil Kimia Farma Diagnostik, Cucu BUMN yang Semua Direksinya Dipecat

Whats New
Simak Tips Menata Kembali Keuangan Setelah Lebaran

Simak Tips Menata Kembali Keuangan Setelah Lebaran

Spend Smart
Bayar Denda ke Pemerintah China, Alibaba Rugi Rp 12,01 Triliun

Bayar Denda ke Pemerintah China, Alibaba Rugi Rp 12,01 Triliun

Whats New
Rincian Biaya dan Syarat Daftar Sertifikasi Debt Collector

Rincian Biaya dan Syarat Daftar Sertifikasi Debt Collector

Whats New
Pecat Direksi Kimia Farma Diagnostika, Erick Thohir: Silakan Berkarier di Tempat Lain!

Pecat Direksi Kimia Farma Diagnostika, Erick Thohir: Silakan Berkarier di Tempat Lain!

Whats New
Profil Direksi Kimia Farma Diagnostika yang Dipecat Erick Thohir

Profil Direksi Kimia Farma Diagnostika yang Dipecat Erick Thohir

Whats New
Daftar 11 Titik Rapid Test Antigen Gratis di Jalur Darat Jawa Barat

Daftar 11 Titik Rapid Test Antigen Gratis di Jalur Darat Jawa Barat

Whats New
Ini Sanksi untuk Perusahaan Leasing yang Tarik Paksa Kendaraan Debitur

Ini Sanksi untuk Perusahaan Leasing yang Tarik Paksa Kendaraan Debitur

Whats New
KA Jarak Jauh Angkut 48.810 Penumpang Non-mudik Selama 9 Hari Larangan Mudik

KA Jarak Jauh Angkut 48.810 Penumpang Non-mudik Selama 9 Hari Larangan Mudik

Whats New
Mengenal KPR Syariah, Fitur, Syarat Pengajuan Serta Keuntungannya

Mengenal KPR Syariah, Fitur, Syarat Pengajuan Serta Keuntungannya

Whats New
Erick Thohir Pecat Seluruh Direksi Kimia Farma Diagnostika akibat Kasus Alat Tes Antigen Bekas

Erick Thohir Pecat Seluruh Direksi Kimia Farma Diagnostika akibat Kasus Alat Tes Antigen Bekas

Whats New
Masuk Jakarta Diperketat, Ini 11 Lokasi Tes Antigen Acak

Masuk Jakarta Diperketat, Ini 11 Lokasi Tes Antigen Acak

Whats New
Produksi Seragam, Perusahaan Ini Lirik Peluang Ekspor

Produksi Seragam, Perusahaan Ini Lirik Peluang Ekspor

Rilis
komentar di artikel lainnya
Close Ads X