Transformasi UMKM ke Digital Terus Meningkat, Apa Risikonya?

Kompas.com - 05/05/2021, 15:41 WIB
Ilustrasi digitalisasi bagi UMKM. DOK. SHUTTERSTOCKIlustrasi digitalisasi bagi UMKM.

JAKARTA, KOMPAS.com – Saat pandemi Covid-19, banyak UMKM yang bertransformasi ke digital melalui e-commerce.

Hal ini dilakukan sebagai upaya menyesuaikan diri dengan tuntutan konsumen yang mengalami pergeseran prilaku transaksi, dari offline ke online.

Namun, di balik kemudahan dalam melakukan transaksi digital melalui marketplace/e-commerce, ada beberapa hal yang patut jadi pertimbangan pelaku usaha sebelum memutuskan terjun dan bertransformasi ke bisnis digital.

Baca juga: Dorong Transformasi UMKM, Ini Pesan KemenkopUKM ke Pemda

Menurut CEO Qasir Michael Williem, pelaku usaha kerap kali hanya fokus pada keuntungan saja, tetapi lupa memperhatikan risiko yang muncul dari pemasaran melalui media sosial atau platform digital seperti e-commerce.

“Pelaku usaha perlu mempertimbangkan risiko apa saja yang dihadapinya, di samping peluang dan benefit yang didapat,” jelas Michael dalam siaran pers, Rabu (5/5/2021).

Menurut dia, selain manfaat ada juga risiko dari marketplace yang dapat menjadi pertimbangan agar pelaku usaha semakin siap ketika memulai bisnis online seperti berikut ini:

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

1. Risiko kejahatan siber

Michael menilai pelaku usaha harus waspada akan ancaman kejahatan siber yang mengintai data pribadi.

Dia bilang, kemudahan dan pengalaman berbisnis yang lebih simpel dengan menggunakan platform e-commerce memiliki risiko terkait dengan faktor keamanan.

“Adanya pencurian identitas maupun produk dan layanan yang disalahgunakan bisa dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab,” ungkap dia.

Misalnya, secara langsung maupun tak langsung kompetisi yang tidak sehat membuat kompetitor Anda berusaha untuk menyerang privasi dan menjual informasi yang Anda miliki.

Hal ini tentunya dapat merugikan konsumen maupun pelaku usaha dan keberlangsungan bisnis ke depannya.

Baca juga: Sambut Hari Kemenangan, Yuk Belanja Produk UMKM Lokal Pakai Promo Hari BBI 2021

2. Terikat dengan aturan dan kebijakan di e-commerce

Michael mengatakan, Ketika pelaku usaha bergabung dalam ekosistem e-commerce, maka kontrol operasional dan logistik tidak sepenuhnya di tangan pelaku usaha.

dia bilang, dengan membuka bisnis di marketplace, syarat utamanya adalah tunduk kepada kebijakan yang berlaku.

“Pelaku usaha harus tunduk dengan aturan, mulai dari persentase monetisasi yang didapat dan biaya tambahan lainnya yang mungkin diubah secara tiba-tiba, demikian juga dengan kendala teknis yang tidak dapat diperbaiki sendiri,” tegas Michael.

Baca juga: Survei KIC: Shopee Sumbang Omzet Terbesar untuk UMKM Selama Pandemi

3. Jangkauan konsumen terbatas

Masuk ke dalam ekosistem e-commerce, maka akan membuka persaingan semakin ketat, dan membuat jangkauan semakin terbatas.

Seperti halnya dunia usaha yang tidak pernah lepas dari kompetisi, pun demikian dengan ranah penjualan digital.

Kompetisi pasar yang tinggi membuat pelaku usaha harus mengatur strategi yang tepat agar dapat dilirik oleh pembeli.

Alogaritma di marketplace menjadi penentu apakah toko Anda bisa terlihat secara luas oleh calon pelanggan atau tidak.

Baca juga: Pamer Pakaian Buatan UMKM, Mendag Luthfi: Produk Indonesia Ini Keren

“Kemungkinan produk atau brand Anda kurang terdengar dan berkembang sangatlah besar disebabkan munculnya produk yang sama dengan harga yang bisa jadi lebih murah,” ungkap Michael.

Menurut Michael, itulah mengapa pelaku usaha berlomba memperbanyak followers.

Dengan banyaknya followers, maka akan memperluas jangkauan promosi bisnis, dan dengan mudah masuk ke pencarian teratas.

Baca juga: UMKM Pilih Market Place Selama Pandemi, Ini Alasannya

Itulah tiga risiko yang perlu diperhatikan UMKM sebelum masuk ke ranah digital.

Nah, untuk mengantisipasi risiko tersebut, menurut Michael pelaku usaha perlu juga perlu memiliki strategi.

Misalnya dengan mengembangkan website sendiri, agar memiliki kontrol bisnis sepenuhnya tanpa mengandalkan pihak ketiga saja.

“Jika marketplace tutup maka itu sama saja dengan menutup outlet Anda. Berbeda jika Anda memiliki website usahanya sendiri,” jelas Michael

Pakar Digital Business dan Marketing Tuhu Nugraha mengungkapkan, dengan adanya transformasi digital, pelaku usaha tetap perlu untuk memetakan perencanaan dan strategi pemasaran konvesional.

Baca juga: Mendag Luthfi Ungkap Alasan Ongkos Logistik untuk UMKM Masih Mahal

“Persaingan ketat pasti ada, sekarang bagaimana pelaku usaha dapat membangun dan menciptakan emotional bonding dengan konsumen, sehingga loyalitas konsumen dapat meningkat,” tegas Tuhu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.