Firdaus Putra, HC
Komite Eksekutif ICCI

Ketua Komite Eksekutif Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI), Sekretaris Umum Asosiasi Neo Koperasi Indonesia (ANKI) dan Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED)

Terjebak di Skala Kecil, Koperasi Perlu Merger dan Amalgamasi

Kompas.com - 07/05/2021, 18:09 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Sangat bisa dipahami, persetujuan anggota menjadi syarat wajib di mana koperasi merupakan perusahaan yang dimiliki anggotanya. Namun, sejauh proposal M/A memberikan manfaat lebih besar, anggota cenderung menerima. Restrukturisasi SDM pasti akan terjadi setelah merger atau amalgamasi, hal itu juga bisa dibuat sekenario terbaik yang win-win bagi semua. Sedangkan penyesuaian legalitas dan keuangan, tentu membutuhkan ketelitian dan ketelatenan dalam melakukannya.

Responden juga ditanya, bila koperasinya melakukan M/A, akan menggandeng koperasi yang bagaimana? Sebanyak 47,4 persen responden mengatakan akan mengajak koperasi yang lebih besar skalanya, daripada koperasinya saat ini. Kemudian 37,9 persen akan mengajak yang skalanya sama dan sisanya mengajak yang skalanya lebih kecil.

Dengan bergabung ke koperasi yang skala lebih besar, maka mereka akan memperoleh manfaat lebih, seperti sistem menjadi lebih kokoh, layanan lebih bagus dan sebagainya.

Ketika ditanya kapan waktu yang tepat ketika mau melakukan M/A, 41,1 persen responden menjawab ketika mereka merasa perlu memperluas jangkauan antar wilayah. Kemudian 23,2 persen menjawab ketika akan memperbesar volume usaha. Selanjutnya, 20 persen ketika koperasi mengalami stagnasi usaha dan 15,8 persen saat mengalami kesulitan modal. Jawaban di atas memperlihatkan bahwa motivasi melakukan M/A lebih didorong karena gain point (peluang) totalnya 64,3 persen, daripada pain point (masalah) sebesar 35,7 persen.

Dari dua mekanisme itu, sebagian besar responden cenderung memilih amalgamasi (68,4 persen) daripada merger (31,6 persen). Salah satu sebabnya, karena lebih mudah pelaksanaannya, daripada merger yang harus melakukan pembubaran semua badan bukum dan mendirikan satu badan hukum baru. Temuan lain yang menarik adalah 20 persen responden pernah diajak atau mengajak M/A koperasi yang lain. Artinya 2 dari 10 koperasi pernah melakukan proses penjajakan untuk M/A.

Baca juga: Koperasi Simpan Pinjam: Pengertian, Contoh, dan Fungsinya

Sekenario aksi

Bila M/A dimassifkan, temuan di atas dapat menjadi pertimbangan bagi Kementerian Koperasi untuk menyiapkan sekenario yang komprehensif. Bayangkan bila masing-masing Dinas Koperasi Kota/ Kabupaten didorong memfasilitasi satu sampai dua agenda M/A, maka akan terjadi 500-1.000 M/A tahun ini. Akan menjadi optimal bila masing-masing M/A melibatkan 5-10 koperasi.

Dalam hal itu Dinas Koperasi Kota/ Kabupaten berperan sebagai “Mak Comblang”, yang membangun ruang temu dan pemahaman bersama sehingga satu sama lain melakukan penjajakan. Skemanya bisa seperti ini: M + Mi + Mi + Mi + Mi + n atau B/M + K + K + K + K + n. Di mana M adalah koperasi skala menengah, Mi adalah mikro, B adalah besar dan K adalah kecil. Yang perlu dilakukan pertama kali adalah memilih satu koperasi skala besar/ menengah sebagai lembaga jangkar (anchor institution). Kemudian ajak 5-10 koperasi skala mikro atau kecil untuk melakukan penjajakan lebih lanjut.

Skema itu lebih bagus, sebab koperasi jangkar akan mengungkit keberadaan yang kecil-kecil tadi dengan sistem, pengalaman, budaya kerja, modal dan SDM yang dimilikinya. Dari pada sebaliknya, skema K + K + K + K + n di mana mereka memiliki skala sama, sehingga merger/ amalgamasi tidak akan banyak memberikan daya ungkit baru. Itu diperkuat dengan temuan jajak pendapat di mana sebagian besar skala koperasi responden berada di level mikro (39,1 persen), kecil (20,5 persen), menengah (22,4 persen) dan besar (17,9 persen).

Sebelum itu semua dilakukan, sangat perlu melakukan sosialisasi intensif terkait dengan mengapa, apa dan bagaimana suatu merger/ amalgamasi dilakukan berikut manfaat dan kisah suksesnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.