WN China Boleh Masuk Indonesia Sementara Mudik Dilarang, Pengamat: Pemerintah Pilih Kasih

Kompas.com - 10/05/2021, 16:54 WIB
Ilustrasi naik pesawat. PIXABAY/STELA DIIlustrasi naik pesawat.

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah dinilai tidak konsisten dalam menerapkan aturan pembatasan sosial terkait dengan pengendalian Covid-19 di Indonesia.

Hal ini terbukti dari terbitnya izin bekerja Warga Negara Asing (WNA) dari China, yang milai memasuki Indonesia secara bergelombang.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, menilai apa yang terjadi saat ini merupakan bentuk inkonsistensi pemerintah dalam membuat aturan.

Baca juga: Lion Air Buka Rute Wuhan-CGK Angkut TKA China? Ini Penjelasan Kemenhub

Hal ini juga menurut dia dapat menimbulkan kebingungan aturan di masyarakat.

“Sebaiknya ada konsistensi antara kebijakan mudik dengan kedatangan WNA. Efek dari inkonsistensi kebijakan menimbulkan kebingungan di masyarakat dan petugas di lapangan,” jelas Bhima kepada Kompas.com, Senin (10/5/2021).

Bhima menjelaskan, dengan bebasnya WNA masuk ke Indonesia, tentunya menimbulkan kecemburuan sosial.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal ini menimbulkan spekulasi di masyarakat bahwa pemerintah pilih kasih lantaran investasi asing dinilai lebih menguntungkan daripada kerugian PDB dari pelarangan mudik yang berdampak di banyak sektor.

“Kecemburuan sosial pun naik karena WNA bisa masuk dengan alasan mengerjakan proyek, sementara banyak warung harus merugi karena pelarangan mudik, padahal sama sama aktivitas ekonomi. Seakan ada pilih kasih dari pemerintah antara pengusaha lokal dengan asing,” jelas dia.

Baca juga: Kemenhub Kembali Membuka Rute Penerbangan dari Indonesia ke Wuhan China

Bhima mencontohkan, misalkan saja investasi asal China di Indonesia nilainya 1 miliar dollar AS di kuartal I tahun 2021 atau setara Rp 14,2 triliun.

Padahal kerugian PDB dari pelarangan mudik di sektor transportasi dan pergudangan hilang Rp 89 triliun di kuartal ke II 2020, di mana kerugian itu belum termasuk sektor makanan minuman dan retail yang juga anjlok.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X