Kompas.com - 13/05/2021, 00:07 WIB
Asap mengepul setelah serangan udara Israel di Kota Gaza di tengah memuncaknya konflik Israel dan Palestina pada Rabu, 12 Mei 2021. Khalil HamraAsap mengepul setelah serangan udara Israel di Kota Gaza di tengah memuncaknya konflik Israel dan Palestina pada Rabu, 12 Mei 2021.

KOMPAS.com - Sebagai negara yang selama puluhan tahun dilanda konflik dengan Israel, Palestina bisa dibilang memiliki perekonomian yang hampir tak pernah stabil. Negara ini praktis banyak mengandalkan bantuan internasional untuk menggerakkan roda ekonominya.

Selain itu, dengan banyaknya wilayah yang diduduki Israel, warga Palestina juga sangat bergantung pada Israel.

Wilayah Palestina kini hanya menyisakan Jalur Gaza dan Tepi Barat, itu sebagian wilayahnya juga dikuasai Israel.

Selain dari donasi asing, warga Palestina menggantungkan hidup dengan bekerja di sejumlah lahan industri, pertanian, dan perkebunan, serta sektor konstruksi. Banyak di antaranya merupakan perusahaan milik Israel.

Baca juga: Mengapa Kapal Berbendera Panama Menguasai Lautan Dunia?

 

Di Jalur Gaza, sebagian kecil penduduknya juga berprofesi sebagai nelayan. Namun berbagai blokade Angkatan Laut Israel juga membuat kawasan perairan tangkap nelayan kecil Palestina  semakin menyempit. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kurangnya sumbangan dari negara donatur juga semakin mencekik perekonomian Palestina. Keadaannya bertambah parah karena Israel melarang impor barang-barang ke Gaza yang dianggapnya bisa digunakan untuk keperluan militer.

Selain itu, dalam perdagangan ekspor impor, Israel juga sangat mendominasi ekonomi Palestina. Tel Aviv adalah partner dagang utama Palestina yang menyumbang 80 persen dari ekspor Palestina.

Seekor unta melintasi menara Al Nada, yang rusak ketika konflik antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza pada 2014, di kota Belt Lahiya, utara Jalur Gaza pada 27 April 2015.EPA/MOHAMMED SABER Seekor unta melintasi menara Al Nada, yang rusak ketika konflik antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza pada 2014, di kota Belt Lahiya, utara Jalur Gaza pada 27 April 2015.

Lalu, bagaimana kondisi ekonomi di Palestina setelah pandemi virus corona (Covid-19)?

Mengutip laporan dari Bank Dunia seperti dikutip pada Kamis (13/5/2021), pandemi Covid-19 membuat ekonomi Palestina sangat terpukul. Tahun 2019 saja atau sebelum pandemi mulai merebak secara global, pertumbuhan ekonomi di negara itu hanya 1 persen.

Baca juga: Tentang Terusan Kra, Ambisi Thailand yang Mengancam Singapura

Lalu, pada tahun 2020, ekonomi Palestina diprediksi terkontraksi setidaknya 7,6 persen. Palestina bisa mengalami dampak lebih buruk lagi seandainya Israel terus mencaplok wilayahnya di Tepi Barat.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.