Lapor ke Jokowi, Luhut Minta BPKP Audit Kementerian soal Penggunaan Produk Lokal

Kompas.com - 20/05/2021, 21:37 WIB
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan, hadir pada rapat koordinasi tentang kawasan destinasi superprioritas Borobduur, di Borobudur Magelang, Kamis (20/5/2021). KOMPAS.COM/IKA FITRIANAMenteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan, hadir pada rapat koordinasi tentang kawasan destinasi superprioritas Borobduur, di Borobudur Magelang, Kamis (20/5/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, dirinya telah melapor ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait penggunaan produk lokal pada kementerian/lembaga.

Menurut dia, dalam mendorong gerakan Bangga Buatan Indonesia (BBI) masih banyak kementerian/lembaga yang belum menjalankannya secara optimal.

Oleh sebab itu, Luhut usul untuk ada pemeriksaan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) soal penggunaan produk dalam negeri di kementerian/lembaga.

"Saya laporkan pada Bapak Presiden beberapa waktu lalu, perlu diaudit BPKP setiap kementerian/lembaga, berapa banyak yang menggunakan produk dalam negeri dan di mana bottle necking-nya. Sehingga kita bisa melaksanakan ini (optimalkan produk lokal)," ujar Luhut dalam acara pembukaan festival UMKM Joglosemar yang ditayangkan secara virtual, Kamis (20/5/2021).

Baca juga: Kala Luhut Curhat Susahnya Cari Investasi 1 Miliar Dollar AS ke Indonesia

Ia menjelaskan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalokasikan belanja modal dan barang sekitar Rp 1.300 triliun setiap tahunnya. Setelah disisir ditemukan potensi Rp 470 triliun yang bisa digunakan untuk memenuhi pengadaan dari produk dalam negeri.

"Angka yang kita dapat sementara ada Rp 470 triliun yang bisa dibuat di dalam negeri. Lalu coba disisir lagi, paling rendah itu ada Rp 300 triliun per tahun yang bisa di buat dalam negeri," katanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Luhut, produk dalam negeri itu bisa dibuat oleh anak bangsa maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sehingga bila kementerian/lembaga memanfaatkan potensi itu dengan maksimal akan sekaligus menciptakan jutaan lapangan kerja dan teknologi anak bangsa.

"Tetapi masih banyak teman-teman (kementerian/lembaga) yang belum melakukan hal ini," imbuh dia.

Padahal bila hal itu dilakukan dengan baik, menurut Luhut, bila dikonversi setidaknya ada sekitar 22 miliar dollar AS dana dari APBN yang bisa diinvestasikan untuk membangun produk dalam negeri.

Jika dalam 5 tahun anggaran itu dibelanjakan untuk produk-produk buatan lokal, setidaknya 100 miliar dollar AS akan menjadi investasi untuk mendorong perekonomian Indonesia melalui pelaku usaha dalam negeri. Ia bilang, nilai itu cukup sulit didapatkan dari investor luar.

"Betapa sulitnya mendapatkan investasi senilai 100 miliar dollar AS dalam 5 tahun, tetapi ini ada di depan mata kita sendiri. Jadi efisiensi dan harus kerja secara terintegrasi. Saya titip untuk semua kementerian/lembaga, ayo sukseskan mengenai BBI ini dengan konkret, membeli barang-barang buatan dalam negeri," kata Luhut.

Baca juga: Luhut: Saya Titip Semua Kementerian/Lembaga untuk Membeli Produk Dalam Negeri



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.