Digugat Keluarga Korban Sriwijaya SJ 182, Ini Sejarah Buruk Autothrottle Boeing 737

Kompas.com - 21/05/2021, 10:19 WIB
Puing-puing pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak pada hari ketujuh Operasi SAR pesawat tersebut di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (14/1/2021). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPuing-puing pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak pada hari ketujuh Operasi SAR pesawat tersebut di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (14/1/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Keluarga korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air Flight SJ 182 mengugat Boeing ke Pengadilan Tinggi King County di Negara Bagian Washington, Amerika Serikat.

Sebanyak 16 keluarga korban telah resmi mendaftarkan gugatan melalui Herrmann Law Group, firma hukum asal Amerika Serikat (AS). Jumlah itu pun diyakini akan bertambah kedepannya.

Gugatan tersebut menuduh Boeing gagal memperingatkan maskapai penerbangan dan pengguna lainnya tentang cacat pada throttle otomatis (autothrottle) dan bahayanya memarkir pesawat selama beberapa bulan.

Seperti diketahui, penerbangan Sriwijaya Air Flight SJ 182 yang jatuh di Laut Jawa menggunakan pesawat Boeing 737-500. Pesawat tersebut telah diparkir selama sembilan bulan selama pandemi.

Baca juga: Lumpur Jadi Salah Satu Kendala dalam Pencarian CVR Sriwijaya Air SJ182

Pengacara Utama Kasus Herrmann Law Group Mark Lindquist mengatakan, sebagai produsen pesawat, Boeing punya kewajiban berkelanjutan untuk memperingatkan dan menginstruksikan maskapai penerbangan tentang bahaya yang diketahui atau perlu diketahui terkait pesawat tersebut.

Terlebih pada 2020, Federal Aviation Administration (FAA) memperingatkan maskapai penerbangan dan produsen bahwa memarkir pesawat selama lebih dari tujuh hari dapat mengakibatkan korosi dan masalah lainnya yang berkaitan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ini adalah masalah keamanan bagi seluruh dunia," kata Lindquist dalam konferensi pers di Hotel Fairmont, Kamis (20/5/2021).

Keyakinan terkait kesalahan yang dilakukan Boeing, menurut Lindquist, diperkuat dengan adanya temuan baru FAA baru-baru ini. Regulator penerbangan AS itu menerbitkan Airworthiness Notification untuk pesawat Boeing 737-300, 400, dan 500.

Pemberitahuan tersebut dikeluarkan berdasarkan informasi yang dipelajari dalam penyelidikan kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182. Pada pemberitahuan diyatakan ada kondisi tidak aman di pesawat.

FAA menemukan bahwa kegagalan kabel syncho flap mungkin tidak terdeteksi oleh komputer auto-throttle. Kecacatan ini dapat mengakibatkan hilangnya kendali atas pesawat.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.