Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Risau Peternak Lokal dengan Serbuan Impor Ayam dari Negeri Samba

Kompas.com - 22/05/2021, 08:01 WIB
Muhammad Idris

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah pelaku usaha perunggasan di dalam negeri merisaukan dengan rencana importasi daging ayam asal Brasil. Kedatangan ayam impor bakal membuat peternak lokal semakin babak belur.

Salah seorang peternak asal Kabupaten Bogor, Febroni Purba, berujar kondisi peternak ayam tengah dalam kondisi serba sulit. Bak sudah jatuh tertimpa tangga, selain harga daging yang seringkali anjlok, peternak juga tertekan karena mahalnya harga pakan dan anak ayam (DOC).

"Kondisi peternak saat ini benar-benar diujung tanduk. Ada sejumlah faktor yang membuat peternak mengalami kesulitan. Pertama, harga pakan mengalami kenaikan," ungkap Febroni kepada Kompas.com, Sabtu (22/5/2021).

Ia bilang, sejak akhir tahun lalu atau puncak meluasnya pandemi Covid-19, bahan baku ternak rata-rata naik lebih dari 30 persen. Kondisi ini sebenarnya tak hanya terjadi di Indonesia, namun juga secara global.

Baca juga: Jeritan Peternak: Harga Telur Anjlok Parah Saat Biaya Pakan Meroket

Ditambah lagi, peternak Indonesia sebagian besar masih berbudidaya secara tradisional, baik peternak mandiri maupun peternak kemitraan.

"Kedua, sebagian besar peternak kita melakukan pemeliharaan masih dengan cara tradisional. Sementara perusahaan-perusahaan besar memelihara dengan teknologi mutakhir, penggunaan kandang tertutup lengkap dengan sistem otomatis seperti pemberian minum dan pakan, pengaturan suhu, pendeteksi penyakit dan sebagainya," kata Febroni.

"Saya memprediksikan peternak-peternak mandiri akan hilang jika tidak melakukan terobosan baru," kata dia lagi.

Dengan kondisi serba sulit seperti sekarang, masuknya daging ayam beku asal Negeri Samba dikhawatirkan akan membuat harga karkas semakin tak menentu.

Baca juga: Dilarang Dijual di Warung, Apa Itu Telur Infertil?

Tak hanya peternak ayam ras, impor daging ayam Brasil juga akan berdampak pada peternak ayam layer atau petelur, mengingat bertambahnya suplai daging ayam bakal memicu anjloknya harga ayam afkir. 

"Adanya rencana Brasil impor ayam ras ke Indonesia perlu kita tanggapi secara bijak. Perlu diketahui bahwa pemerintah sudah melakukan berbagai upaya pencegahan impor ayam Brasil sejak tiga tahun tahun yang lalu," kata Febroni.

Menurutnya, Brasil selama ini dikenal sebagai salah satu negara produsen daging ayam terbesar dunia. Lantaran suplai terlalu banyak, negara itu kini tengah mencari pasar ekspor, Indonesia jadi negara yang dibidik.

Harga daging produksi Brasil jauh lebih murah dibandingkan Indonesia, lantaran negara itu juga menjadi produsen jagung terbesar secara global. Jagung sendiri merupakan bahan utama dalam pembuatan pakan ternak.

Baca juga: Harga Telur Melonjak, Ini Penyebabnya Kata Asosiasi Peternak

Kata dia, jangankan peternak kecil, perusahaan-perusahaan integrator perunggasan besar di Indonesia seperti Japfa Comfeed dan Charoen Pokphand saja bakal dirugikan.

"Jika perusahaan mapan saja ketar-ketir menghadapi ayam Brasil, apalagi peternak kecil. Cepat atau lambat peternak kecil semakin sedikit dan habis," kata Febroni.

"Harga pokok produksi ayam dari Brasil bisa jauh lebih murah yaitu Rp 12.000 - Rp 14.000/kg sedangkan HPP ayam di peternak Rp 18.000/kg. Peternak bisa gulung tikar secara masal," tambah dia.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Bahan Pokok Hari Ini 23 April 2024: Harga Tepung dan Telur Naik, Daging Sapi dan Ayam Turun

Bahan Pokok Hari Ini 23 April 2024: Harga Tepung dan Telur Naik, Daging Sapi dan Ayam Turun

Whats New
Reksadana RDPT adalah Apa? Ini Pengertian dan Keuntungannya

Reksadana RDPT adalah Apa? Ini Pengertian dan Keuntungannya

Work Smart
Dana Pinjaman dari China Rp 6,9 Triliun Sudah Cair, KAI: untuk Bayar Kontraktor Kereta Cepat Whoosh

Dana Pinjaman dari China Rp 6,9 Triliun Sudah Cair, KAI: untuk Bayar Kontraktor Kereta Cepat Whoosh

Whats New
Indonesia Lebih Banyak Impor dari Israel Dibanding Iran, Bagaimana dengan Ekspor?

Indonesia Lebih Banyak Impor dari Israel Dibanding Iran, Bagaimana dengan Ekspor?

Whats New
Melemahnya Rupiah Bisa Bikin Harga Bawang Putih dan Kedelai Naik

Melemahnya Rupiah Bisa Bikin Harga Bawang Putih dan Kedelai Naik

Whats New
Mampukah IHSG Bangkit? Simak Analisis dan Rekomendasi Saham Hari Ini

Mampukah IHSG Bangkit? Simak Analisis dan Rekomendasi Saham Hari Ini

Whats New
Sektor Teknologi Bangkit, Saham-saham di Wall Street Menghijau

Sektor Teknologi Bangkit, Saham-saham di Wall Street Menghijau

Whats New
Naik 35 Persen, Tol Trans Sumatera Dilintasi 2,1 Juta Kendaraan Selama Libur Lebaran

Naik 35 Persen, Tol Trans Sumatera Dilintasi 2,1 Juta Kendaraan Selama Libur Lebaran

Whats New
KAI Layani 4,39 Juta Penumpang Selama Lebaran 2024, Lebih Sedikit dari Perkiraan Kemenhub?

KAI Layani 4,39 Juta Penumpang Selama Lebaran 2024, Lebih Sedikit dari Perkiraan Kemenhub?

Whats New
[POPULER MONEY] Harga Bitcoin Pasca Halving | Lowongan Kerja untuk Lansia

[POPULER MONEY] Harga Bitcoin Pasca Halving | Lowongan Kerja untuk Lansia

Whats New
BLT Rp 600.000 Tak Kunjung Cair, Menko Airlangga: Tidak Ada Kendala, Tunggu Saja...

BLT Rp 600.000 Tak Kunjung Cair, Menko Airlangga: Tidak Ada Kendala, Tunggu Saja...

Whats New
AHY Bakal Tertibkan Bangunan Liar di Puncak Bogor

AHY Bakal Tertibkan Bangunan Liar di Puncak Bogor

Whats New
Rupiah Anjlok, Airlangga Sebut Masih Lebih Baik Dibanding Negara Lain

Rupiah Anjlok, Airlangga Sebut Masih Lebih Baik Dibanding Negara Lain

Whats New
Aktivitas Gunung Ruang Turun, Bandara Sam Ratulangi Kembali Beroperasi Normal

Aktivitas Gunung Ruang Turun, Bandara Sam Ratulangi Kembali Beroperasi Normal

Whats New
Survei BI: Kegiatan Usaha di Kuartal I-2024 Menguat, Didorong Pemilu dan Ramadhan

Survei BI: Kegiatan Usaha di Kuartal I-2024 Menguat, Didorong Pemilu dan Ramadhan

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com