SoftBank dan Alibaba Jadi Pemilik Saham Terbesar di GoTo

Kompas.com - 23/05/2021, 17:33 WIB
Grup GoTo memayungi Gojek, Tokopedia, dan Goto Financial yang beroperasi dengan entitas masing-masing. kompas.comGrup GoTo memayungi Gojek, Tokopedia, dan Goto Financial yang beroperasi dengan entitas masing-masing.

JAKARTA, KOMPAS.com - SoftBank asal Jepang dan Alibaba asal China merupakan dua perusahaan dengan kepemilikan saham terbesar di Grup GoTo, perusahaan baru yang dibentuk hasil dari penggabungan atau merger startup raksasa Gojek dan Tokopedia.

Perusahaan raksasa telekomunikasi dan investasi SoftBank memiliki 15,3 persen saham GoTo, sementara e-commerce raksasa Alibaba sebesar 12,6 persen. Keduanya juga merupakan investor di Tokopedia.

Melansir Nikkei Asia, Minggu (23/6/2021), hal tersebut diketahui dari sebuah dokumen pengajuan GoTo kepada pihak otoritas yang di dapat oleh perusahaan media asal Jepang tersebut.

Baca juga: Respons Merger Gojek-Tokopedia Bentuk Grup GoTo, Ini yang Dilakukan KPPU

Berdasarkan dokumen itu, hanya SoftBank dan Alibaba investor yang memiliki porsi saham dua digit di GoTo. Sementara porsi saham investor lainnya hanya satu digit, termasuk investor global seperti Google dan Temasek Singapura, yang juga punya saham di Gojek dan Tokopedia.

Adapun setelah merger, sebesar 58 persen saham GoTo dimiliki Gojek, sementara sisanya 42 persen dimiliki Tokopedia.

Rencanannya GoTo akan melakukan penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) di bursa saham Indonesia dan Amerika Serikat. Menurut sumber Nikkei Asia kemungkinan GoTo akan melantai di bursa saham Indonesia terlebih dulu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Perusahaan pun dikabarkan mengincar valuasi mendekati 40 miliar dollar AS atau setara Rp 572 triliun (kurs Rp14.300 per dolar AS), nilai yang telah dicapai pesaingnya, Grab.

"Perusahaan akan bekerja sangat keras untuk integrasi pasca-merger dan kemudian mempersiapkan dual listing ini (di AS dan Indonesia). Saya sangat berharap ini akan terjadi di 2021, tetapi saat ini mereka punya banyak pekerjaan," ujar sumber Nikkei Asia.

Baca juga: Ada GoTo, Bagaimana Nasib OVO di Tokopedia?

Analis The Economist Intelligence Swarup Gupta menilai, penggabungan Gojek dan Tokopedia bertujuan untuk memperbesar pasar mereka di Indonesia. Sekaligus untuk mampu bersaing dengan rivalnya yakni Sea Group dan Grab.

"Saya percaya bahwa merger mungkin datang terlambat, karena ini bisa lebih merupakan kasus melindungi wilayah dalam negeri (Indonesia) dari pesaing yang jauh lebih besar (Sea dan Grab), yang dapat menghambat upaya untuk tumbuh di (Asia Tenggara). Oleh karena itu, merger lebih terlihat sebagai langkah defensif pada saat ini," jelas Gupta.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber nikkei
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.