Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Perhelatan Kewirausahaan, Pemanis di Tengah Euforia Penciptaan Wirausaha Muda

Kompas.com - 03/06/2021, 17:36 WIB
Ilustrasi: Wirausaha ThinkstockIlustrasi: Wirausaha

Oleh: Frangky Selamat dan Fianny Andrea

DI ATAS panggung yang berdiri megah, empat orang mahasiswa dengan semangat membara menjelaskan gagasan rencana bisnis yang mereka ciptakan di hadapan dewan juri dan tatapan takjub puluhan penonton.

Layar lebar dan sorotan lampu menampakkan jelas aura spirit muda yang tidak kenal lelah. Iming-iming hadiah uang membuat mereka makin bergairah.

Kondisi pandemi tidak menyurutkan semangat anak muda untuk menggelar kompetisi bisnis dalam protokol kesehatan yang ketat.

Selain diselenggarakan secara luring, live streaming melalui YouTube pun disediakan panitia agar mahasiswa yang tidak bisa hadir di tempat dapat tetap menyaksikan rekan-rekan mereka beraksi.

Ketika kegiatan di kampus ditiadakan, ajang kompetisi bisnis ini seolah menjadi oasis, memberikan kesegaran sejumlah mahasiswa untuk kembali beraktivitas dan menuangkan ide-ide bisnis inovatif yang mereka gagas.

Baca juga: Ini Kelemahan Wirausaha Muda Indonesia

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di tempat lain, sekumpulan siswa sebuah sekolah menengah atas tidak mau kalah dengan kakak-kakak mahasiswa. Sebagaimana tradisi setiap tahun, mereka mengadakan acara kewirausahaan dengan tajuk "Entrepreneur's Day".

Di acara itu sejumlah wirausaha muda diundang untuk berbagi pengalaman membangun dan mengelola bisnis. Selain itu akademisi dari perguruan tinggi juga diundang memberikan perspektif ilmiah bagaimana memulai usaha dengan merancang model bisnis terlebih dahulu.

Semarak kegiatan kewirausahaan di lembaga pendidikan, baik di tingkat menengah dan tinggi, menegaskan "keberhasilan" pemerintah memasyarakatkan kewirausahaan di kalangan muda.

Menumbuhkan intensi untuk mempersiapkan diri sejak dini menjadi wirausaha. Bukan menjadi wirausaha by accident, seperti kebanyakan pandangan masa lampau, menjadi wirausaha karena tidak diterima bekerja di perusahaan.

Kini saatnya menjadi wirausaha by designed yang dimulai dari proses pembelajaran di sekolah.

Intensi berwirausaha

Menumbuhkan intensi adalah salah satu sasaran yang ingin dicapai dalam pendidikan kewirausahaan di sekolah.

Intensi diyakini menjadi faktor yang dapat digunakan untuk memprediksi perilaku, yaitu berwirausaha, sebagaimana teori perilaku terencana (Theory of Planned Behavior) yang dikemukakan oleh Ajzen (1991).

Sejauh ini belum dapat disimpulkan secara bulat bahwa pendidikan kewirausahaan berhubungan kuat dengan intensi berwirausaha.

Studi yang dilakukan oleh Zhang, Wang dan Owen (2015) memperlihatkan hubungan yang positif, namun studi longitudinal (tidak dalam satu waktu tapi dalam rentang waktu tertentu) berbasis eksperimen yang dilakukan oleh Oosterbeek, van Praag dan Ijsselstein (2010) menunjukkan efek negatif pendidikan kewirausahaan terhadap intensi berwirausaha, dan tidak berdampak signifikan terhadap kecakapan kewirausahaan (entrepreneurial skill) dari para siswa.

Bisa jadi karena telah memperoleh gambaran utuh tentang dunia wirausaha justru menyurutkan semangat yang terbangun.

Beragam studi tidak dapat meyakinkan bahwa pendidikan kewirausahaan dapat berdampak positif terhadap intensi berwirausaha siswa.

Nelson dan Monsen (2014) menyimpulkan pengajaran kewirausahaan di kelas tidaklah cukup. Diperlukan kemitraan yang erat dengan berbagai bidang seperti sains, teknik, bisnis, hukum dan grup lain di dalam ekosistem kewirausahaan.

Baca juga: 19.500 Alumni Kartu Prakerja Jadi Wirausaha dan Bakal Dapat KUR

Model untuk mendorong kewirausahaan

Namun demikian Jansen dan kawan-kawan (2015) mengemukakan model yang dapat digunakan kalangan pendidik untuk mendorong intensi berwirausaha para mahasiswa, dan tentunya juga siswa di tingkat pendidikan menengah.

Model yang disebut Student Entrepreneurship Encouragement Model (SEEM) tersebut terdiri atas tiga tahap.

Tahap pertama disebut edukasi. Pada tahap ini sasaran yang ingin diperoleh adalah menciptakan kesadaran mengenai kewirausahaan sebagai pilihan karier yang selanjutnya akan mengubah sikap siswa secara positif terhadap kewirausahaan.

Sekolah harus memastikan tenaga pendidik dan fasilitas yang tersedia mendukung kewirausahaan, mengekspos role model dengan kisah suksesnya dan siswa merespons positif.

Pada tahap ini juga sekolah dan universitas wajib memberikan pelajaran pengantar kewirausahaan yang membuka perspektif baru tentang dunia wirausaha.

Kegiatan sekolah yang menyelenggarakan "Entrepreneur's Day" berada pada tahap ini.

Tahap kedua yaitu stimulasi. Sasaran yang ingin dicapai adalah mendukung siswa untuk mentransformasi ide bisnis menjadi model bisnis (business model) dan rencana bisnis (business plan). Tahap ini lebih sesuai diselenggarakan di tingkat universitas, bukan sekolah menengah atas.

Untuk mencapai sasaran itu universitas menyelenggarakan aktivitas pendukung seperti pembentukan tim pendiri usaha rintisan (start-up), mekanisme untuk validasi ide bisnis, aktivitas pitching peluang, penciptaan rencana bisnis dan pengembangan purwarupa (prototype).

Tahap ketiga yaitu inkubasi. Tahap ini begitu vital karena menentukan bisnis yang digagas dapat bertahan dan berkembang atau terhenti sebatas lomba kewirausahaan.

Universitas harus dapat memfasilitasi bisnis mahasiswa agar mereka dapat bertemu dan bekerja dengan wirausaha sesungguhnya, menyediakan ruang kerja memadai untuk beroperasinya sebuah usaha rintisan, memberikan mentoring, menyediakan jejaring yang membuka peluang baru, mengorganisasi kompetisi rencana bisnis, mendirikan program akselerasi dan menyediakan bantuan pendanaan.

Kegiatan kompetisi business plan baru sebagian kecil dari tahap inkubasi bisnis mahasiswa.

Singkat kata, universitas harus menyediakan ekosistem yang memadai agar bisnis mahasiswa yang terbilang masih bayi dapat bertahan, tumbuh dan berkembang.

Ketiga tahap yang dijalankan sebenarnya membentuk mindset wirausaha secara berjenjang dan menempa karakter wirausaha yang sesungguhnya.

Baca juga: Pemerintah Kejar Target Rasio Wirausaha 3,9 Persen Tahun 2024

Kebijakan yang mesti diambil

Jika dunia pendidikan Indonesia, di tingkat menengah dan tinggi, serius ingin mendesain dan menciptakan wirausaha dari proses pembelajaran yang tersusun secara sistematis, ketiga tahap model SEEM itu mestinya dapat dijadikan rujukan.

Sejauh pengamatan, euforia kewirausahaan di mayoritas sekolah dan universitas masih jauh dari sebuah rancangan kurikulum yang disusun secara matang.

Hura-hura acara kewirausahaan lebih kental ketimbang sebuah proses panjang dari nol yang menempa mindset dan mental calon wirausaha.

Belum lagi tambal sulam yang kerap muncul dari pemangku kepentingan terkait pendidikan kewirausahaan, seperti wacana mewajibkan pelajaran start-up digital masuk ke dalam kurikulum universitas sebagai mata kuliah wajib.

Belakangan Kemendikbud menyebutnya sebagai opsional, tidak wajib untuk semua mahasiswa.

Kembali ke acara yang diselenggarakan para mahasiswa dan siswa dalam rangka melahirkan wirausaha dari bangku pendidikan, akan selalu menjadi pemanis tanpa dapat memastikan apakah benar para peserta sungguhan ingin menjadi wirausaha, sekadar mengikuti tren atau semata tertarik pada hadiah yang ditawarkan dalam kompetisi itu. Kalangan pendidik kewirausahaan semestinya tidak membiarkan itu terjadi.

Franky Selamat
Dosen tetap Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Tarumanagara

Fianny Andrea
Mahasiswa Program Studi Sarjana Akuntansi, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Tarumanagara.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.