Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Chappy Hakim
KSAU 2002-2005

Penulis buku "Tanah Air Udaraku Indonesia"

Garuda Indonesia dan Kisah Perjuangan Indonesian Airways di Burma

Kompas.com - 06/06/2021, 10:11 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

BELAKANGAN ini muncul kehebohan dan hiruk pikuknya berita tentang maskapai penerbangan Garuda Indonesia, Sang Pembawa Bendera, yang tengah terlilit kesulitan keuangan sebagai hasil dari “salah urus” dalam pengelolaannya.

Dalam kondisi yang parah itu Garuda masih harus berhadapan dengan tantangan maha sulit pandemi Covid-19 yang tengah merajalela.

Maka bermunculanlah ide dan usulan serta saran tentang tata cara bagaimana “menyelamatkan” Garuda Indonesia Maskapai Sang Pembawa Bendera ini.

Seperti diketahui Garuda Indonesia baru terbentuk setelah hasil dari KMB yang memutuskan seluruh armada KLM, maskapai penerbangan pemerintah kolonial Belanda untuk diserahkan kepada Garuda Indonesia pada bulan Desember tahun 1949.

Baca juga: Sederet Penyebab Krisis Keuangan Garuda Indonesia

Sebelum itu sudah ada maskapai penerbangan perjuangan bernama Indonesian Airways, dikelola oleh Angkatan Udara Indonesia yang beroperasi di luar negeri.

Tidak banyak yang tahu bahwa ada cerita menarik tentang Indonesian Airways yang beroperasi di Burma untuk mendukung perjuangan Indonesia di awal awal tahun kemerdekaannya.

Setidaknya ada dua pesawat Dakota yang beroperasi sejak awal tahun 1949 di Burma dengan registrasi RI-001 dan RI-007. Pada pertengahan menjelang akhir tahun 1950, pesawat terbang Indonesian Airways yang beroperasi di Burma di tarik pulang.

Pesawat Indonesian Airways RI-007 dihibahkan untuk pemerintah Burma sebagai tanda ucapan terima kasih atas dukungan mereka selama beroperasi di sana. Sebuah tindakan yang merupakan bagian utuh dari langkah ”Air Diplomacy” yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam hal ini oleh Angkatan udaranya.

RI-007 diserahkan oleh KSAU Air Commodore S.Suryadarma kepada Bo Ne Win, Supreme Commander of the Burmese Armed Forces di Rangoon. RI-007 selanjutnya dioperasikan oleh satuan Air Transport Command dari Angkatan Udara Burma.

Pesawat RI-001 ditarik kembali ke Jakarta, karena menghargai pesawat tersebut yang merupakan pesawat terbang Indonesian Airways yang dioperasikan AURI sebagai hasil sumbangan pengumpulan dana dari Rakyat Indonesia (dalam hal ini masyarakat Aceh).

Baca juga: Kementerian BUMN Kaji 4 Opsi Penyelamatan Garuda Indonesia

Kisah rintisan penyelengaraan penerbangan sipil di Indonesia memang di pelopori oleh Angkatan Udara Republik Indonesia.

Maskapai penerbangan Indonesian Airways yang dioperasikan oleh AURI sejak awal tahun 1949 di Burma ketika itu benar benar menjalankan misi perjuangan demi dan untuk mempertahankan eksistensi Negara Republik Indonesia pada awal awal tahun kemerdekaan.

Maskapai penerbangan Indonesian Airways dengan segala kesederhanaanya berhasil memperoleh “sedikit“ keuntungan yang keseluruhannya telah di peruntukkan bagi membantu pembiayaan dukungan dana untuk beberapa perwakilan RI di luar negeri dan dukungan pendidikan Angkatan Udara di Indonesia. (Hal yang tercantum dalam uraian pada surat Sekretaris Djenderal Kementrian Pertahanan RI Mr.Ali Budiardjo bulan Oktober 1950).

Sebuah gambaran yang sangat kontras dengan Garuda Indonesia sekarang ini yang tampilannya “keren” akan tetapi tengah terlibat utang triliunan rupiah.

Teriring doa, semoga Garuda Indonesia dapat segera keluar dari kemelut yang sangat sulit ini...

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com