Kompas.com - 19/06/2021, 20:14 WIB
Ilustrasi emas SHUTTERSTOCKIlustrasi emas

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam dunia investasi, terdapat istilah diversifikasi aset.

Diversifikasi aset merupakan strategi meracik portofolio investasi ke beberapa instrumen investasi yang bertujuan untuk menyeimbangkan risiko sehingga imbal hasil yang diharapkan dapat tercapai.

Co-Founder dan CMO IndoGold Indra Sjuriah mengatakan, setiap orang tentu memiliki strategi diversifikasi aset yang berbeda-beda, karena pada dasarnya investasi merupakan hal yang personal.

"Hal ini dikarenakan ketika berinvestasi, tujuan dan profil risiko tiap orang berbeda-beda. Makanya orang juga melakukan strategi yang berbeda pula," ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (17/6/2021).

Baca juga: 5 Tips Investasi Emas untuk Investor Pemula

Menurut dia, emas yang telah dikenal sejak dahulu sebagai investasi, kini masih menarik di mata masyarakat.

Berinvestasi emas dalam bentuk logam mulia dianggap memberikan keuntungan yang menjanjikan karena harganya yang cenderung meningkat serta dinilai sebagai aset kelas yang aman.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Oleh karena itu, memiliki emas sebagai portofolio investasi dengan tujuan diversifikasi aset dapat dipertimbangkan.

“Ketika berinvestasi penting untuk melakukan diversifikasi aset karena setiap instrumen investasi memiliki risiko dan imbal hasil yang berbeda-beda. Contoh sederhananya adalah apabila kita telah berinvestasi dengan instrumen investasi yang memiliki risiko yang tinggi, maka perlu menambahkan instrumen investasi lain dengan risiko yang rendah,"jelas Indra.

Selain itu, lanjut Indra, emas sebagai instrumen investasi dengan risiko yang terbilang rendah, dapat ditambahkan dalam portofolio investasi sehingga dapat menyeimbangkan risiko.

Dia pun membeberkan ada beberapa tips yang bisa dilakukan agar dapat meraih imbal hasil yang optimal dari diversifikasi emas.

Pertama adalah menentukan tujuan. Dia menjelaskan, setiap melakukan investasi perlu untuk menetapkan tujuan dari dana yang dikumpulkan, seperti misalnya dana renovasi rumah, pendidikan anak atau pensiun.

"Dengan begitu, kita mengetahui estimasi dana yang dibutuhkan di masa mendatang sehingga dapat menganggarkan sisihan dana dari penghasilan secara rutin," jelasnya.

Baca juga: Amankah Investasi Emas Digital?

Kedua, menyesuaikan dengan usia dan profil risiko. Usia muda adalah waktu yang tepat untuk akumulasi kekayaan, sebaiknya memilih profil risiko yang lebih agresif, sedangkan semakin lanjut usia memilih profil risiko yang lebih rendah.

"Apabila seorang investor memiliki profil agresif, maka mayoritas dana dapat ditempatkan pada instrumen investasi dengan risiko dan imbal hasil yang tinggi, kemudian dapat menyisihkan 10 persen dari dana investasi untuk investasi emas. Sedangkan profil konservatif, dapat menyisihkan 30-40 persen dari dana investasi untuk investasi emas," paparnya.

Ketiga, investasi emas untuk jangka panjang. Menurut dia, harga emas membutuhkan waktu yang lama agar naik secara signifikan, sehingga investasi emas cocok sebagai investasi jangka panjang.

"Investasi emas disarankan minimal 5 tahun," ujar Indra.

Indra menambahkan bahwa sebelum memulai investasi, sebaiknya memiliki dana darurat terlebih dahulu atau setidaknya dapat menyiapkan dana darurat dan investasi secara bersamaan namun disesuaikan kembali dengan kebutuhan dan kondisi keuangan.

Baca juga: Kapan Waktu Tepat untuk Investasi Emas?



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.