Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

[TREN GAYA HIDUP KOMPASIANA] Rumah dan Obsesi Umur 40 Tahun | Membuat Taman Sederhana di Rumah | Memahami Trauma Masa Kecil

Kompas.com - 21/06/2021, 02:57 WIB
Harry Rhamdhani

Penulis

KOMPASIANA---Pada pekan lalu topik mengenai kepemilikan rumah jelas usia 40 tahun jadi pembahasan warganet di Twitter.

Ini memang permasalahan lama yang terus berulang dengan beragam premis. Intinya, memiliki rumah seakan hanyalah impian yang sulit menjadi nyata.

Bisa jadi memang kita tidak bisa menyisihkan sebagian uangnya untuk dialokasikan ke keperluan yang lebih penting salah satunya membeli rumah.

Tingginya tuntutan gaya hidup dengan keinginan yang terlalu besar membuat tidak bisa mengatur finansial secara baik.

Tapi, apakah memiliki rumah jadi suatu obsesi yang berlebihan saat ini?

1. Rumah dan Obsesi Umur 40 Serta Hal-hal Penting yang Harus Diingat

Membaca perbincangan di Twitter tentang memiliki rumah sendiri sebelum usia 40 tahun, membuat Kompasianer Elly Suryani mengapa jadi begitu ruwet dengan obsesi ketika 40 tahun harus sudah mapan, sudah punya rumah dan lain sebagainya?

Hidup memang perlu terencana dengan baik, ada mimpi dan harapan tentang masa depan itu lumrah.

Kompasianer Elly Suryani menceritakan bagaimana ia bisa memiliki rumah sendiri ketika sudah berusia 48 tahun dengan uangnya sendiri.

"Tentu saja rumah biasa, jauh dari mewah dan di kawasan tidak elit pula, pokoknya terjangkau kantong saya," tulisnya. (Baca selengkapnya)

2. Cara Membuat Taman Sederhana yang Indah dan Asri di Rumah

Memiliki rumah idaman, adalah suatu hal yang diinginkan. Membuat rumah menjadi nyaman, asri, dan indah, tulis Kompasianer Wahyu Sapta, adalah salah satu cara membuat kita betah di rumah.

Walaupun taman itu hanya sederhana, tetapi paling tidak, rumah akan menjadi adem.

Baginya, cara tersebut bisa dimulai dari membuat taman sendiri di rumah. Karena rumah tanpa tanaman atau taman akan terasa gersang dan panas.

"Melepas penat ketika pulang kerja dengan melihat taman yang asri, alih-alih bisa menjadi obat hati, anti stres, badan menjadi lebih rileks," tulis Kompasianer Wahyu Sapta.

Apa saja yang dibutuhkan untuk membuat sebuah taman sederhana di rumah sendiri? (Baca selengkapnya)

3. Memahami Trauma Masa Kecil Berkepanjangan

Hal yang mengkhawatirkan dari trauma masa kecil yang dimilikinya di masa lalu itu bisa berdampak pada seseorang ketika sudah beranjak dewasa.

Jika sudah mengalami itu dapat pula berpotensi menjadi sebuah kesehatan mental seperti depresi, gangguan kecemasan, atau dorongan bunuh diri saja. Akibatnya juga bisa menyerang penyakit fisik.

Adverse Childhood Experience (ACEs) ini berbicara soal pengalaman masa kecil mungkin banyak yang lansung mengaitkannya dengan tindakan ekstrem.

"Sebenarnya yang perlu menjadi catatan adalah kurangnya support dari keluarga atau orang-orang terdekat inilah yang bisa mengubah pengalalaman negatif menjadi lebih merugikan," tulis Kompasianer Nadhifa Salsabila. (Baca selengkapnya)

***

Ikuti beragam konten menarik lainnya seputar fesyen, hobi, karir, dan kesehatan di Kompasiana lewat kategori Gaya Hidup.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com