Kompas.com - 01/07/2021, 12:26 WIB
Petugas pengisian tabung oksigen terlihat sangat sibuk memenuhi permintaan konsumen saat kondisi darurat Covid-19 dalam dua oekan terakhir di Kota Tasikmalaya, Rabu (30/6/2021). KOMPAS.COM/IRWAN NUGRAHAPetugas pengisian tabung oksigen terlihat sangat sibuk memenuhi permintaan konsumen saat kondisi darurat Covid-19 dalam dua oekan terakhir di Kota Tasikmalaya, Rabu (30/6/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenperin Fridy Juwono mengakui terjadi kelangkaan tabung gas di beberapa pasar di wilayah Jakarta.

Dia mengatakan, kelangkaan ini terjadi lantaran tingginya permintaan tabung gas oksigen di masyarakat, tetapi tidak tahu cara pemakaiannya.

"Seperti di pasar Pramuka atau apotik, tabung gas oksigen itu habis. Tiba-tiba masyarakat banyak yang beli. Enggak tahu mereka tahu pakai atau tidak, pokoknya beli," ujar Fridy saat dihubungi Kompas.com, Kamis (1/7/2021).

Baca juga: Kemenperin: Produksi Oksigen Akan Diprioritaskan untuk Kebutuhan Medis

Padahal, menurut dia, penggunaan tabung gas oksigen biasanya hanya digunakan oleh paramedis sebagai regulatornya.

"Paramedis yang ngerti berapa sih aliran normalnya, biasanya normalnya itu 7 liter per menit atau paling parah bisa 10 liter. Ini yang kadang-kadang malah yang beli orang yang pengen aman tapi enggak ngerti cara penggunaanya,"jelas dia.

Menurut Fridy, hal ini pula yang membuat produk tabung gas selain langka namun juga menjadi mahal.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ada hukum pasarnya kan. Demandnya naik, barang menjadi langka, otomatis harga naik,"imbuh dia.

Oleh sebab itu, Fridy juga mendorong agar para distributor melakukan importasi sesuai dengan permintaan pasar.

Baca juga: Kemenperin: Tidak Ada Kelangkaan Tabung Oksigen

"Ini kan bukan barang yang lartas, artinya bebas di impor. Tidak ada pengaturan atau pembatasan, pasti pedagang itu sudah melakukan importasi itu. Kayak masker awalnya kan sedikit yang jual tapi lama-kelamaan bisa masuk, artinya memang perlu waktu saja,"jelas dia.

Sementara itu, di tengah kelangkaan tabung gas oksigen, Fridy menyakini stok kebutuhan oksigen untuk rumah sakit terpenuhi.

Dia mengatakan, pihaknya sudah menambahkan rasio kebutuhan oksigen untuk keperluan medis dan keperluan industri dari 40:60 menjadi 60:40.

"Kalau kondisi normal, rasio kebutuhan oksigen itu 40:60, 40 untuk kesehatan dan 60 untuk sektor industri. Namun karena pandemi dan tingkat kebutuhan oksigen butuh untuk medis, kita tingkatan yang medis 60 dan industri 40 persen. Artinya secara kemampuan kita ada dan enggak ada masalah untuk kebutuhan medis, aman," jelas Fridy.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.