Buruh: Indonesia Kembali Jadi Negara Lower Middle Income karena Kebijakan Upah Murah

Kompas.com - 08/07/2021, 11:40 WIB
Indonesia ShutterstockIndonesia

JAKARTA, KOMPAS.com – Laporan Bank Dunia menyatakan, Indonesia kembali ke kelompok negara lower middle income atau negara dengan penghasilan menengah ke bawah.

Laporan tersebut menyebut, Gross national income (GNI) per kapita Indonesia tahun 2020 turun menjadi 3.870 dollar AS per kapita per tahun. Padahal, tahun sebelumnya berada di level 4.050 dollar AS per kapita per tahun.

Menanggapi hal itu Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Riden Hatam Aziz, perubahan GNI ini bukan semata akibat resesi sebagai dampak Covid-19, namun terjadi akibat kebijakan upah murah yang diberlakukan pemerintah.

Baca juga: Bappenas: Indonesia Bakal Jadi Negara Berpendapatan Menengah ke Atas

“Indonesia turun kelas bukan semata-mata akibat resesi yang disebabkan pandemi Covid-19. Tetapi juga dipicu oleh kebijakan upah murah yang diperlakukan Pemerintah, seperti adanya pembatasan kenaikan upah dan dihapuskannya Upah Minimum Sektoral,” kata Riden Hatam Aziz melalui siaran pers, Kamis (8/7/2021).

Riden mengatakan, sejak awal tahun 2020 banyak daerah yang sudah tidak menetapkan Upah Minimum Sektoral (UMSK). Dia bilang, beberapa daerah yang lain seperti Jawa Barat, menetapkan UMSK tahun 2020 setelah melewati pertengahan tahun. Sementara itu, di tahun 2021 ini, hampir semua daerah tidak ada yang menetapkan UMSK.

“Ini diperparah dengan kegagalan Pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada buruh selama pandemi. Karena dalam kurun waktu 2020-2021 ini banyak buruh yang dirumahkan dengan dipotong gaji, serta adanya PHK besar-besaran di berbagai sektor industry,” tambah dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kondisi seperti ini dinilai memukul daya beli, yang pada ujungnya berdampak pada melemahnya pertumbuhan ekonomi. Riden mengimbau agar pemerintah segera memberlakukan UMSK di tahun 2021 dan mengembalikan penetapan upah minimum berdasarkan kebutuhan hidup layak.

“Jika upah semakin baik, maka daya beli masyarakat juga akan membaik. Ketika masyarakat memiliki daya beli, maka akan terjadi pertumbuhan daya beli. Sekarang ini serba susah. Mau berjualan juga jarang ada yang membeli, karena kita semua sedang susah,” kata Riden.

Baca juga: Akibat Pandemi, RI Turun Peringkat Jadi Negara Berpenghasilan Menengah Bawah Per Juli 2021

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.