Standard Chatered Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Kompas.com - 09/07/2021, 15:05 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Standard Chatered Bank Indonesia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2021 dan 2022, selaras dengan munculnya potensi perlambatan pemulihan ekonomi nasional.

Senior Economist Standard Chartered Bank Aldian Taloputra mengatakan, bank yang bermarkas di Inggris itu merevisi target pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 4,5 persen menjadi 4,1 persen pada 2021.

Untuk tahun 2022, Standard Chatered juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dari 5 persen menjadi 4,8 persen.

Baca juga: Sri Mulyani Optimistis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2021 Bisa 7 Persen

“Naiknya kembali jumlah kasus dan pengetatan kembali pembatasan mobilitas dapat memperlambat laju pemulihan, terutama untuk sektor yang terkena dampak langsung seperti pariwisata, transportasi dan akomodasi,” tuturnyq dalam keterangan tertulis, Jumat (9/7/2021).

Penyebaran Covid-19 varian Delta diproyeksi bukan hanya akan mengancam perekonomian nasional, tapi juga secara global.

“Munculnya varian baru 'Delta plus', yang berpotensi lebih menular, menyoroti bahwa varian-varian baru akan terus menimbulkan ancaman yang signifikan sampai jumlah kasus turun dalam skala global,” ujar Aldian.

Oleh karenanya, laju pemulihan ekonomi nasional bergantung kepada kecepatan pelaksanaan vaksinasi yang selaras akan mendongkrak kepercayaan konsumen.

“Pertumbuhan jangka pendek diantisipasi akan didukung oleh kebijakan pemerintah, permintaan eksternal yang kuat dan kepercayaan yang meningkat pada program vaksinasi,” ucap Aldian.

Sebagaimana diketahui, berbagai pihak juga telah memproyeksikan, lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi selama beberapa pekan terakhir akan berimbas kepada perekonomian.

Baca juga: PPKM Darurat, Sri Mulyani Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Tak Sampai 6,5 Persen

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2021 berkisar 7,1 persen sampai dengan 7,5 persen year on year (yoy).

Angka tersebut telah dikoreksi ke bawah dari proyeksi sebelumnya yang berada di rentang 7,1 persen hingga 8,3 persen yoy.

“Kita melihatnya begini kalau proyeksi ekonomi untuk kuartal II bulan Juni sudah hampir selesai kenaikan minggu kedua-ketiga PPKM mulai awal Juli, maka kuartal II masih relatif tidak terpengaruh banyak. Ekonomi juni ada sedikit pelemahan tapi tidak akan memengaruhi banyak,” tuturnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ini Kriteria Perusahaan yang Masuk Papan Ekonomi Baru Bursa Efek Indonesia

Ini Kriteria Perusahaan yang Masuk Papan Ekonomi Baru Bursa Efek Indonesia

Whats New
RUU EBT Atur Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

RUU EBT Atur Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Whats New
Pengusaha: Bukan soal Angka Upah, tapi Perubahan Regulasi yang Ganggu Iklim Investasi

Pengusaha: Bukan soal Angka Upah, tapi Perubahan Regulasi yang Ganggu Iklim Investasi

Whats New
Kemenko Perekonomian: Jumlah Startup Indonesia Peringkat 6 Besar Dunia

Kemenko Perekonomian: Jumlah Startup Indonesia Peringkat 6 Besar Dunia

Whats New
Survei Litbang 'Kompas': Bandung Jadi Kota Metropolitan dengan Indeks Literasi Ekonomi Digital Tertinggi

Survei Litbang "Kompas": Bandung Jadi Kota Metropolitan dengan Indeks Literasi Ekonomi Digital Tertinggi

Whats New
Simak 6 Ciri-ciri Lowongan Kerja Bodong

Simak 6 Ciri-ciri Lowongan Kerja Bodong

Whats New
Dinilai Tidak Sesuai Spesifikasi LKPP Bekukan 20.652 Produk dalam E-Katalog

Dinilai Tidak Sesuai Spesifikasi LKPP Bekukan 20.652 Produk dalam E-Katalog

Whats New
Ombudsman Ungkap Malaadministrasi dalam Pendataan dan Penebusan Pupuk Bersubsidi

Ombudsman Ungkap Malaadministrasi dalam Pendataan dan Penebusan Pupuk Bersubsidi

Whats New
4 Solusi Kolaborasi Anti-Basi Menghadapi Badai PHK

4 Solusi Kolaborasi Anti-Basi Menghadapi Badai PHK

Work Smart
Menakar Potensi Industri Properti Tahun Depan

Menakar Potensi Industri Properti Tahun Depan

Whats New
Liburan Jadi Lebih Nyaman, Ini Solusi Tarik Tunai Saat Berada di Luar Negeri

Liburan Jadi Lebih Nyaman, Ini Solusi Tarik Tunai Saat Berada di Luar Negeri

BrandzView
Kisah Sukses 'Brand' Fesyen ZLY, Capai Omzet Rp 5 Miliar dan Tembus Pasar Malaysia

Kisah Sukses "Brand" Fesyen ZLY, Capai Omzet Rp 5 Miliar dan Tembus Pasar Malaysia

Whats New
Hadapi Gejolak Ekonomi 2023, Wamenkeu: Optimistis, tapi Tetap Waspada

Hadapi Gejolak Ekonomi 2023, Wamenkeu: Optimistis, tapi Tetap Waspada

Whats New
Terapkan ESG, KPI Targetkan Jadi Perusahaan Kilang dan Petrokimia Skala Global

Terapkan ESG, KPI Targetkan Jadi Perusahaan Kilang dan Petrokimia Skala Global

Whats New
Gandeng MKI, PLN Genjot Percepatan Transisi Energi

Gandeng MKI, PLN Genjot Percepatan Transisi Energi

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.