KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant

Saatnya Mereset Kepemimpinan

Kompas.com - 10/07/2021, 08:03 WIB
Ilustrasi kepemimpinan di era pandemi. Dok. ShutterstockIlustrasi kepemimpinan di era pandemi.

RASANYA tidak ada ujian kepemimpinan seberat pada masa pandemi Covid-19. Bayangkan saja bila Anda menjadi menteri pendidikan. Sebelum Covid-19, tantangan agar semua anak bisa mendapatkan pendidikan yang up to date saja sudah sangat rumit.

Lalu, tiba-tiba Covid-19 datang. Sekarang, menteri pendidikan harus memastikan bahwa pendidikan dapat berjalan lancar sampai ke pelosok dengan infrastruktur yang apa adanya. Ia juga harus tetap memikirkan keselamatan dan kesehatan para guru dan murid se-Indonesia.

Hal serupa juga dialami kalangan pengusaha. Mereka yang tadinya bisa bersantai dengan clientele yang mantap tiba-tiba terkejut karena order berhenti.

Kemudian, bayangkan pula bagaimana sulitnya seorang presiden memimpin negara dengan belasan ribu pulau dan suku bangsa selama pandemi. Strategi harus dibuat, keputusan harus diambil, meskipun tidak selamanya membahagiakan semua pihak serta dengan risiko rasa percaya dan keyakinan bawahan akan kepemimpinnya jadi pudar.

Baca juga: Menjadi Pemimpin 2021

Selama 15 bulan terakhir ini menjadi periode waktu yang sangat istimewa. Krisis sosial ekonomi yang dahsyat membuat banyak pemimpin diam terpaku.

Meski demikian, ada juga pemimpin yang bangkit dan menunjukkan authenticity serta resiliency-nya. Mereka justru belajar dengan cepat, bahkan menelurkan banyak ide kreatif. Perusahaan dibuat lebih efisien dan efektif. Lantas, apa yang sebenarnya mereka lakukan?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pertama, responsif terhadap keadaan yang paling mutakhir. Mereka memperjelas sasarannya, mulai dari memproteksi kesehatan karyawan, menjaga supply chain tidak putus, hingga menjaga likuiditas perusahaan.

Bila pemimpin memiliki tujuan yang jelas serta mampu mengomunikasikannya dengan jelas pula, para pengikut akan mendukungnya dalam keadaan terjepit sekalipun. Tim akan terus bergerak maju. Crises created clarity.

Baca juga: Menciptakan Employee Well-being

Kedua, menata ulang peran mereka sebagai pemimpin dalam menghadapi kenormalan baru. Dengan disrupsi yang begitu cepat, pemimpin tidak lagi diharapkan membuat perencanaan jangka panjang yang matematis. Daya adaptasi cepatlah yang diperlukan. Dengan sendirinya, leadership game mereka pun harus berubah arah. Beberapa perubahan yang terlihat nyata adalah sebagai berikut.

  • Pembatasan komunikasi satu arah, kurangi town hall meetings, serta memperbanyak pertemuan yang diisi dengan berbagi pengalaman dan tantangan dari lapangan.
  • Mengganti rapat evaluasi bulanan dengan rapat kilat mingguan untuk mengambil keputusan penting yang tidak bisa ditunda lagi.
  • Meniadakan forecast triwulanan karena perusahaan perlu fokus pada peningkatan nilai di mata para pemangku kepentingan ketimbang pada hasil nyata yang harus terlihat dalam waktu singkat.
  • Memprioritaskan budaya perusahaan. Bila kesehatan dianggap sebagai prioritas pertama di perusahaan, apa pun konsekuensinya, seluruh karyawan harus membela dan mengimplementasikan nilai tersebut.

Pergeseran profil pemimpin

Berpangkal pada keadaan ekonomi yang tidak menentu, kesenjangan sosial, kebutuhan akan engagement, serta fleksibilitas tempat kerja, kita memang memerlukan model kepemimpinan yang berbeda.

Contohnya, model kepemimpinan dengan tingkat kejujuran yang diwarnai kejelasan. Model seperti ini dibutuhkan karena banyak brutal facts yang dihadapi dalam situasi kisruh ini.

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman

Seorang pemimpin tidak bisa memberi keterangan yang samar atau berbelit-belit alias ambigu. Tidak boleh pula ada half-truth. Bila memang ada hal yang belum diyakini oleh pemimpin, hendaknya ia mencari tahu dahulu sebelum menyampaikannya.

Informasi terkait data keuangan di tingkat negara, tingkat paparan Covid-19, dan kesanggupan rumah sakit, misalnya, perlu dikomunikasikan segamblang-gamblangnya. Pemimpin perlu meluruskan dan memberikan keterangan yang setepat-tepatnya dari berita simpang siur yang beredar di masyarakat.

Pemimpin perlu memiliki kemampuan untuk mengendalikan tim hybrid. Sejak adanya Covid-19, karyawan mulai beradaptasi dengan metode bekerja remote. Sementara itu, banyak juga perusahaan, terutama lembaga pemerintah, tetap mengutamakan pertemuan fisik di kantor sehingga situasi hybrid pun tercipta.

Bentuk kantor hybrid sungguh berbeda dengan kantor biasa yang kosong. Seorang pemimpin perlu memiliki keterampilan mengoordinasikan dan menggerakkan tim yang tidak terlihat di depan mata ini. Perlu dipikirkan cara berkomunikasi, membangun teamwork, dan memberi penghargaan terhadap prestasi di dalam tim.

If you just sit back and don’t bring your virtual teams together regularly, work streams will fall apart,” kata President and CEO of the Project Management Institute Sunil Prashara mengingatkan.

Baca juga: Membangun “The Hybrid Workplace”

Kemudian, pemimpin juga perlu bersikap optimistis, tetapi realistis. Dalam krisis seperti ini, semua mata akan memandang pemimpinnya dengan penuh harap. Pemimpin tidak boleh memperlihatkan kekhawatiran dan pesimisme. Ia juga tidak boleh memberi harapan palsu kepada para pengikutnya.

Kita bisa memberi harapan yang realistis seperti mengatakan, “the company is suffering, but we could find the silver lining in the dark cloud.” Pemimpin memang perlu sering menyebarkan berita terbaru dan mengupayakan komunikasi dua arah agar bisa meraba rasa pikiran dan perasaan para karyawan.

Kita tidak bisa menjadi loner. Bagaimanapun introvernya seorang pemimpin, kita perlu membangun kebersamaan pada masa krisis. Perlu ada sense of team yang kuat. Kita memerlukan energi yang dapat mendorong tim kita ke tujuan.

Di sini, kita memerlukan komunikasi yang intensif. Kita tidak bisa lagi menjadi pemimpin yang tidak terjangkau anak buah. Kita pun tidak bisa lagi merasa paling tahu. Para pengikut kita bisa jadi memiliki pendapat yang sangat bernilai dan sama sekali tidak terpikirkan oleh kita. Pemimpin yang bisa bertahan adalah mereka yang mendengarkan pendapat bawahannya.

Pemimpin harus pula bisa menanggulangi micromanaging dengan menguatkan trust. Anggota tim kita sudah pasti adalah orang pilihan. Kita perlu memberi mereka kepercayaan untuk lebih akuntabel ke pekerjaan mereka. Biarkan mereka memikirkan taktik pengerjaan mereka sendiri. Dengan demikian, seorang pemimpin memiliki lebih banyak waktu untuk berpikir strategis dan melihat big picture dari bisnisnya.

Jadi, 2020 dan 2021 ditandai dengan perubahan cara memimpin di muka bumi ini. Hal itu pasti membawa manfaat bagi kita semua.


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya