Top Secret di Balik Perjanjian Kerja Sama Antar Negara

Kompas.com - 11/07/2021, 11:02 WIB
Ilustrasi jabat tangan shutterstockIlustrasi jabat tangan

GARY David Cohn, biasa dikenal sebagai Gary Cohn adalah pengusaha yang sukses dan pernah menjabat sebagai Direktur ke-11 Dewan Ekonomi Nasional Amerika Serikat.

Gary Cohn, mantan Presiden Goldman Sachs, pernah pula menjabat sebagai kepala penasihat ekonomi Presiden Donald Trump dari 2017 hingga 2018.

Ada cerita menarik dari Gary Cohn saat menjabat di Gedung Putih yang diungkap oleh Bob Woodward dalam bukunya yang terkenal dan menghebohkan berjudul “FEAR – TRUMP in the WHITE HOUSE”.

Suatu hari di bulan September tahun 2017, Gary Cohn menemukan naskah surat Presiden Amerika Serikat yang dialamatkan kepada Presiden Korea Selatan. Draft surat tersebut adalah berisi keinginan Amerika Serikat untuk menghentikan kerja sama perdagangan antara Amerika dengan Korea Selatan. Kerja sama tersebut selama ini dikenal sebagai United States – Korea Free Trade Agreement (Korus FTA).

Korus, memuat tiga hal kesepakatan yaitu mencakup masalah kerja sama ekonomi, aliansi militer dan yang paling penting adalah “Top Secret intelligence operations and Capabilities”, sebuah perjanjian yang mencakup rahasia operasi intelijen mencakup masalah kekuatan operasional.

Seperti diketahui, sejak berakhirnya perang Korea sekitar tahun 1950, Amerika Serikat menempatkan 28.500 personel militer di Korea Selatan plus “the most highly classified and sensitive” Special Access Program atau SAP. Melalui SAP inilah Amerika Serikat dan Korea Selatan memperoleh informasi timbal balik mengenai banyak hal. Termasuk di dalamnya kerahasiaan tingkat tinggi tentang data intelijen dan kemampuan dari kekuatan militer berkait kepada National Security.

Salah satu yang sangat rawan adalah mengenai informasi tentang persenjataan nuklir yang dimiliki kedua negara dan tentu saja mencakup pula tentang spesifikasi dan kemampuan senjata nuklir dari Korea Utara.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Belakangan ini sudah diketahui bahwa Korea Utara telah memiliki kemampuan untuk menyerang langsung Amerika Serikat dengan menggunakan ICBM (Inter Continental Ballistic Missiles) sebagai senjata bertenaga nulir.

Informasi paling mutakhir menyebutkan bahwa ICBM dari Korea Utara dapat mencapai Los Angeles di Amerika Serikat dalam waktu tempuh 38 menit. Nah, dengan program SAP, maka pihak Amerika Serikat dapat segera memperoleh informasi dari sumber pendeteksi di Korea Selatan 7 detik setelah ICBM diluncurkan dari Korea Utara.

Baca juga: Cara Daftar Vaksinasi Covid-19 Berbayar di 8 Klinik Kimia Farma

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.