Firdaus Putra, HC
Komite Eksekutif ICCI

Ketua Komite Eksekutif Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI), Sekretaris Umum Asosiasi Neo Koperasi Indonesia (ANKI), Chief Partnership and Innovation Officer (CPIO) Kopkun Group dan Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED)

125 Tahun Koperasi, Perlu Melampaui Kebajikan

Kompas.com - 12/07/2021, 09:39 WIB
KEMENTERIAN KOPERASI dan UKM KEMENTERIAN KOPERASI dan UKMKEMENTERIAN KOPERASI dan UKM

Kisahnya, untuk membantu inisiatif Wiriaatmadja, Westerrode ambil cuti dan studi banding ke Jerman mempelajari praktik credit union atau Raiffeisen bank di sana. Sekembalinya ia perkenalkan dan implementasikan bersama Wiriaatmadja. Lalu, gagal.

Margono mengulas, hal itu karena kerja sama di Jerman itu adalah kerja sama ekonomi. Sedangkan kerja sama yang ada di masyarakat Indonesia adalah kerja sama sosial.

Itu bisa kita telusur jauh ke belakang tentang modus-modus kerjasama sosial di berbagai daerah di Indonesia. Gotong-royong di Jawa, sambatan. Gotong-royong di masyarakat Bali, subak. Di Sumatera Barat, mapalus dan lain-lainnya.

Singkatnya, soal gotong-royong, bantu-membantu, masyarakat kita punya jejak panjang yang sudah menjadi habitus sehari-hari.

David Henley (2007) dalam tulisannya “Adat dan Koperasi” mengelaborasi mendalam isu itu. Mengutip berbagai sarjana ia merangkum bahwa modus kerjasama sosial yang ada di Indonesia tidak serta merta bisa dikonversi menjadi kerjasama ekonomi dalam bentuk koperasi.

Mengutip Boeke dia mengatakan, “Koperasi sebetulnya tidak bersifat komunal, tapi korporat, kebarat-baratan, anak asuh kapitalisme dan berbasis pada ekonomi uang dan perdagangan. Tidak ada hubungannya dengan perekonomian desa, dengan tradisi dan kehidupan perdesaan sehari-hari”.

Henley melihat bahwa apa yang diserukan oleh Hatta bersifat kontra faktual, faktanya gotong royong di Indonesia itu tidak kompatibel betul bagi koperasi. Namun dalam berbagai pandangan dan tulisannya, Hatta (dan juga tokoh lain, Soekarno dan juga Soeharto) selalu mengafirmasi, bahwa gotong royong ini sebangun dengan koperasi. Sehingga tak heran bila Hatta menaruh pendidikan sebagai ujung tombak gerakannya. Sebab sistem nilai baru itu, koperasi, harus diajarkan agar mendarah daging di masyarakat.

Baca juga: Bos IMF Sebut Perlu Gotong Royong untuk Kesuksesan Ekonomi Asia

Kebajikan Sosial

Baru-baru ini Charities Aid Foundation (CAF) merilis World Giving Index (Juni, 2021). Kabar gembira buat kita, sebab Indonesia menempati rangking satu di dunia dari 114 negara dengan skor 69 persen.

Indeks kedermawanan itu terdiri dari tiga variabel: kesediaan menolong orang lain, kesediaan berdonasi dan terakhir kesediaan waktu untuk aktivitas volunteer. Dari tiga komponen itu, masyarakat Indonesia juaranya. Disusul peringkat berikutnya Kenya (58 persen), Nigeria (52 persen), Myanmar (51 persen) dan Australia (49 persen).

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.