Firdaus Putra, HC
Komite Eksekutif ICCI

Ketua Komite Eksekutif Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI), Sekretaris Umum Asosiasi Neo Koperasi Indonesia (ANKI), Chief Partnership and Innovation Officer (CPIO) Kopkun Group dan Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED)

125 Tahun Koperasi, Perlu Melampaui Kebajikan

Kompas.com - 12/07/2021, 09:39 WIB
KEMENTERIAN KOPERASI dan UKM KEMENTERIAN KOPERASI dan UKMKEMENTERIAN KOPERASI dan UKM

Melihat nilai skornya, bisa dibilang the best in the world. Sebab negara peringkat berikutnya pun tak sampai menembus skor 60an persen. Artinya, masyarakat Indonesia benar-benar termasuk orang yang baik, altruis dan penuh kebajikan.

Konfirmasi lain bisa kita lihat dari maraknya platform donasi online besutan startup tanah air. Lalu banyaknya kotak amal di berbagai tempat publik, seperti mall, swalayan, restoran bahkan warung makan. Juga berbagai aktivitas relawan di berbagai daerah saat pandemi ini. Yang terbaru misalnya penggalangan donasi RS Apung dr. Lie Dharmawan yang menembus Rp 30 miliar hanya dalam hitungan minggu.

Semua itu mengonfirmasi bahwa gotong-royong, beramal, berdonasi merupakan habitus masyarakat kita. Mungkin saja sikap bajik itu teraktivasi oleh spirit keberagamaan masyarakat.

Gallup (2009) merilis peringkat “Importance of Religion by Country”, di mana Indonesia berada di peringkat tujuh dunia dengan skor 99 persen. Artinya dari 100 orang, 99 di antaranya mengatakan agama itu penting dan hanya satu orang saja yang menyatakan tidak.

Agama mungkin berpengaruh signifikan pada sikap bajik masyarakat Indonesia. Sekali lagi, mungkin saja.

Namun, kita patut bertanya, apakah hubungan keduanya bersifat korelatif atau kausalitas. Sebabnya, masyarakat yang penuh kebajikan dan religius ini, nyatanya berperilaku tak hormat, tak bajik di lini yang lain. Contohnya, korupsi sangat tinggi.

Transparency International merilis Indeks Persepsi Korupsi kita turun, peringkat 102 dengan skor 37 (2020). Kalah dengan Timor Leste (peringkat 86/ skor 40), Malaysia (57/ 51), Brunei Darussalam (35/ 60) dan tentu saja kalah jauh dengan Singapore (3/ 85). Ternyata kita juga punya paradoks di sisi lain.

Baca juga: Indonesia Masuk 10 Besar Negara Paling Dermawan Sedunia

Kelas Dunia

Bekerja sama dengan Euricse, International Cooperative Alliance (ICA) merilis World Cooperative Monitor (WCM, 2020). Isinya daftar pemeringkatan 300 koperasi besar kelas dunia yang dilihat dari volume usaha. Sayangnya, rilisan per 2020 ini menggunakan data per 2018 dan 2017.

Dengan peringkat pertama dan kedua disabet oleh IFFCO dan Gujarat Cooperative Milk yang keduanya dari India. Ketiga dan keempat dari Perancis, yakni Agricole dan BPCE. Kemudian Zenkyoren dan Zen-noh, dari Jepang menempati peringkat berikutnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.