Ini Jenis Pajak yang Membuat Bakso Sony Hengkang dari Bandar Lampung

Kompas.com - 19/07/2021, 14:17 WIB
Gerai Bakso Sony di Jalan Wolter Monginsidi, Bandar Lampung KOMPAS.COM/SRI ANINDIATI NURSASTRIGerai Bakso Sony di Jalan Wolter Monginsidi, Bandar Lampung

JAKARTA, KOMPAS.com - Usaha kuliner Bakso Sony atau yang juga dikenal dengan Son Haji Sony memutuskan untuk menutup seluruh gerainya di Kota Bandar Lampung.

Keputusan penutupan semua gerai Bakso Sony dilakukan pemiliknya usai polemik pelunasan tunggakan pajak dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung tidak menemui titik temu.

Pemkot Lampung bahkan sampai menyegel gerai bakso karena polemik tersebut. Sementara pemilik bakso juga memasang pengumuman bahwa pihaknya tak akan lagi berjualan di kota itu.

Bakso Sony terbilang cukup legendaris di Ibu Kota Provinsi Lampung tersebut. Pemiliknya sudah merintis usaha bakso tersebut selama lebih dari 40 tahun. Jumlah gerainya pun sudah mencapai 18.

Baca juga: Jadi Sumber Polemik Riau dan Sumbar, Apa Itu Pajak Air Permukaan?

Lalu pajak apa yang membuat gerai Bakso Sony memilih hengkang dari Bandar Lampung?

Bakso Sony sendiri dianggap menunggak pajak restoran yang besarannya 10 persen yang termasuk dalam pajak dan restribusi daerah setingkat kabupaten/kota.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pengenaan pajak restoran dan rumah makan di Kota Bandar Lampung ditetapkan melalui Perda Nomor 1 tahun 2011 tentang Pajak dan Retribusi Daerah di Kota Bandar Lampung. Kemudian diperbarui menjadi Perda Nomor 12 tahun 2017.

Pajak restoran cukup familiar di masyarakat. Bagi yang sering bersantap di restoran, pasti sudah akrab dengan tambahan biaya atau pajak yang tertera dalam struk pembelian yang diberikan kasir saat membayar.

Baca juga: Simak Cara Membuat NPWP Online, Mudah dan Cepat

Kendati begitu, karena tarifnya sama-sama 10 persen, seringkali orang keliru mengira pajak restoran daerah dan dianggap sebagai pajak PPN yang merupakan pajak dari pemerintah pusat.

Dahulu, pajak restoran disebut dengan Pajak Bangunan 1 (PB1). Objek pajak ini yakni kafe, rumah makan, restoran, warung, dan jasa katering.

Tarif pajak restoran hampir sama di seluruh daerah di Indonesia, yakni sebesar 10 persen. Hal ini wajar, mengingat pemerintah pusat mengatur tarif tertinggi pajak restoran adalah sebesar 10 persen.

Pajak restoran dipungut dan dikumpulkan oleh pengusaha restoran untuk kemudian disetorkan ke kas pemerintah daerah.

Baca juga: Apa Itu Komunis: Definisi, Ciri, Sistem Ekonomi, dan Contoh Negara

Guna memudahkan pemungutannya, pajak ini dihitung satu paket alias sudah termasuk harga makanan dan minuman dari restoran pemungut.

Pajak ini berlaku untuk semua pembeli, baik yang makan di tempat atau pembelian makanan dengan cara dibungkus (take away). Artinya meski tidak menikmati fasilitas restoran, pembeli tetap harus membayar pajak.

Berdasarkan pokok Pajak Restoran yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak 10 persen dengan dasar pengenaan pajak yaitu jumlah pembayaran yang diterima atau seharusnya diterima restoran.

Tapping box

Selain pajak restoran, permasalahan lainnya yang membuat Bakso Sony memilih tutup adalah soal pemasangan alat perekaman transaksi atau tapping box. Alat ini lazim dijumpai pada restoran dan hotel yang menjadi wajib pajak.

Baca juga: Mengapa Pemerintah Hindia Belanda Melaksanakan Tanam Paksa?

Dikutip dari Tribun Lampung, Rencana penutupan seluruh gerai Bakso Son Haji Sony atau Bakso Sony di Bandar Lampung disebut tidak berpengaruh terhadap para pegawainya.

Salah seorang karyawan Bakso Sony di gerai yang masih beroperasi, mengatakan, jika nantinya rencana seluruh gerai Bakso Sony tutup, karyawan ditawari bekerja di lokasi yang baru.

"Pastinya belum tahu tempat barunya, nanti karyawannya diangkut ke tempat yang baru," kata pegawai Bakso Sony yang enggan disebut namanya itu.

Kabar mengenai seluruh gerai Bakso Son Haji Sony di Bandar Lampung, akan tutup selamanya, mencuat setelah terjadi polemik dengan Pemkot Bandar Lampung terkait pajak.

Baca juga: 7 Kota di Indonesia yang Dibangun Penjajah Belanda dari Nol

Atas kabar yang beredar tersebut, sejumlah konsumen setia Bakso Son Haji Sony kecewa dan menyayangkan rencana penutupan gerai bakso legendaris ini di Kota Bandar Lampung tersebut, oleh sang pemilik.

Respon Pemkot Lampung

Masih dikutip dari Tribun Lampung, Pemerintah Kota Bandar Lampung menegasi utang setoran pajak yang dimiliki manajemen Bakso Sony tidak akan hilang. Hal itu tegas, meskipun pihak manajemen tempat usaha itu berencana menutup seluruh gerai yang ada di Bandar Lampung.

"Bakso Sony mengenai penutupan gerainya itu hak mereka, tapi tidak akan menghapus tanggung jawab yang hingga kini belum dituntaskan itu," kata Wakil Wali Kota Bandar Lampung Deddy Amarullah.

Karenanya, agar tidak melanggar hukum, ia menganjurkan agar pihak manajemen agar membayarkan tunggakan pajak meskipun nantinya pengelola tetap memutuskan memindahkan lokasi usaha.

Baca juga: Apa Itu Demografi dan Bonus Demografi?

Ia menyebut, pihaknya tetap akan tetap melakukan penyegelan terhadap gerai Bakso Sony yang masih beroperasi bila pihak manajemen masih tidak berlaku kooperatif.

"Karena itu prosedurnya, dalam undang-undang harus menggunakan tapping box untuk mencatat penghasilan dan perekam pajak pendapatan," kata dia.

"Sederhana sebenarnya, kalau pihak manajemen mau menggunakan tapping box, masalah selesai dan kita persilakan utuk beroperasi normal," ucap dia.

Enam dari 18 gerai milik Bakso Sony telah disegel Pemerintah Kota Bandar Lampung. Penyegelan berkenaan dengan setoran pajak yang tidak optimal karena tidak menggunakan alat pencatat penghasilan tapping box.

"Penggunaan tapping box ini diatur undang-undang," tutupnya.

Baca juga: Seperti Apa Kehidupan Ekonomi Warga Palestina?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.