Asosiasi Keramik: Utilisasi Industri Keramik Terpuruk Jika PPKM Level 4 Terus Berlanjut

Kompas.com - 21/07/2021, 18:04 WIB
PPKM Level 4, Istilah Baru Pengganti PPKM Darurat KOMPAS.com/Akbar Bhayu TamtomoPPKM Level 4, Istilah Baru Pengganti PPKM Darurat

JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) menilai, jika kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 berjalan berlarut-larut berpotensi membuat utilisasi industri keramik nasional kembali terpuruk.

Ketua Umum Asaki Edy Suyanto jika mengatakan, utilisasi pabrikan telah membaik ke level 75 persen pada kuartal I/2021.

Namun demikian, pihaknya akan masuk ke skenario buruk jika PPKM Level 4 berlanjut hingga Agustus 2021.

Baca juga: Aturan PPKM Level 4: WFH Tetap 100 Persen untuk Sektor Non-esensial

"Kapasitas (produksi) drop hingga 30 persen dan ada perumahan tenaga kerja sebanyak 20.000 orang dari total tenaga kerja 150.000 orang dan kalau PPKM dilanjutkan kembali hingga Agustus, kita bisa kembali seperti PSBB ketat di awal 2020," ujar Edy saat Press Conference Wacana Pengenaan Pelarangan Beroperasi Bagi Sektor Industri Manufaktur Selama PPKM Mikro Darurat yang diselenggarakan secara virtual, Rabu (21/7/2021).

Edy menilai, penurunan produksi tersebut bisa terjadi lantaran praktik PPKM Level 4 di lapangan, tidak sesuai dengan aturan yang diberikan pemerintah.

Dia menjelaskan, di lapangan para aparat banyak yang mengimbau toko-toko bangunan untuk tutup.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Padahal, Kementerian Dalam Negeri telah memasukkan toko semen dan bahan bangunan sebagai jenis toko yang boleh beroperasi.

Dengan begitu, arus kas industri keramik nasional turut terdistrupsi.

Baca juga: PPKM Darurat Diperpanjang, IHSG Ditutup di Zona Hijau, Rupiah Lunglai

Belum lagi, kata Edy, kondisi produksi di pabrikan berjalan lancar, tetapi hasil produksi menumpuk di gudang industri dan ritel karena proses ritel terhambat.

"Jadi, per Agustus 2021 kami akan melakukan offline (pabrikan). Penurunan kapasitas di Agustus tidak bisa dihindarkan lagi," ungkap Edy.

Selain itu, Edy juga meminta agar pemerintah meniadakan minimum surcharge atau volume pamakaian minimum terkait pemakaian gas industri selama Agustus-September 2021.

Menurut dia, hal tersebut penting lantaran pabrikan akan mulai mengurangi kapasitas produksi mulai Agustus 2021.

Ia juga meminta agar industri keramik nasional diberikan diskon tarif listrik sebesar 30 persen di luar beban waktu puncak, yakni pada pukul 22.00-05.00.

Baca juga: Update Jadwal dan Syarat Naik KRL Periode PPKM Level 4

Sebab, kata dia, industri keramik harus berjalan selama 24 jam selama seminggu.

"Kami jalan terus 3 shift seminggu. Ini diskon dijalankan kembali karena efek dari PPKM ini," kata Edy.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.