China Kembangkan Yuan Digital, Bisa Jadi Ancaman Untuk Dollar AS?

Kompas.com - 25/07/2021, 17:33 WIB
ilustrasi uang digital Shutterstockilustrasi uang digital
Penulis Mutia Fauzia
|

Hal lain yang juga menjadi perhatian yakni aksesibilitas. Berdasarkan hasil riset Pew Research Center, sebanyak 7 persen penduduk Amerika Serikat mengaku tak menggunakan internet. Untuk penduduk kulit hitam, jumlahnya lebih besar, yakni mencapai 9 persen. Sedangkan untuk penduduk denganusia lebih dari 65 tahun, jumlahnya jaug lebih banyak, yakni mencapai 25 persen.

"Salah satu kerja yang kita lakukan yakni CBDC akan berada berdampingan dengan uang tunai dan pengguna masih bisa menggunakan uang fisik tunai bila mereka menginginkan," ujar dia.

Salah satu tujuan utama dari pengembangan CBDC yakni memastikan dollar AS tetap menjadi pemimpin moneter utama di ekonomi dunia.

"Amerika Serikat tak seharusnya puas denngan kepempimpinan saat ini. Seharusnya AS mampu mendorong dan mengembangan strategi yang jelas untuk menjaga posisi tetap kuat dan mengambil kesempatan dengan kekuatan dollar," sebut Professor of Finance di Graduate School of Business Stanford University.

Di Indonesia, saat ini Bank Indonesia (BI) juga berencana mengeluarkan mata uang digital atau Central Bank Digital Currency (CDBC).

Baca juga: Gara-gara Yuan Digital, Negara G7 Kebut Aturan Internasional Terkait Mata Uang

 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun demikian, Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Donny Hutabarat memastikan, CDBC belum masuk ke dalam bluerpint pengembangan pasar uang (BPPU) 2025, yang dirancang untuk mempercepat upaya pengembangan pasar uang Indonesia.

"Saat ini kita belum me-launching konsep CDBC secara konkret kepada publik," katanya dalam diskusi virtual, Jumat (25/6/2021).

Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono mennyebutkan, BPPU 2025 merupakan peta jalan pengembangan infrastruktur pasar uang, sementara CBDC berada di wilayah yang berbeda.

Selain itu, CBDC disebut sebagai insiatif baru yang berkembang di global, yang saat ini bank sentral di berbagai negara tengah mengkajinya.

"Saat ini belum punya urgensi untuk menerbitakn CBDC. Di beberapa negara (Sudah berjalan), karena refrensi penduduknya dalam memegang cash rendah. Di Indonesia urgensinya belum sebesar negara-negara itu. Konsep CBDC baru berkembang beberapa wacana," ucapnya.

Baca juga: JD.com Gunakan Mata Uang Digital untuk Bayar Gaji Karyawan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Sumber CNBC
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.