Ada PPKM, Tingkat Pengangguran dan Kemiskinan Diproyeksi Kembali Meningkat

Kompas.com - 27/07/2021, 16:01 WIB
Warga beraktivitas di pemukiman padat penduduk di bantaran Sungai Ciliwung, Manggarai, Jakarta, Minggu (28/7/2019). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGWarga beraktivitas di pemukiman padat penduduk di bantaran Sungai Ciliwung, Manggarai, Jakarta, Minggu (28/7/2019).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Ekonom Core Indonesia Akhmad Akbar Susamto memprediksi tingkat pengangguran dan kemiskinan Indonesia akan meningkat pada tahun 2021, setelah sebelumnya membaik di bulan Februari-Maret 2021.

Berdasarkan perkiraannya, proyeksi tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada bulan Agustus 2021 ini di rentang 7,15 persen - 7,35 persen. Posisi itu lebih tinggi dibanding realisasi perhitungan BPS sebesar 7,07 persen bulan Agustus 2020 dan 6,26 persen bulan Februari 2021.

"Poin utamanya adalah tingkat pengangguran terbuka lebih tinggi dibanding bulan agustus 2020 dan Februari 2021. Situasi kemungkinan akan lebih buruk dibanding pada bulan Agustus 2020. Memang selisihnya enggak banyak, tapi secara prinsip terjadi kenaikan," kata Akbar dalam diskusi virtual di Jakarta, Selasa (27/7/2021).

Baca juga: Soal Usulan Sertifikat Vaksin Jadi Syarat Masuk Mal, Ini Kata Pengelola Pusat Belanja

Akbar menyebutkan akan ada kenaikan tenaga kerja informal pada tahun 2021. Tenaga kerja informal diproyeksi menjadi makin dominan, dengan perbandingan antara tenaga kerja formal dengan tenaga kerja informal sebesar 40:60.

"Kenaikan tenaga kerja dari 43:57 menjadi 40:60. Dan saya perkirakan pada Agustus 2021 situasinya sedikit lebih buruk, antara 60-61 (pekerja non formal). Saya yakin posisinya tidak akan lebih baik dari posisi Agustus 2020," sebut dia.

Melonjaknya jumlah pengangguran membuat tingkat kemiskinan juga akan bergerak naik pada September 2021. Akbar bilang, tingkat kemiskinan terjadi karena adanya pembatasan mobilitas masyarakat sebagai dampak dari diberlakukannya restriksi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bantuan sosial pun dianggap belum mampu mengatasi keadaan.

Baca juga: KSP Sahabat Mitra Sejati Berikan Pembiayaan dan Pendampingan untuk UMKM

"Tingkat kemiskinan menurut hitungan kami, pada September 2021 tingkat kemiskinan bisa mencapai 10,25-10,45, lebih tinggi dibanding September tahun 2020 atau tingkat kemiskinan pada Maret tahun 2021," pungkasnya.

Sebelumnya pada bulan Maret, tingkat kemiskinan ini sudah lebih baik dibanding tahun 2020, meski hanya menurun tipis 0,01 juta orang menjadi 27,54 juta orang.

Sementara itu, indeks kedalaman kemiskinan menurun dari 1,75 poin di bulan September 2020 menjadi 1,71 poin di bulan Maret 2021. Indeks kedalaman kemiskinan adalah indeks yang digunakan untuk mengukur seberapa dalam kemiskinan yang dirasakan penduduk.

Adanya penurunan indeks pada bulan Maret menunjukkan, konsumsi masyarakat di bulan tersebut mengalami perbaikan mendekati garis atas dari Rp 472.525 per kapita per bulan.

Baca juga: Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 3 Persen pada 2021, Ekspor Jadi Penopang



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.