Ekonomi Tumbuh 7,07 Persen, Menko Airlangga: Lebih Tinggi dari Negara Sekitar

Kompas.com - 05/08/2021, 18:32 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bersiap menyampaikan keterangan terkait perekonomian nasional di masa pandemi COVID-19 di Jakarta, Rabu (5/8/2020). Airlangga mengatakan setelah pada kuartal II tahun 2020 ekonomi Indonesia terkoreksi 5,32 persen, dibutuhkan belanja minimal Rp800 triliun perkuartal ke berbagai sektor untuk mempersempit ruang pertumbuhan negatif. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho GumayMenko Perekonomian Airlangga Hartarto bersiap menyampaikan keterangan terkait perekonomian nasional di masa pandemi COVID-19 di Jakarta, Rabu (5/8/2020). Airlangga mengatakan setelah pada kuartal II tahun 2020 ekonomi Indonesia terkoreksi 5,32 persen, dibutuhkan belanja minimal Rp800 triliun perkuartal ke berbagai sektor untuk mempersempit ruang pertumbuhan negatif. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi sebesar 7,07 persen di kuartal II 2021 adalah pertumbuhan kuartalan tertinggi sejak subprime mortgage.

Bahkan mantan Menteri Perindustrian ini mengatakan, pertumbuhan yang diraih Indonesia pada kuartal II lebih tinggi dibanding pertumbuhan di negara-negara sekitar.

Airlangga lantas membandingkan capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan beberapa negara. Negara India hanya tumbuh 1,6 persen di kuartal II 2021, Korea Selatan hanya 5,69 persen, dan Jepang -1,6 persen.

Baca juga: Selamat Tinggal Resesi, Ekonomi Indonesia Kuartal II 2021 Tumbuh 7,07 Persen

"Perekonomian Indonesia tumbuh 7,07 (yoy) dan pertumbuhan tersebut merupakan angka pertumbuhan triwulanan tertinggi sejak beberapa waktu lalu, atau sejak subprime mortgage dan lebih tinggi dari negara sekitar," kata Airlangga dalam konferensi pers, Kamis (5/8/2021).

Airlangga menyebut, pertumbuhan terjadi karena komponen pengeluaran atau agregat demand sudah tumbuh positif di kuartal II.

Tercatat ekspor impor tumbuh 31,78 persen (yoy) dan 31,22 persen (yoy) karena permintaan domestik dan global yang melesat. Sementara konsumsi pemerintah tumbuh 8,06 persen (yoy).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Dan ini seiring dengan komitmen pemerintah dalam penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional," tutur Airlangga.

Selanjutnya, komponen pembentuk PDB lainnya seperti PMTB turut tumbuh sebesar 7,54 (yoy) seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian domestik. Membaiknya perekonomian membuat pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi.

Adapun konsumsi rumah tangga yang merupakan kontributor terbesar terhadap PDB tumbuh 5,93 persen (yoy) sejalan dengan meningkatnya optimisme masyarakat terhadap pemulihan ekonomi.

"Sektor supply semua sektor tumbuh positif menunjukkan perbaikan akibat meningkatnya permintaan domestik. Di sektor transportasi serta akomodasi, makanan, minuman tumbuh tinggi masing-masing 25,1 persen dan 21,58 persen karena mobilitas mulai tinggi," pungkas Airlangga.

Baca juga: Ekonomi RI 7,07 Persen, BPS: Ledakan Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi Berpengaruh Besar



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.