Defisit Perdagangan RI-China Rp 45 Triliun, Mendag: Terendah dalam 10 Tahun Terakhir

Kompas.com - 06/08/2021, 09:48 WIB
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi saat menghadiri St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) di Rusia. Dok. Kementerian PerdaganganMenteri Perdagangan Muhammad Lutfi saat menghadiri St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) di Rusia.

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, tren defisit perdagangan Indonesia dengan China kian menipis.

Sepanjang semester I-2021, nilai defisit perdagangan Indonesia dan China sebesar 3,19 miliar dollar AS atau sekitar Rp 45,6 triliun (asumsi kurs Rp 14.300 per dollar AS).

Kinerja itu berasal dari nilai ekspor Indonesia ke China sebesar 22,45 miliar dollar AS, sementara nilai impor China ke Indonesia sebesar 25,63 miliar dollar AS.

Baca juga: Arti Impor dan Importir dalam Perdagangan Luar Negeri

Menurut dia, nilai defisit ini terendah dalam 10 tahun terakhir, sejak ASEAN Free Trade Agreement dengan China ditandatangani pada Januari 2010 lalu.

"Untuk defisit (perdagangan) tertinggi memang masih dengan China 3,19 miliar dollar AS, meskipun ini angka terendah defisit kita dengan China mungkin sepanjang 10 tahun terakhir," ujar Lutfi dalam konferensi pers virtual terkait pertumbuhan ekonomi, Kamis (5/8/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia bilang, nilai perdagangan Indonesia dengan China sempat menyentuh angka 16 miliar dollar AS.

Namun, terus menurun menjadi 7,5 miliar dollar AS di tahun lalu, berkat peningkatan ekspor produk besi dan besi baja ke Negeri Tirai Bambu itu.

"Maka tahun ini menjadi yang paling rendah, kalau ini konsisten maka defisit perdagangan kita dengan China ini yang terendah 9-10 tahun terakhir," imbuh Lutfi.

Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Perdagangan Internasional?

Selain China, Indonesia juga mengalami defisit perdagangan dengan Australia sebesar 2,61 miliar dollar AS, yang sekaligus menjadi defisit terbesar kedua. Lalu disusul defisit perdagangan dengan Singapura sebesar 2 miliar dollar AS.

Di sisi lain, Indonesia mengalami suprlus perdagangan, seperti dengan Amerika Serikat (AS) sebesar 6,55 miliar dollar AS, yang merupakan nilai surplus tertinggi.

"Artinya terjadi pertumbuhan yang sehat karena tahun lalu total surplus kita ke AS 10 miliar dollar AS. Kalau konsisten angkanya sama dengan semester I, kita akan mendapat pertumbuhan 30 persen surplus dari AS," jelas Lutfi.

Nilai perdagangan Indonesia juga mengalami surplus dengan Filipina sebesar 3,29 miliar dollar AS dan India sebesar 2,14 miliar dollar AS.

Namun, Lufti mengaku khawatir lonjakan kasus Covid-19 di India akan berpengaruh pada kondisi perdagangan.

Baca juga: Ekonomi RI Tumbuh 7,07 Persen, Mendag: Konsumsi Membaik ke Masa Sebelum Pandemi

"Tentunya India adalah salah satu negara yang kita anggap sedikit berbahaya karena penanganan Covid-19 di sana belum terlaksana dengan baik," pungkas dia.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.