Layanan Perbankan Digital Makin Marak, Waspadai Modus Kejahatan Siber Berikut

Kompas.com - 10/08/2021, 14:40 WIB
Ilustrasi peretas. Getty Images/iStockphotoIlustrasi peretas.

JAKARTA, KOMPAS.com - Layanan perbankan digital mengalami percepatan pertumbuhan semenjak merebaknya pandemi Covid-19. Pertumbuhan tersebut terjadi pada jumlah transaksi hingga pengguna layanan perbankan digital.

Namun demikian, pada saat bersamaan ancaman kejahatan siber terkait layanan bank digital semakin tinggi. Pasalnya, layanan bank digital bisa diakses lebih mudah dibandingkan layanan perbankan fisik, yang memerlukan kartu ATM serta buku tabungan.

Sebagaimana diketahui, layanan bank digital nasabah bisa diakses oleh oknum dengan mengetahui sejumlah data utama seperti password hingga kode verifikasi OTP.

Baca juga: Inilah Perbedaan Bank Digital dan Bank yang Beri Layanan Digital Banking

Praktisi keamanan siber Teguh Aprianto mengatakan, setidaknya terdapat tiga cara utama bagi oknum untuk mendapatkan data-data penting nasabah. Pertama, melalui situs atau platform yang bisa diakses secara cuma-cuma, atau open source intelligence.

"Ini memanfaatkan sumber data terbuka, jadi misal user awam biasanya memposting data pribadi secara suka rela di di media sosial. Kemudian, website insntansi pemerintah juga terkadang ada yang mempublish itu," katanya dalam sebuah diskusi virtual, dikutip Selasa (10/8/2021).

Modus selanjutnya ialah rekayasa sosial atau social engineering. Modus ini dilakukan dengan cara memperdayai atau nasabah untuk memberikan data pribadinya kepada oknum atau penipu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Terakhir ialah kebocoran data atau data breach. Cara ini dilakukan dengan membobol sistem suatu platform atau situs untuk mengakses data para penggunanya.

"Dampaknya memang enggak langsung dirasakan. Dampaknya baru akan dirasakan beberapa waktu setelah terjadinya data breach," ujar Teguh.

Baca juga: Perizinan Bank Digital Ikuti Aturan Bank Umum

Oleh karenanya, Teguh meminta nasabah untuk lebih berhati-hati dalam mengelola data pribadinya. Nasabah didorong untuk tidak memberikan datanya kepada siapapun.

"Kita sebagai konsumen jangan pernah membagikan data-data pribadi, terutama di ruang publik, seperti di media sosial, agar terhindar dari tindak kejahatan digital," ucapnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.