Serikat Pekerja Garuda Indonesia: Masalah Perusahaan Bukan Cuma Utang

Kompas.com - 10/08/2021, 20:39 WIB
Ilustrasi pesawat maskapai penerbangan Garuda Indonesia. SHUTTERSTOCK/LEONY EKA PRAKASAIlustrasi pesawat maskapai penerbangan Garuda Indonesia.

JAKARTA, KOMPAS.com - Serikat bersama Karyawan Garuda Indonesia yang terdiri dari Serikat Karyawan Garuda Indonesia (Sekarga), Asosiasi Pilot Garuda (APG), Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (Ikagi) menegaskan permasalahan yang dihadapi maskapai tidak hanya soal utang yang sudah mencapai Rp 70 triliun.

Koordinator Serikat Bersama (Sekber) Serikat Karyawan Garuda Indonesia Tomy Tampatty mengatakan, perusahaan pada dasarnya punya masalah lain yaitu fundamental bisnis yang dinilai perlu ditata dan dikelola kembali secara optimal guna memaksimalkan pendapatan.

"Maka untuk menghadapi kondisi ini, dibutuhkan setidaknya orang yang sangat mengerti di bidang bisnis airlines. Karena fakta selama ini terkesan manajemen melakukan salah asumsi bahwa masalah Garuda hanya masalah keuangan semata,” ujarnya saat ditemui di Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (10/8/2021).

Baca juga: Serikat Karyawan Garuda: Syarat Perjalanan Masih Diskriminatif

Menurut Tomy, asumsi yang berfokus pada masalah keuangan itu, mengakibatkan manajemen hanya berkutat pada proses reengeneering bidang keuangan dan restrukturisasi utang saja, namun tidak pernah menyentuh akar masalahnya.

Ia bilang, manajemen cenderung memindahkan masalah jangka pendek menjadi masalah jangka panjang.

"Padahal masalah fundamental bisnis untuk penciptaan laba itu yang jauh lebih penting yang selama ini agak terabaikan,” imbuh dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tomy mengatakan, masalah fundamental tersebut misalnya seperti ketepatan memilih alat produksi, ketepatan memilih rute yang diterbangi, dan ketepatan people process technology yang dijalankan sehingga bisnis bisa menjadi untung.

Baca juga: Aercap Cabut Gugatan Pailit terhadap Garuda Indonesia

Menurutnya, Garuda Indonesia kedepannya juga perlu mengembangkan ecosystem aviasi dan pariwisata dalam suatu strategi bertahan dan tumbuh melalui kolaborasi dan sinergi yang kuat antara pemangku kepentingan.

"Kolaborasi dan sinegri perlu dilakukan antar BUMN/BUMD, swasta, UMKM, pemerintah serta semua stake Holder,” pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.