Kompas.com - 23/08/2021, 11:52 WIB
Ilustrasi modal, ekuitas adalah, apa itu equitas, pengertian equitas, arti equitas ShutterstockIlustrasi modal, ekuitas adalah, apa itu equitas, pengertian equitas, arti equitas

JAKARTA, KOMPAS.com - Permodalan perbankan masih berada di level yang memadai meski perbankan terus memupuk pencadangan untuk mengantisipasi risiko kredit di tengah pandemi Covid-19. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan, rasio permodalan perbankan alias Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 24,33 persen per Juni 2021.

Sebagian besar bank-bank beraset jumbo masih mencetak peningkatan CAR. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) misalnya mencatat CAR di level 18,2 persen per Juni 2021, naik dari 16,7 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal pencadangan yang dialokasikan untuk mengantisipasi risiko Non Performing Loan (NPL) mencapai 215,3 persen pada paruh pertama tahun ini, naik dari 214,1 persen.

Novita Widya Anggraini Direktur Keuangan BNI menjelaskan, posisi CAR perseroan masih lebih tinggi dibanding ketentuan regulator walau pencadangan tinggi karena diimbangi dengan peningkatan laba sebelum biaya pencadangan (PPOP) yang cukup baik yakni 23,3 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Baca juga: Cara Mengambil Uang di ATM untuk Semua Bank

"High record PPOP ini didukung oleh pertumbuhan kredit yang di atas rata-rata industri dan menurunnya biaya dana karena likuiditas dana murah yang sangat baik. Hal inilah yang menyebabkan CAR kami tidak terdelusi akibat rasio pencadangan yang kami buku 215,3 persen atau equivalen Rp 98 triliun," imbuh Novita kepada Kontan.co.id, Minggu (22/8/2021).

Selain itu, kenaikan CAR ini juga didorong oleh aksi korporasi yang dilakukan BNI pada Februari 2021 lalu dengan menerbitkan subdebt sebesar 500 juta dollar AS. Sampai akhir tahun, bank pelat merah ini memproyeksi CAR akan berada di kisaran 19 persen-19,5 persen.

Novita bilang, BNI saat ini juga terus melakukan eksplorasi langkah-langkah untuk penguatan permodalan seperti penerbitan global bond. Namun, tanpa penerbitan surat utang itu pun, dia yakin CAR masih akan bisa naik lagi karena profitabilitas perseroan yang terjaga. Sedangkan pencadangan pada semester II ini diperkirakan akan lebih stabil dari paruh pertama seiring membaiknya kualitas aset.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

BNI memandang kualitas aset akan terus membaik ke depan. Itu tercermin dari NPL dan Loan at Risk per Juni terus membaik dibandingkan akhir tahun 2020. NPL tercatat di level 3,9 persen atau turun dari 4,3 persen pada Desember tahun lalu. Perseroan menyakini ekonomi akan mengalami perbaikan pada tahun 2022. Saat itu tiba, BNI sudah memiliki pencadangan yang cukup.

Adapun PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mengalami penurunan CAR dari 19,1 persen pada Juni 2020 menjadi 17,8 persen per Juni 2021 seiring peningkatan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dari 107,9 persen menjadi 120,7 persen.

Baca juga: Bank Syariah Pakai Prinsip Bagi Hasil, Apa Bedanya dengan Bunga?

Halaman:


Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.