Ini Alasan OJK Naikkan Modal Inti Bank Baru Jadi Rp 10 Triliun

Kompas.com - 23/08/2021, 16:00 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Heru Kristiyana di Gedung OJK Jakarta, Jumat (10/11/2017).  KOMPAS.com/ACHMAD FAUZIKepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Heru Kristiyana di Gedung OJK Jakarta, Jumat (10/11/2017). 

JAKARTA, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meningkatkan syarat modal inti bagi pendirian bank berbadan hukum Indonesia (BHI) baru menjadi Rp 10 triliun, dari sebelumnya Rp 3 triliun.

Ketentuan tersebut tertuang dalam Peraturan OJK Nomor 12 tahun 2021 tentang Bank Umum yang baru saja terbit akhir pekan lalu.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan, ketentuan tersebut diambil mengingat aturan mengenai modal pendirian bank BHI sebesar Rp 3 triliun telah berlaku sejak tahun 2000 dan dinilai sudah tidak relevan lagi.

Baca juga: Aturan Segera Terbit, Simak Posisi Modal Inti Bank Digital Per Juni 2021

"(Ketentuan) modal pendirian bank baru itu sudah berapa lama. Dengan perkembangan ekonomi kita, dan terus ditambah dengan perubahan landscape, peruahan perilaku nasabah, inflasi kita sudah berapa persen," tutur Heru dalam diskusi virtual, Senin (23/8/2021).

Ia pun menjelaskan, aturan tersebut hanya berlaku untuk bank BHI yang baru akan meluncur setelah POJK Nomor 12 tahun 2021 berlaku. Dengan demikian, aturan tidak berlaku bagi bank yang sudah beroperasi atau eksisting.

Oleh karenanya, bank eksisting disebut tidak perlu meningkatkan modalnya menjadi Rp 10 triliun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, aturan mengenai modal inti Rp 10 triliun juga tidak berlaku untuk pendirian bank perantara dan bank hasil penggabungan, peleburan, pengambilalihan, integrasi, dan konversi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai penggabungan, peleburan, pengambilalihan, integrasi, dan konversi bank umum.

Baca juga: Bank QNB Penuhi Kewajiban Modal Inti Rp 3 Triliun Lebih Cepat

Berdasarkan hasil penelitian OJK, bank dapat beroperasi secara efisien, menghasilkan laba, serta memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional jika modal inti yang dimiliki berada pada rentang Rp 10 triliun.

Sementara bank dengan modal sekitar Rp 3 triliun dinilai baru bisa sekedar menghasilkan laba namun belum berkontribusi optimal bagi perekonomian nasional.

"Memang perkembangan perbankan kita, memang membutuhkan seperti itu, supaya bank bisa berkontribusi memberikan laba dan segala macam," ucap Heru.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.