Semester I-2021, PAM Mineral Catat Laba Rp 26,3 Miliar

Kompas.com - 25/08/2021, 10:36 WIB
Ilustrasi tambang. KOMPAS/ALIF ICHWANIlustrasi tambang.
Penulis Kiki Safitri
|

JAKARTA, KOMPAS.com - PT PAM Mineral Tbk (NICL) mencatatkan peningkatan kinerja operasional pada semester I-2021.

Berdasarkan laporan keruangan, NICL mencatatkan laba sebesar Rp 26,3 miliar atau naik signifikan jika dibandingkan dengan laba bersih di semester I-2020 yang masih mencatatkan kerugian sebesar Rp 1,8 miliar.

Corporate Secretary NICL Suhartono mengatakan, kenaikan kinerja ini ditopang oleh kenaikan volume penjualan dan kenaikan harga nikel.

"Selama semester I tahun ini, penjualan bijih nikel perseroan mengalami peningkatan yang signifikan, ditunjang oleh peningkatan harga komoditas nikel sepanjang semester I 2021," kata Suhartono dalam siaran pers, Rabu (25/8/2021).

Baca juga: Turun Rp 3.000, Simak Rincian Harga Emas Antam Hari Ini

Suhartono mengungkapkan, sepanjang semester I tahun 2021, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 148 miliar, sedangkan pendapatan Perseroan pada sepanjang tahun 2020 sebesar Rp 188 miliar.

“Jika dibandingkan dengan kinerja tahun 2020, pada semester I tahun ini, Perseroan telah mencapai 79 persen dari penjualan tahun lalu. Kami sangat optimis penjualan tahun 2021 ini akan jauh di atas penjualan yang telah dicapai Perseroan tahun lalu” tambah dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pada semester I tahun ini, posisi keuangan NICL mengalami kenaikan yang signifikan, dari sebelumnya sebesar Rp 106,7 miliar naik menjadi Rp 133,1 miliar atau naik sebesar 25 persen. Menurut Suhartono, ini disebabkan oleh lonjakan laba yang signifikan di semester I 2021.

Di sisi lain, total aset Perseroan sebesar Rp 177 miliar per Juni 2021 atau relatif lebih rendah dari total aset pada Desember 2020 yaitu sebesar Rp 189,7 miliar atau mengalami penurunan sebesar 7 persen. Penurunan aset tersebut dibarengi dengan penurunan utang Perseroan dari Rp 82,9 miliar pada Desember 2020 menjadi sebesar Rp 43,9 miliar per Juni 2021 atau turun sebesar 47 persen.

Baca juga: Pemerintah dan BI Perpanjang Burden Sharing, Ini Mekanismenya

“Dari sisi neraca, struktur permodalan Perseroan sangat solid dan didukung oleh pertumbuhan laba yang tinggi, Perseroan yakin dapat terus bertumbuh di masa yang akan datang” tambah Suhartono.

Suhartono mengungkapkan, propek industri nikel dalam beberapa tahun ke depan masih sangat menarik karena kebutuhan bijih nikel dunia akan terus mengalami peningkatan seiring dengan tumbuhnya industri baterai untuk memenuhi kebutuhan mobil listrik di seluruh dunia.

"Indonesia sebagai salah satu produsen bijih nikel tentunya sangat diuntungkan dalam bisnis ini. Kami optimis NICL mampu mencapai target pertumbuhan penjualan di 2021," kata  Suhartono.

Baca juga: IHSG Diproyeksi Menguat, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.