Sampai Juli, Pemerintah Sudah Tarik Utang Rp 468,1 Triliun

Kompas.com - 26/08/2021, 07:30 WIB
Menkeu secara daring dalam Konferensi Pers APBN Kita, Selasa (25/5/20w1) KemenkeuMenkeu secara daring dalam Konferensi Pers APBN Kita, Selasa (25/5/20w1)

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, realisasi pembiayaan atau penarikan utang mencapai Rp 468,1 triliun pada akhir Juli 2021.

Realisasi ini sudah sebesar 39,8 persen dari target Rp 1.177,4 triliun, atau turun 9,7 persen secara tahunan (year on year/yoy).

"Target SBN Bruto menunjukkan penurunan yang signifikan karena kita menggunakan SAL tahun lalu dan adanya penurunan nominal defisit dalam outlook APBN sehingga penerbitan SBN bruto mengalami penurunan," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Rabu (25/8/2021).

Baca juga: Negara Tarik Utang Akibat Pandemi, Sri Mulyani: Kita Yakin Bisa Bayar Lewat Pajak

Bendahara Negara ini mengungkapkan, target penerbitan SBN akan lebih menurun karena berlangsungnya skema bagi-bagi beban (burden sharing) bersama Bank Indonesia sampai tahun 2022.

Hal ini, kata Sri Mulyani, membuat target lelang SBN pada September-Desember 2021 akan mengalami penyesuaian.

"Tentu kita masih punya pilihan atas sumber pembiayaan baik berasal dari bilateral, multilateral, maupun yang berasal dari market domestik maupun global. Ini kita optimalkan terutama sesudah ada SKB III dan penggunaan SAL supaya makin memiliki struktur pembiayaan yg makin optimal," ucap Sri Mulyani.

Wanita yang akrab disapa Ani ini mengungkap, Bank Indonesia sudah berkontribusi meringankan beban bunga utang pemerintah sejak pandemi Covid-19 melalui pembelian SBN.

Tercatat, pembelian SBN BI sampai 20 Agustus 2021 mencapai Rp 136 triliun, yang terdiri dari SUN Rp 92,82 triliun dan SBSN sebesar Rp 43,19 triliun.

Namun demikian sejak April-Mei, BI tak lagi berpartisipasi dalam mekanisme greenshoe option karena pasar sudah membaik.

Baca juga: Sri Mulyani Proyeksi Pembiayaan Utang Tahun Ini Turun Rp 150,4 Triliun

"Market sudah relatively stabil dan yield menunjukkan penurunan sehingga market bisa dalam range dari target yang kita tetapkan," ucapnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, kepemilikan SBN masih didominasi oleh perbankan dan BI. Kepemilikan bank terhadap SBN melonjak dari 20 persen menjadi 25 persen.

Sementara kepemilikan SBN oleh BI tembus 22,9 persen dari 9 persen. Sedangkan kepemilikan asing menurun dari 38 persen menjadi 22 persen.

"Berarti kondisi ekonomi masih belum sepenuhnya normal karena bank masih banyak meletakkan dana masyarakat di SBN kita. Di sisi lain kita lihat kerja sama pemerintah dengan BI dengan tetap menjaga independensi dari monetary policy, akan sangat baik dalam mengelola kondisi yang masih extraordinary," pungkas Sri Mulyani.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

IHSG Ditutup Menguat 0,16 Persen, Rupiah Justru Melemah

IHSG Ditutup Menguat 0,16 Persen, Rupiah Justru Melemah

Whats New
Minyak Goreng Rp 14.000 Langka, Pengusaha Ritel Sentil Produsen dan Distributor

Minyak Goreng Rp 14.000 Langka, Pengusaha Ritel Sentil Produsen dan Distributor

Whats New
Biaya, Syarat, dan Cara Mengurus STNK Hilang atau Rusak di Samsat

Biaya, Syarat, dan Cara Mengurus STNK Hilang atau Rusak di Samsat

Whats New
Salurkan Kredit ke Sektor Prioritas, Bank Akan Dapat Insentif

Salurkan Kredit ke Sektor Prioritas, Bank Akan Dapat Insentif

Whats New
Transaksi Belanja di Malaysia dan Thailand Bisa Pakai QRIS

Transaksi Belanja di Malaysia dan Thailand Bisa Pakai QRIS

Whats New
Omicron Melonjak, Sri Mulyani: Ini Akan Jadi Perhatian agar Tak Pengaruhi Pemulihan Ekonomi

Omicron Melonjak, Sri Mulyani: Ini Akan Jadi Perhatian agar Tak Pengaruhi Pemulihan Ekonomi

Whats New
OJK Ingatkan, Hati-hati jika Ada Pinjol Ilegal 'Catut' Nama OJK

OJK Ingatkan, Hati-hati jika Ada Pinjol Ilegal "Catut" Nama OJK

Spend Smart
Perluas Layanan QRIS ke Negara Tetangga, BI Gandeng Bank Negara Malaysia

Perluas Layanan QRIS ke Negara Tetangga, BI Gandeng Bank Negara Malaysia

Whats New
Tingkat Utang RI Naik 10,8 Persen, Sri Mulyani: Lebih Baik Dibanding Negara Berkembang Lain

Tingkat Utang RI Naik 10,8 Persen, Sri Mulyani: Lebih Baik Dibanding Negara Berkembang Lain

Whats New
Targetkan 10 Juta Pohon, Mentan: Alhamdulillah, Kopi Indonesia Sangat Diminati...

Targetkan 10 Juta Pohon, Mentan: Alhamdulillah, Kopi Indonesia Sangat Diminati...

Whats New
Bank Indonesia Prediksi The Fed Naikkan Fed Fund Rate 4 Kali di Tahun Ini

Bank Indonesia Prediksi The Fed Naikkan Fed Fund Rate 4 Kali di Tahun Ini

Whats New
 IHSG dan Rupiah pada Sesi I Merah

IHSG dan Rupiah pada Sesi I Merah

Spend Smart
Lewat “Petrofin Peduli”, Elnusa Petrofin Gelar 640 CSR Sepanjang Tahun 2021

Lewat “Petrofin Peduli”, Elnusa Petrofin Gelar 640 CSR Sepanjang Tahun 2021

Rilis
Bos BI Prediksi Suku Bunga The Fed Naik di Bulan-bulan Ini

Bos BI Prediksi Suku Bunga The Fed Naik di Bulan-bulan Ini

Whats New
G20 Jadi Peluang Kampanye Pemberdayaan Disabilitas, Menaker: Mereka Sulit Dapat Kerja

G20 Jadi Peluang Kampanye Pemberdayaan Disabilitas, Menaker: Mereka Sulit Dapat Kerja

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.