Barang Tegahan Bea Cukai Tembus Rp 12,5 Triliun, Terbanyak Rokok Ilegal

Kompas.com - 26/08/2021, 11:06 WIB
Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Kemenkeu, Askolani, saat media briefing menjelaskan hasil barang tegahan sepanjang tahun 2021, Kamis (26/8/2021). Dok. Kementerian KeuanganDirektur Jenderal Bea dan Cukai, Kemenkeu, Askolani, saat media briefing menjelaskan hasil barang tegahan sepanjang tahun 2021, Kamis (26/8/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan, nilai penindakan barang ilegal mencapai Rp 12,5 triliun pada bulan Juli 2021.

Nilai tersebut meningkat dari penindakan barang tegahan di tahun 2020 sebesar 6,3 triliun maupun tahun 2019 sebesar Rp 5,6 triliun.

"Tahun 2021 nilainya mencapai Rp 12,5 triliun, naik dua kali lipat dibanding 2020 even sekarang baru bulan Juli 2021. Tentunya tendensi akan menjadi basis kami dari sisi kepabeanan dan cukai," kata Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Askolani, dalam media briefing secara virtual di Jakarta, Kamis (26/8/2021).

Baca juga: Kecewa, Sri Mulyani Rombak Jajaran Ditjen Bea Cukai

Askolani mengungkapkan, nilai barang tegahan yang berhasil diselamatkan itu berasal dari 14.000 tindakan sejak bulan Juli, termasuk Operasi Gempur.

Tindakan DJBC meningkat dari penindakan pada tahun 2020 yang mencapai 21.900 dan tahun 2018 mencapai 18.000 penindakan.

"Bulan Juli 2021 itu sudah 14.000 langkah penindakan yang kita lakukan, 50 persen (lebih tinggi) dari posisi 2020. Memang tantangan yang dihadapi (DJBC) di lapangan meningkat, itulah kenapa penegahan lebih tinggi," ucap Askolani.

Dari penindakan tersebut, barang ilegal yang paling banyak ditemukan adalah rokok ilegal. Porsinya bahkan mencapai 41 persen dari seluruh barang tegahan bea cukai sepanjang tahun 2021.

Sementara miras mencapai 7 persen, narkoba 7 persen, dan kendaraan sebesar 6 persen.

"Barang tekstil ilegal juga ada, dan kemudian obat-obatan, kendaraan darat, mesin, besi, dan lain-lain," tutur dia.

Baca juga: Cukai Rokok Naik, Pengusaha Kirim Surat Keberatan ke Jokowi

Memang kata Askolani, peredaran rokok ilegal kerap bermunculan setiap tahun. Berdasarkan kajian UGM, persentase rokok ilegal di pasaran mencapai 4,8 persen.

Meski, peredaran rokok ilegal di Indonesia lebih tinggi dibanding di Vietnam sebesar 23 persen. Namun dia menegaskan, pihaknya ingin menekan peredaran rokok ilegal menjadi hanya 3 persen.

"Kita terus melakukan untuk mengurangi seminimal mungkin, maka harapan kita ini bisa menekan level di bawah 3 persen. Tentunya kita coba membina (pelaku usaha) dan memindahkan dari ilegal menjadi legal dan meningkatkan penerimaan cukai," pungkas Askolani.

Baca juga: Bea Cukai Kembali Lelang Mobil Mini Cooper 40, Cek Jadwal dan Harganya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.