Kompas.com - 30/08/2021, 10:46 WIB
Suasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com – Melakukan trading di pasar saham memang susah-susah gampang. Tapi, jika Anda mengetahui strateginya, tentu berinvestasi di pasar modal akan mudah dilakukan, plus mendapat profit sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan.

Founder WH Project sekaligus analis Panin Sekuritas William Hartanto mengungkapkan, trading akan menguntungkan ketika investor mengetahui kapan waktu yang tepat untuk membeli dan menjual saham.

Ia juga menekankan pentingnya analisis sebelum membeli saham, sebagai senjata untuk meminimalkan kerugian.

Baca juga: Blibli Siap Susul Bukalapak IPO, Bagaimana Prospek Saham Teknologi?

“Trading itu bisa menguntungkan banget kalau kita tahu caranya. Kalau sebatas tahu emiten itu bagus, tapi belinya tidak tepat waktu, maka emiten bagus bisa jadi jelek dari sisi harga. Kalau tahu waktu yang tepat, kita bisa meminimalkan risiko,” kata William secara virtual, Sabtu (28/8/2021).

Menurut William, penggunaan analisis teknikal, orientasinya adalah jangka pendek. Dia bilang, melalui analisis teknikal, semua saham bisa diikuti pergerakannya. Berbeda dengan analisis fundamental yang menggunakan sudut pandang laporan keuangan untuk mengukur kelayakan suatu saham.

“Analis teknikal selain orientasinya jangka pendek, salah satu keuntungannya adalah saham apapun bisa kita ikuti karena yang penting adalah trennya, dan naik atau tidaknya harga saham, dan bahkan transaksinya bisa selesai satu hari,” jelas dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dia menggarisbawahi, jika seorang investor bisa mengikuti tren dengan baik, bukan hal yang aneh jika investor tersebut juga bisa mendapat saham yang naik di hari yang sama.

Hal ini juga menurut dia sangat umum terjadi di pasar modal, di hari pertama listing ada saham yang naik tinggi hingga auto rejection atas (ARA) dan kemudian mengalami penurunan yang signifikan hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB).

“Kalau bicara tren, semua saham bisa kita ikuti. Bedanya analisis teknikal dan fundamental yaitu cara mengukur target harga. Ibaratnya kapal, kapal bocor-pun bisa diikuti oleh mereka yang menggunakan analisis teknikal, yang penting ada jadwal berangkatnya. Sama seperti saham, yang penting ada momentum atau indikasi akan naik, walaupun secara fundamental saham tersebut dianggap jelek,” jelas dia.

Sebagai contoh, belakangan ini saham–saham seperti bank digital dan teknologi, secara fundamental tidak ada yang suka, karena masih mencatatkan rugi. Tetapi, kalau bicara harga saham naik, itu adalah teknikal dengan memanfaatkan momentum.

“Jadi kita menggunakan grafik untuk mengukur dan menilai target harga. Identifikasi tren juga dilakukan untuk melihat potensi penguatan atau pelemahan,” ujar dia.

Baca juga: Simak Rekomendasi dari Para Analis untuk Saham UNVR

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.