Bangun Pabrik Soda Ash, Petrokimia Gresik Gandeng PT Garam dan Unilever

Kompas.com - 02/09/2021, 20:39 WIB
Direktur Operasi & Produksi PT Petrokimia Gresik Digna Jatiningsih (kiri) bersama Direktur Utama PT Garam Achmad Ardianto, saat menandatangani nota kesepahaman di Gresik, Kamis (2/9/2021). Dok. Petrokimia GresikDirektur Operasi & Produksi PT Petrokimia Gresik Digna Jatiningsih (kiri) bersama Direktur Utama PT Garam Achmad Ardianto, saat menandatangani nota kesepahaman di Gresik, Kamis (2/9/2021).

GRESIK, KOMPAS.com - PT Petrokimia Gresik (PG) menggandeng PT Garam (Persero) dan Unilever Asia Pte. Ltd, guna menyukseskan pembangunan pabrik soda ash atau Natrium Karbonat (Na2CO3), yang direncanakan bakal beroperasi pada 2024 mendatang.

Ketiga perusahaan sudah melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman secara virtual, Kamis (9/2/2021). PG diwakili Direktur Operasi & Produksi Digna Jatiningsih, PT Garam oleh Direktur Utama Achmad Ardianto, sedangkan Unilever diwakili Inorganics Procurement Director Pratishtha Garg.

Direktur Utama PG Dwi Satriyo Annurogo mengatakan, penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan dalam rangka menjamin ekosistem bisnis rencana pembangunan pabrik soda ash. Nantinya PG akan membeli garam industri sebagai bahan baku soda ash, serta bekerja sama dengan Unilever Asia sebagai offtaker yang akan menyerap produk soda ash.

“Kerja sama dengan PT Garam ini merupakan salah satu bentuk sinergi BUMN, untuk meningkatkan perputaran perekonomian nasional sesuai dengan arahan pemerintah,” ujar Dwi Satriyo melalui keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Kamis.

Baca juga: Ini Cara Jadi Supplier di Aplikasi Warung Pangan

Dwi Satriyo mengungkapkan, pabrik soda ash berkapasitas 300.000 ton per tahun tersebut rencananya akan mulai beroperasi pada akhir tahun 2024, dan bakal menjadi yang pertama di Indonesia. Karena itu, keberadaan pabrik baru ini nantinya sangat penting dan menjadi terobosan transformatif dalam mendukung kemajuan industri kimia nasional.

Soda Ash merupakan bahan baku berbagai produk yang banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti sabun, deterjen, kertas, tekstil, gelas, keramik, kaca beserta turunannya, dan beberapa produk lain. Saat ini kata dia, kebutuhan soda ash di Indonesia sangat tinggi, namun suplai 100 persen masih dipenuhi dari impor.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Ini menjadi peluang besar, soda ash Petrokimia Gresik nantinya akan memenuhi kebutuhan pasar domestik, dan tidak menutup kemungkinan juga dapat melayani kebutuhan pasar global," ucap Dwi Satriyo.

Ia mengatakan pihaknya berkomitmen dalam memperkuat industri kimia nasional melalui strategi related diversified industry dengan mengoptimalkan pemanfaatan produk samping menjadi produk baru yang memiliki added value untuk mendukung industri lain.

“Soda Ash yang diproduksi Petrokimia Gresik lebih ramah lingkungan, karena menggunakan bahan baku CO2 yang berasal dari proses reaksi kimia dalam pembuatan pupuk urea, bukan berasal dari pembakaran (combustion) bahan bakar fosil. Ini sejalan dengan prinsip Greenhouse Gas Emission (GGE),” kata Dwi Satriyo.

Baca juga: 5.000 SPBU Pertamina Bakal Dipasang PLTS

Adapun produk samping pabrik soda ash berupa Ammonium Klorida (NH4CL), yang dapat digunakan sebagai bahan baku NPK. Dengan begitu, nantinya akan dapat mengurangi kebutuhan ZA impor untuk keperluan bahan baku NPK.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.